Mau Mudik atau Bunuh Diri?

Pemudik bermotor memadati jalan. foto: Eyang Edo

Judul di atas bukanlah sentimen pribadi saya terhadap arus mudik yang bikin kemacetan dimana-mana. Sebaliknya justru itulah bukti keprihatinan saya terhadap perilaku pemudik, khususnya yang menggunakan sepeda motor. Adalah pengalaman saya selama 2 hari (18-19/8), yang kebetulan solo riding menuju Ciater dan balik lagi ke Bekasi. Jalur yang saya lalui, sebagian besar memang jalur utama dan alternatif pemudik. Di jalur inilah saya merasakan betapa mayoritas, walaupun tidak semuanya, benar-benar terlalu sembrono mengemudikan motornya.

Sabtu (18/8), Sang surya belum memerlihatkan wajahnya saat saya saya mulai memacu redbastard (red n250) meninggalkan kota Bekasi. Memasuki jalur kalimalang menuju Cibitung, saat angka di arloji sama masih menunjukkan 4.30 pagi, sudah terlihat rombongan pemudik bermotor memacu kendaraannya. Sebagian besar membawa barang bawaan. Entah apa isinya, yang pasti banyak cara mereka lakukan untuk menampung barang tersebut. Entah menggunakan backpack dan memanggulnya. Atau mengikatnya di bagian belakang, samping bahkan depan sepeda motornya. Sayangnya, karena alasan keselamatan, saya tidak berani mengambil foto sambil berkendara. Percaya atau tidak, redbastard tidak bisa saya pacu lebih dari 60 kpj. Alasannya yah itu tadi, banyak pemudik motor yang memenuhi ruas jalan Cibitung-Karawang. Nah disinilah keprihatinan saya dimulai.

Pemandangan “biasa” adalah melihat satu motor, entah itu bebek/matic dengan 3 penumpang yang sarat barang bawaan. Sesekali saya melihat sepeda motor bebek yang dipenuhi barang. Lalu ada kejadian yang bikin miris di pagi yang masih buta itu. Di tengah cuaca yang dingin, saya berusaha menjaga jarak diantara “kepungan” para pemudik bermotor. Tiba-tiba, di depan saya, sebuah motor bebek berjalan santai, padahal itu di lajur kanan. Sesaat jempol kiri ingin menekan tombol klakson, mata saya menangkap gerakan diantara perempuan penumpang motor dan si pengendara (mungkin suami & istri). Demi topan dan badai, ada kaki mungil yang tiba-tiba saja menjuntai keluar. Kaki itu dibungkus dengan celana panjang khas bayi. Mata saya memandang kaki mungil itu tak henti. Makin miris saja ketika melihat warna-warni  kaos kaki tersebut. terbayang wajah si kecil yang ketiduran, diantara himpitan badan sang bunda & ayah. Saya tidak habis berpikir, bagaimana mungkin bayi sekecil itu bisa menahan dinginnya pagi itu. Toh saya yang menggunakan vest protector dan jaket tebal saja masih merasa dingin. Yang bikin miris lagi, si bapak yang mengendarai motor, seenaknya saja memotong jalur orang lain, bermanuver mendadak dan terkadang berpindah lajur tanpa menyalakan sein. Beberapa kali saya memberikan high beam untuk menandakan keberadaan saya, tidak digubrisnya. Inilah tipikal pengendara kacamata kuda. Tidak melihat sekitar, hanya tertuju ke depan saja. Akhirnya, khawatir karena perilakunya dapat menyebabkan saya celaka, terpaksa klakson saya bunyikan. Kaki mungil yang terjuntai itu sempat memberikan gestur kaget karena klakson itu. Tapi apa boleh buat, mudah-mudahan dengan itu sang ayah bisa lebih waspada.  Semoga si bayi tidak apa-apa.

Yang aneh adalah ketika memasuki kawasan Karawang Ring Road. Bagi yang suka berkendara ke arah Bandung via Karawang pasti tahu jalur pintas ini. Yang bikin saya bingung, mayoritas para pemudik justru lurus ke  kota Karawang. Padahal dengan mengikut jalur ini, menghemat waktu tempuh karena ring road ini jalur lurus tanpa persimpangan dan lampu lalu lintas sepanjang (kira-kira) 8 kilometer. Nah loh, berarti para pemudik yang menggunakan motor ini tidak mengetahui jalur mereka sendiri? *tepok jidat* Di Karawang Ring Road, adalah “keanehan” yang saya temui; beberapa pemudik motor yang berkendara santai tapi di lajur kanan. Padahal, lajur kirinya kosong. Tak sedikit pula yang berkendara dengan lampu utamanya redup. Miris.

Pengalaman yang paling edan dan memancing emosi tingkat tinggi adalah jalur Purwakarta-Wanayasa-Jl. Cagak. Karena dijadikan jalur alternatif mudik, maka banyak mobil dan bus antar kota yang melalui jalur berkelok ini. Nah disinilah saya kembali harus menahan emosi dan nyaris melepas sisi buruk saya sebagai orang batak. :D Bayangkan saja, ketika sebuah bus tengah menanjak pelan dan berada di tikungan, ada sebuah motor bebek yang ditumpangi oleh bapak dengan istri dan 1 orang anak, asyik saja menyalip bus tersebut. Sepanjang tikungan, motor itu berada di samping bus! Entah apa jadinya jika ada kendaraan dari arah berlawanan.  Lalu ada pula motor skutik berboncengan (lagi) yang ngos-ngosan berusaha untuk menyalip mobil yang tengah menanjak, dan seenaknya masuk ke ruang diantara mobil tersebut dan bus di depannya. Bahkan saya sendiri nyaris menjadi korban dari pengendara Vixion yang ngotot menyalib bus di depan, namun tidak dapat, dan akhirnya seenak udelnya nyelip diantara roda depan redbastard & bemper belakang bus. Demi menghindari manuver-manuver maut semacam ini, akhirnya saya selalu memberikan “foot signal” setiap kali ada motor mau menyalip. Jika masih ada yang nekat, redbastard pun meraung. Dan terbukti, langkah terakhir selalu manjur. :D

Dengan beban berlebihan, keseimbangan & akselerasi pasti berkurang. foto: eyang Edo.

Kejadian manuver maut ini, hampir setiap saat saya temui. Beberapa kali, nyaris adu kambing di tikungan, karena melihat ada motor yang seenak udelnya nyalib mobil/bus di tikungan. Mereka tidak kasih lampu dim maupun lampu sein. Jujur, tak terhitung saya menggertak dengan membentuk gerakan dengan tangan kanan seakan hendak memukul atau dengan kaki kanan seakan hendak menendang. Ini manjur untuk memaksa mereka masuk lagi ke belakang mobil/bus. Hal yang saya lakukan ini memang tidak patut ditiru, tetapi jika ini tidak dilakukan, bisa jadi saya menjadi korban. Namun aktivitas ala orang batak yang emosional ini sepertinya membawa efek jera. Puluhan pemudik bermotor di belakang saya, mulai tertib, tidak berani lagi memaksakan menyalip. Thanks God it worked.

Lalu bagaimana dengan pengemudi mobil? Banyak juga yang tidak tertib. Beberapa saat sebelum tiba di pertigaan Jl. Cagak-Subang-Ciater, hampir semua mobil di depan saya menyeruduk mengambil jalur kanan. Saya pikir, gila ini mobil semua! Dan ternyata benar saja. Tidak lama kemudian, mobil-mobil yang menyerobot jalur kanan itu, harus berhenti, dan membuat kemacetan sesaat karena harus balik lagi ke lajur kiri diakibatkan ada kendaraan dari arah berlawanan. Coba kalau terjadi tabrakan, bakal ada kejadian maut lagi di musim mudik ini. Bodoh!

Saat berendam air panas di Ciater, saya jadi berpikir, inikah yang dinamakan mudik sebagai tradisi? Melakukan apapun, demi pulang ke kampung halaman, meski harus meregang nyawa sekalipun? Apakah sepadan? Apakah harus menunggu menjadi korban kecelakaan, baru sadar pentingnya berbagi di jalan? Apakah hilangnya 50an nyawa setiap hari selama arus mudik tidak membuat orang lebih berhati-hati? Sungkem ke orang tua itu wajib, dan memang merupakan sebuah kebanggaan bisa pulang dari rantau ke kampung halaman. Tetapi harap diingat, kita ingin pulang ke kampung halaman, bukan ke kuburan. Berhati-hatilah di jalan mudikers.(hnr)

About these ads

12 comments on “Mau Mudik atau Bunuh Diri?

  1. ane stuju ama abang satu ini…. sebagian besar pengendara R2 cara berkendara pake “kaca mata kuda” ditambah makin banyaknya yang tidak sadar menggunkan lampu jauh (high beam) bikin silau pengendara didepannya, yang begini bikin kesel kalo di jalan, dengan tidak mengindahkan pengendara yang lainnya.

    Miris……… :(

  2. mari kita salahin polisi yang dengan sangat mudahnya ngeluarin sim…. atau banyaknya pengemudi tanpa sim…. dan pengemudi ber SIM tapi tanpa pengetahuan berlalu lintas dengan baik di jalan (karena nembak gak pake tes)….

    makanya jalanan ajang pembantaian dan kesemrawutan….
    welkom to the sucks

  3. spt mudiknya ponakan saya dr jkt, bw istri dan anaknya, baru ketahuan keesokan harinya setelah sampai di bandung, mur shok blk hilang satu. untung saja msh selamat sampai rumah. ntah gimana di jalannya.

  4. kl di jawa mungkin krn kontur perjalanannya dominan rata jadi ga terlalu berbahaya,,tp coba degh pake gaya gitu kl mau mudik ke sumatera yang ada sampe kampung nangis darah hahaha

  5. hahaha cerita di artikel nya lucu mas bro,banyak orang itu banyak juga karakter nya,yang mudah dibkin susah trus yang susah dibikin mudah,yang dilarang tai tetap dikerjakan yang tidak dilarang tapi tidak dikerjakan,nah itu lah manusia mas bro,yang waras ngalah aja lah mas bro

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s