Three Some – Kisah Tiga Suami

Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan.

Catatan: Atas permintaan, nama-nama para narasumber, tempat tinggal dan lokasi pekerjaan tidak dapat disebutkan. Namun demikian, cerita di bawah adalah nyata adanya.

Pembicaraan mengenai PHK, dipecat secara paksa, bahkan beralih profesi adalah bagian dari menu sehari-hari pembicaraan warga ibukota. Dari warung kopi, kantin kampus hingga tempat mangkal angkutan umum, obrolan dengan topik tersebut, seakan menjadi bunga diskusi yang tak pernah mati. Kebetulan saja, tiga orang kawan saya mengalaminya. Ada yang dipaksa berhenti dari pekerjaan tanpa dibayar gajinya, ada juga yang istrinya terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Namun ada juga yang justru ingin berhenti dari pekerjaannya dan beralih profesi. Hal ini lah yang menginspirasikan saya untuk menulis tentang mereka. Bukan tentang keputusasaan mencari kerja. Bukan juga tentang demo PHK. Tetapi tentang perjuangan para suami dan calon ayah mencari nafkah untuk sang anak yang masih di dalam kandungan.

Satrio. Wong Edan!
Teman saya yang pertama tinggal di sebuah daerah istimewa di pulau Jawa. Namanya Satrio, 29 tahun. Ia bekerja sebagai freelance desainer grafis di Jakarta. Untuk itu, ia harus rela berpisah dengan sang istri selama dua minggu tiap bulannya.
Selama dua minggu itu pula, setiap pagi, dengan sepeda motornya, ia hilir mudik Bintaro-Cakung untuk mengerjakan tata letak majalah yang dikerjakannya. Rute perjalanan berganti menjadi Bintaro-Cengkareng jika majalah sudah siap dicetak. Sebab, percetakannya terletak di Cengkareng. Setelah itu barulah ia pulang, melepas kangen ke the bini –sebutannya untuk sang istri.

Rutinitas ini sudah hampir enam tahun dilakoninya. Dari mulai bujangan hingga menikah. Pendapatannya pun lumayan. Kira-kira tiga kali dari standar UMP (Upah Minimum Provinsi) Jakarta. Dengan durasi kerja hanya dua minggu, pastinya banyak orang yang ngiler dengan pekerjaan ini. Apalagi di saat dampak krisis global mulai terasa. Namun, Satrio justru punya pikiran lain. Ia tidak berencana untuk selamanya menjadi pekerja desain yang bergadang semalaman serta bersabar menghadapi kelakuan “mahluk” yang bernama klien. Dia ingin tidur nyenyak di malam hari, tidak stress dikejar deadline serta punya waktu banyak untuk keluarga. Tapi di satu sisi, ia juga ingin mendapatkan penghasilan yang mencukupi. Ia sadar untuk mewujudkan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dirinya kini sudah beristri dan menunggu kelahiran anak pertamanya. Tidak semudah ketika ia bujangan dulu. Untungnya, sang istri mendukung idenya untuk membuka usaha.

Setelah melalui pertimbangan finansial, mental dan spiritual, Satrio memutuskan untuk kembali membuka usaha. Kali ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan bidang pekerjaannya. Ia akan membuka usaha pangkas rambut! Benar-benar tipikal Satrio. Selalu membuat orang bengong dengan karyanya. Dulu teman-temannya dibuat bengong mendapati dirinya cekatan mendesain, padahal latarbelakangnya adalah akademi pariwasata. Kini idenya makin senewan (bagi sebagian orang). Tapi suka atau tidak, Satrio sudah mulai mengeksekusi ide tersebut.
Berbulan-bulan ia meriset tentang usahanya. Mulai dari jumlah pesaing, biaya mengontrak, biaya gaji tukang cukur hingga kemungkinan pendapatannya. Semuanya dicermati. Kini ia mulai masuk ke tahap selanjutnya. Sebuah kios kecil sudah disewanya. Interiornya sudah mulai ditata. Bahkan terakhir saya hubungi beberapa minggu lalu, ia tengah merekrut tukang-tukang cukur. Belum selesai sampai di situ, ia menjanjikan akan memberikan pelayanan menarik bagi konsumen. “Pelayanan yang berbeda dari tempat potong rambut lain” , ujarnya.  Sayangnya, rahasia bisnis itu enggan dikemukakannya. Semuanya sedang dalam proses.

Lalu bagaimana dengan istrinya? Satrio pun sudah memikirkan itu. Nantinya ketika usia kehamilan sang istri sudah mendekati hari H, maka istrinya akan mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini. Setelah melahirkan, sebuah toko kelontong kecil akan siap dikelola sang istri untuk mengisi kesibukan. Saat ini, ia sudah menyiapkan rancangan toko serta anggaran yang dibutuhkan. Benar-benar penuh perencanaan bukan? Untuk awal, ini merupakan sebuah bukti keseriusan Satrio mewujudkan cita-citanya.

Satrio paham betul semuanya masih jauh dari kesuksesan. Ia pun tidak secepatnya hengkang begitu saja dari dunia desain grafis. Suka atau tidak, ia masih harus berproses. Dalam rencananya, jika dalam waktu 6-8 bulan usaha potong rambutnya mampu menghidupi dirinya, maka ia akan “tutup buku” di Jakarta. Ia akan pulang kampung, mengelola usahanya bersama sang istri dan bercengkrama bersama anak. Itulah cita-cita sederhana Satrio.

bersambung

2 comments on “Three Some – Kisah Tiga Suami

  1. Hmmm…. ni baru opening ya… he.he..he…
    kayaknya seru neh, tapi terlalu to the point lu tapi seru..seru…
    jadi penasaran pengen baca sambungannya. buruan dong nulis lagi!

  2. udah tu dab.. silahkan lihat bagian kedua dan ketiga..
    Memang sengaja dibuat pendek aja. Nanti kalo kepanjangan, lu gak baca lagi. he…3x!
    Iya sabar ya… ini lagi nulis nih… 😀

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s