Three Some – Kisah Tiga Suami (3)

Bagian Terakhir Dari Tiga Tulisan.

Catatan: Atas permintaan, nama-nama para narasumber, tempat tinggal dan lokasi pekerjaan tidak dapat disebutkan. Namun demikian, cerita di bawah adalah nyata adanya.

Nurdin. PHK Bukan Akhir Segalanya.

Untuk Nurdin (30), pepatah Air Susu Dibalas Air Tuba benar-benar jadi kenyataan. Bagaimana tidak? Dedikasinya kepada perusahaan selama ini benar-benar dianggap angin lalu. Akhir tahun 2008 lalu, perusahaan tempatnya bekerja, mencampakkannya begitu saja. Gaji terakhirnya tidak dibayar, sementara semua karyawan sudah menerima gaji. Dan yang lebih parah, sang office boy mengaku disuruh bos besar untuk meminta motor yang digunakannya.  Si bos besar, tidak bisa ditemui. Jika dihubungi lewat telepon, selalu mailbox alias tidak terhubung. Bahkan buku berisi data-data para distributor, suplier dan rekanan lainnya diambil sang bos. Padahal bertahun-tahun ia mengumpulkan data itu. Akhirnya Nurdin, dengan campuran kesal, marah dan sakit hati mengembalikan motor. Ia meninggalkan kantor tanpa menuliskan surat pengunduran dirinya. Baginya, perlakuan ini sudah terlalu kejam.

Akhir tahun 2008 lalu menjadi masa-masa pahit bagi Nurdin. Di kala istrinya tengah  mengandung, ia diperlakukan macam sampah. Awalnya ia sempat stress, bingung dan putus asa. Mau ke mana lagi ia mencari pekerjaan? Apalagi di awal tahun. Dan yang paling penting, bagaimana ia mempersiapkan kebutuhan untuk sang bayi dan juga kesehatan istrinya selama mengandung. Namun Nurdin tidak berlama-lama dalam kondisi itu.

Setelah berefleksi terhadap segala kesalahaannya, ia lalu mulai bangkit. Bermodalkan nomor-nomor yang tersimpan di telepon selulernya, ia kembali menghubungi rekan kerja, suplier, mantan klien hingga pekerja kasar. Ia mulai hilir mudik mencari proyek dengan mengendarai vespa bututnya. Jika si vespa mogok, ia menggunakan kereta atau angkutan umum lainnya. Jerih payahnya terbayar ketika salah seorang mantan klien menghubungi dan meminta dirinya untuk mengajukan penawaran instalasi listrik untuk sebuah proyek luar negeri. Nurdin seakan dipecut untuk lebih bersemangat lagi. Jika proyek ini berhasil, ia akan mendapat keuntungan yang cukup besar. Ia dapat membeli kembali motor sport yang diambil kantor atau dia bisa menginvestasikan kembali untuk proyek berikutnya. Dia pun mengajukan tawaran dan melobi pemilik proyek. Tak lama kemudian, ia diberikan kepercayaan untuk proyek tersebut.

Singkat kata, dengan bantuan para rekan kerja dan koleganya, Nurdin berhasil mengerjakan proyek sesuai dengan budget dan waktu yang diminta. Pengalamannya di lapangan benar-benar memainkan peranan dalam proyek ini. Ia mampu bernegosiasi harga dengan para suplier, distributor bahkan para fabricator atau pembangun instalasi. Kini, sambil menunggu sisa pembayaran dari proyek tersebut, ia tengah mencari proyek baru. Beberapa waktu lalu ia sempat mengatakan kepada saya, “Kalo saja bukan karena bayi di kandungan bini gue, mungkin gue gak akan bisa sesemangat ini nyari job. Emang kalo nyari rejeki buat anak, ada aja deh jalannya”.

Satrio, Mamat dan Nurdin adalah contoh betapa hidup di Jakarta keras adanya. Tidak pandang bulu, tidak pandang usia. Jika tidak mampu bertahan dengan cerdas, akan terlindas oleh keserakahan dan kesewenang-wenangan orang lain. Tapi paling tidak, untuk saat ini mereka bertiga berusaha sebaik mungkin menghadapi cobaan. Masing-masing punya cita-cita dan berusaha mewujudkannya. Bayi di kandungan istri, adalah pecut produktivitas ketiga kawan tersebut. Semoga saja, mereka mendapatkan apa yang diimpikan.

Untuk Satrio, Mamat dan Nurdin, Selamat Berjuang Kawan!

3 comments on “Three Some – Kisah Tiga Suami (3)

  1. terimakasih mas/mbak info-info, mudah-mudahan juga bisa menginspirasi kita-kita kaum pekerja yang tengah dihadang krisis finansial untuk tetap optimis. Salam kenal mas/mbak (?)

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s