Balada “Mike The Mechanic”

mechanics“Saya udah capek mas. Masak, ngebohongin konsumen mulu? Bos saya, si pemilik bengkel aja udah angkat tangan. Jadi kami, mekanik, yang kena batunya.” Jawaban itu diberikan oleh salah seorang mekanik yang kebetulan bertemu dengan penulis beberapa waktu lalu.

Mekanik ini, sebut saja namanya “Mike” :D, merasa sudah kehabisan stok sabar dalam menghadapi lambannya suplai suku cadang produk salah satu korporasi terbesar roda dua di Indonesia. Padahal, dia bekerja di bengkel resmi yang diharapkannya bisa memberikan ketersediaan suku cadang orisinal.  Tapi kenyataan berkata lain.

“Sebelumnya, saya kerja di bengkel kecil, menangani banyak jenis dan merk motor. Nah harapannya, pindah ke bengkel resmi supaya bisa lebih fokus ke satu merk dan produk. ” ujar Mike tentang alasan dia pindah ke sebuah bengkel resmi. Pemuda ini juga berharap bisa memberikan pelayanan lebih baik kepada pelanggannya. “Asumsi saya, bengkel resmi pasti sedia suku cadang yang lebih banyak, dan kalaupun harus nunggu, gak butuh waktu  lama”.

Kekecewaan Mike bermula ketika masa kerjanya sudah mendekati 6 bulan. Perlahan namun pasti, dia kerap menemukan adanya suku cadang yang tidak tersedia di bengkel tempat dia bekerja. Ia mengaku saat suku cadang yang dicari masih bersifat tidak vital, rekan kerjanya kerap mencari di tempat lain. “Kadang teman-teman saya harus nyari ke tempat lain, atau bengkel yang bisa diajak kerjasama. Tapi kalo berkali-kali, si bengkel juga gak bakal mau. Dia juga kan butuh untuk stok. Kalo udah begitu, saya  terpaksa minta konsumen bersabar”.

Mike seringkali harus pasang badan, ketika suku cadang yang diminta tidak juga disediakan oleh Dealer utama. “Kita kontak ke pusat, minta suku cadang. Mereka bilang butuh waktu. Tapi sampai 1 bulan, itu suku cadang belum tersedia. Lah saya janji sama konsumen 1 bulan juga. Nah, pas konsumennya datang, mau ngomong apa coba? Kalo udah mentok begitu, saya angkat tangan. Biarin deh konsumen ngomel, nasib jadi mekanik, yah begitu.” Ujarnya mengingat masa itu. Mike menambahkan, sejak itu, ia selalu mewanti-wanti si konsumen perihal ketersediaan suku cadang. “Saya bilang mereka, saya cek dulu. Tapi kalopun tersedia, saya gak jamin barangnya bakal datang cepat”.

Ketersediaan suku cadang merupakan hak konsumen.

It’s the little things that fix the big problem. Gambar: recruitingcycle.com

Masalah jarangnya suku cadang diperparah dengan produk-produk baru yang menurutnya tidak tahan lama. “Entah karena pemakaian, atau karena memang kualitasnya sudah menurun. Misalnya, gear set, minimal kan 1-2 tahun pemakaian. Lah ini baru 7 bulan rantainya sudah kendur dan gir-nya sudah tidak optimal. Contoh lain, rantai keteng.  Percaya atau tidak, beberapa kali saya harus mengganti rantai keteng yang baru dipake 1 tahun. Itu komponen harusnya tahan 2-3 tahun pemakaian.  Kacau deh.”

Puncaknya adalah ketika bengkel Mike menemui banyak masalah di segmen motor matik. “Entah kenapa, motor matik banyak masalahnya. dan umur suku cadangnya juga cenderung pendek. Sekali lagi, saya gak menyalahkan yang punya merek, tapi kami (mekanik) juga serba salah. Kalo kita suruh ganti, konsumen bilang kok cepet banget diganti? Kalo gak diganti, nanti ada masalah. Yah kita jadi bahan omelan deh. Dari situ saya merasa sudah cukup, gak kuat ngelayanin konsumen kalo terus menerus caranya begini. Cepat rusak, tapi susah dapat penggantinya. Makan hati deh mas.” tambah Mike penuh emosi.

Bekerja di sebuah bengkel resmi, tidak melulu memberikan kisah pahit. Terkadang pengetahuan yang didapat juga bermanfaat. Contohnya pemahaman akan teknologi terbaru. “Saat di bengkel kecil,  saya cuma bisa baca koran/majalah untuk mengetahui teknologi terkini tentang mesin motor. Tapi sejak masuk ke bengkel resmi, selalu ada pelatihan rutin untuk produk-produk terbaru. Dari situ, banyak sekali informasi yang saya dapat. Terutama juga tentang dimana kelemahan produk-produk baru tersebut. Jadi, saya diajarkan juga antisipasinya. Setiap produk baru mau keluar, pasti kita diberikan pelatihan.  Minimal mengenal karakter mesin, kelistrikan hingga rangkanya. Selanjutnya ada lagi pelatihan untuk troubleshooting. ” Ujar Mike mengenang saat di bengkel terdahulu.

Mike tidak memungkiri bahwa dirinya senang dengan apa yang didapatnya dari pelatihan tersebut, namun di sisi lain, ia tidak kuat terus menerus menghadapi masalah tanpa solusi. “Andai saja mereka (produsen) siap menyediakan suku cadang, saya sih enjoy saja. Saya rela pulang agak malam dari bengkel, yang penting motor konsumen selesai dan gak ada komplain lagi. Tapi sayangnya, hingga saya mengundurkan diri, tidak ada solusi dari masalah itu.”

Mike kini sudah pindah ke bengkel resmi lain, yang lebih besar. Masih sama-sama produsen Jepang juga, tapi beda merk. Mungkin Mike adalah salah satu dari segelintir mekanik yang berdedikasi membantu masalah konsumen pengguna motor. Sayangnya, mungkin si produsen motor lebih sibuk menjual dan menyuplai produk baru, ketimbang menyediakan suku cadang. (hnr)

About these ads

14 comments on “Balada “Mike The Mechanic”

    • 99% mengarah ke honda, dimana onderdil sulit, kualitas motor menurun, hanya menang model dan harga murah aja, ehh nama besar juga ding…jualan nama besar gak jualan motor

  1. wkwkwkwkw di kalimantan barat khususnya dikota ane pontianak, dah pasti honda yang parah suku cadangnya gak ada stok klo pesan ampe berbulan
    kebanting ama yamaha yang selalu tersedia suku cadang klo pesan 2 minggu dah ada, malah sebelum 2 minggu barang udah datang.
    *pengalaman pribadi pesan cari spare part untuk motor dirumah

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s