Sudah Salah, Ngotot Pula, Ditumbuk Muncung Kau Itu Nanti!

Foto Ilustrasi: Edo

Foto: Edo

Tampaknya masyarakat kita tengah mengalami sebuah proses dimana tidak ada lagi tenggang rasa dan saling menghargai sesama manusia. Dalam konteks berkendara di jalan raya, maka penulis yakin para pembaca semua sudah sering mengalami, dan mungkin tanpa sadar, melakukannya juga, seperti halnya yang penulis alami beberapa hari lalu.

Minggu (16/10) malam lalu, penulis tengah berkendara di Jl. Raya Otista mengarah ke Kp. Melayu, Jakarta Timur. Nah, karena hendak menuju ke Bekasi, penulis berhenti di sebuah persimpangan, untuk selanjutkan menempuh jalur angkot mikrolet M26 jurusan Bekasi-Kp. Melayu. Jalur Otista ini sudah memiliki jalur Busway, khusus Bus Trans Jakarta. Nah saat itu penulis harus menunggu giliran untuk belok ke kanan, karena lampu dalam status merah. Di belakang penulis terdapat sebuah mobil, dan juga beberapa motor. Saat tengah menunggu, tiba-tiba saja sebuah motor matik dengan pengendara dan penumpang wanita, langsung menyerobot ke sisi kanan, tepat di dekat jalur busway. Penulis hanya bisa menggelengkan kepala, bertanya-tanya jika nanti ada bus Trans Jakarta, bagaimana akibatnya?

Tak lama kemudian, lampu berubah menjadi kuning. Refleks, penulis mengecek spion kanan dan kiri. Saat melihat ke arah kanan, terlihat sekelebat sinar lampu dari arah belakang. Sepertinya sebuah motor yang tengah melintas di jalur Busway. Mata penulis pun langsung melihat ke arah motor matik yang di depan penulis, yang posisinya juga sedang menunggu di jalur Busway. Dalam sepersekian detik, apa yang ditakutnya penulis nyaris terjadi. “Tiiinnn!!!!!” Klakson panjang dari motor arah belakang motor matik tersebut berbunyi keras. Ternyata, motor matik juga, dikemudikan oleh seorang pemuda. Si perempuan yang nyaris ditabrak dari belakang pun kaget. Untungnya si pemuda pengendara matik bisa menghindari tabrakan.

“Woi! Kalau mau belok lihat-lihat dong! Mata lu kemana?!” ujar si pemuda tanpa perasaan bersalah. Saat itu, lampu sudah hijau.

“Mata lu yang kemana! Giliran gue yang maju, lihat tuh, udah ijo!!!” ujar si perempuan tak mau kalah sambil menunjuk ke arah lampu lalu lintas.

 Awalnya penulis tidak mau ambil pusing dengan urusan ini. Maklumlah, sudah mendekati pukul 23.00. Saatnya pulang, dan beristirahat. Penulis pun maju sedikit dan mengisyaratkan si pemuda untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi emosi si pemuda tampaknya sudah berada di rpm tinggi. :D

“Apaan lagi lu? Mau ikut campur?” katanya sambil menyorot dengan tatapan tajam  ke arah penulis. Setajam silet (halahh….:P)  Yah apa boleh buat, penulis pun mematikan mesin redbastard, dan menghampiri si pemuda tersebut. Awalnya si pemuda hendak kabur, tapi penulis langsung menekan tuas rem belakang, dan langsung memutar kunci motornya ke posisi off (pengalaman lihat pak pulisi nih. :D)

“Lo udah salah, pake acara ngotot. Kan lu yang pake jalur busway? Masih merasa bener?” tanya penulis dengan logat ala James Bond asal Tapanuli Utara.

“Yah tapi lihat-lihat dong bang! Kan saya dari belakang!” ujar si pemuda tak mau kalah.

“Justru lu yang dari belakang, yang harus mengalah. Kan lu yang bisa jaga jarak. Lu ngerti aturan lalu lintas gak? Atau kita mau ke kantor polisi saja?” lanjut penulis lagi, kali ini dengan logat setenang pendekar Samurai Takeshi si Lion Man. :D

Belum selesai penulis berbicara, tiba-tiba saja seorang bapak pengendara motor bebek, dengan jaketnya yang panjang sampai ke paha, langsung mencak-mencak ke si pemuda. “Hey, An****! Kau sudah salah, masih ngotot pula! Sudah, jalan sana kau! Bodoh kali kau! Belum pernah ditumbuk muncung kau itu ya?!” ujarnya dengan nada melengking bagaikan pengisi suara Telenovela zaman lawas. Walah, penulis malah mendapat “rekan kerja” dadakan nih. :D

Si pemuda pun melanjutkan perjalanan dengan bahasa tubuh yang sedikit menantang. Akhirnya penulis melanjutkan perjalanan, begitu juga dengan si bapak dan mbak pengendara matik tersebut.

Nanti kalau terjadi kecelakaan, supir Bus Trans Jakarta yang disalahkan. :(

Selama perjalanan, penulis berpikir, apakah perilaku masyarakat sudah begitu bobroknya? Apakah si pemuda tersebut tidak berpikir, seandainya saja ia menabrak motor matik di depannya, bakal terjadi kecelakaan yang bisa berakibat fatal, bahkan merengut nyawa? Sudah tidak adakah empati di jalan raya Jakarta ini? Media sering mengatakan betapa Masyarakat benci dengan koruptor. Tapi bukankah merampas hak untuk berkendara dengan aman dan nyaman juga sama dengan koruptor? Jadi tidak ada perbedaan dong, antara pengendara yang tidak tertib, dan koruptor bukan? Sama-sama merampas hak orang lain.

Perilaku menyimpang ini (melakukan sesuatu yang salah, tapi tidak merasa bersalah) bisa jadi disebabkan oleh minimnya tindakan tegas oleh aparat, atau bisa juga karena sudah begitu banyaknya jumlah kendaraan bermotor, sehingga sudah sulit diatur dengan kondisi yang ada. Tapi jika ini terjadi terus menerus, maka akan terjadi konflik horisontal. Dan niscaya, jika lagi terjadi hal di atas, para biker alay harus siap mengalami, apa yang diucapkan oleh si bapak, “Belum pernah ditumbuk muncung kau itu ya?!” alias main hakim sendiri. Berkendaralah dengan empati brada n sista, hargai orang lain, hargai nyawa manusia di jalan raya. (hnr)

About these ads

25 comments on “Sudah Salah, Ngotot Pula, Ditumbuk Muncung Kau Itu Nanti!

  1. ZEGALA YANG BERKAKI EMPAT BIZA DIMAKAAAN…
    KECUALI KAKI MEZA…
    ITUPUN KARENA KERAZZZ…

    ZEGALA YANG ADA DI LAUT BIZA DIMAKAAAN…
    KECUALI KAPAL ZELAM…
    ITUPUN KARENA KERAZZZ…

  2. kalo pola perilaku masyarakat udah “bengkok parah” dimana para leader/pemimpin ny jg “bengkok parah” maka tunggu lah waktu ny daerah tsb dihapuskan dr bumi ini…singkat kata bala bencana besar yg akan menelan si baik hati maupun si buruk hati/ si bersalah maupun si benar…ane pernah dengar ceramah di tivi om, bahkan telah tertulis di Al-Qur’an diceritakan sebuah negeri berlimpah rejeki akan tetapi sebagian besar masyarakat telah “bengkok” maka di hapuskan lah mereka dr muka bumi…karena melakukan hal yg salah pun malah di anggap benar, malah dilakukan berjama’ah alias bersama-sama padahal tau itu hal yg salah tpi membohongi diri sndiri dan menganggap itu benar…
    *serem om amit-amit jangan sampe dah negeri yg dimaksud adalah Indonesia tercinta ini…ingat lah kembali tsunami aceh…sekejap tersapu rata…itu lah yg terjadi ketika KUASA TERTINGGI TURUN TANGAN…ampun jangan dah…jangan sampe deh

    • @virus, amin bro, semoga kita semua dihindarkan dari malapetaka. Semoga juga pemimpin yang korup dibinasakan, dan rakyatnya gak ikut-ikutan korup. Yuk mulai sebarkan virus berkendara dengan empati kepada orang-orang yang terdekat. Jangan jadi korban/pelaku dulu, baru kapok.
      @Rohmans, mulut artinya bro. hehehe…. :D

  3. xixixixii….. lucu juga bah, ada kata2x muncung/mulut.zyukurlah belum terjadi. kalau zempat terjadi bakalan ada yg jadi tape.

  4. OOT
    jadi ingat waktu kemarin mudik :p lagi santai2 riding tiba2 angkot yg ngetem di sebelah kiri berbelok ke kanan (masuk ke jalur gw) secara tiba2, reflex langsung ngebanting motor ke kanan.. untung di sebelah kanan lagi gada kendaraan.. -BackStagE- pun sempat berhenti beberapa meter di depan angkot tersebut dan melototi angkot tersebut, si supirnya pun enggan maju.. hmmm -.-

    • maxud hati ingin tak gebrak itu angkot mumpung pake sarung tangan denga ‘punuk’ carbon.. tapi diurungkan karena angkotnya enggan maju dan malah bisa menimbulkan rasa khawatir bagi penumpang, akhirnya ditinggalkan saza.. :p

  5. itulah, prasarana yg tidak layak dan penegakan hukum yg minim membiarkan kita berakhir dgn konflik sesama pengendara di jalan. Pastilah kita pernah atau akan ngadepin alay soon or later di jln, tapi yg paling bersalah ya jelas yg berwenang untuk bikin bagus prasarana dan jaminan hukum…

    transportasi JKT sangat men-diskon kualitas hidup… cape euy..

  6. banyak banget yg kayak gitu…. dan yakin, orgitu akan ngulangin lagi, somewhere….tinggal kapan ada orang ygnampol tuh muncung….

  7. Terakhir saya liat manusia jakarta (masih) patuh & tertib lalu lintas sekitar th 2002-an. Ditahun itu kbetulan saya terbang ke pulau lain utk bekerja. Saya kaget! Melihat habit manusia dipulau tempat saya bekerja tsb membawa kendaraan (motor) seenak udele. Kluar dr gang/jalan tidak melihat kanan kiri. Berhenti dilampu merah melewati batas garis. Pake spion hanya 1 biji (kanan/kiri ok). Saya berkata pd diri sendiri & teman2 seperantauan, kl org2 dipulau ini gak tau aturan. Tahun 2006 saya kembali plg kekampung halaman dan apa yg terjadi? Saya melihat persis habit pengendara motor dipulau tempat saya bekerja sebelumnya terjadi juga di kampung halaman saya tercinta ini (jakarta) bahkan lebih parah! Krn jumlah motornya 10x lipat lebih besar jumlahnya. Dari saya sih sarannya adalah, galakan kembali aturan lalu lintas yg tentunya itu harus dari Polisi sbg pihak yg s/d saat ini menurut saya masih disegani laaah.. Krn kalo bicara benahin dr diri sendiri.. rasanya sampai kiamat pun tidak akan pernah berubah. Salam anak jalanan :)

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s