DISKUSI HELM SNI: SARAT INFORMASI, KURANG SOSIALISASI

Ketika mendapat pemberitahuan bahwa ada undangan menghadiri seminar sosisalisasi tentang SNI pada helm pengendara roda dua, saya langsung antusias sekaligus cemas. Selain karena pemberitahuan oleh bro Peter, Ketua KHCC (Karisma Honda Cyber Community) mendadak (H-2), penulis pun khawatir akan sedikitnya perwakilan komunitas yang hadir pada saat seminar tersebut.

Ditemani oleh bro Andry, seorang blogger dan juga staf JDDC (Jakarta Defensive Driving Consultant), kami berdua akhirnya tiba di lokasi pada hari Senin (23/02). Bertempat di Hotel Menara Peninsula, dekat bilangan Slipi, kami tiba beberapa menit sebelum acara dimulai. Dan kecemasan penulis pun terbukti. Kami berdua hanya melihat beberapa orang saja dari komunitas/klub roda dua yang hadir. Hanya seorang rekan dari Yamaha Scorpio Club dan Suzuki Thunder Indonesia yang kami temui. Sisanya? Kami tidak tahu siapa saja yang hadir. Bahkan rekan-rekan media yang biasa meliput event otomotif pun tidak kami jumpai.

Acara yang berjudul “MEMBANGUN BUDAYA STANDAR MELALUI PEMBERLAKUAN WAJIB SNI HELM” ini diadakan oleh Forum Komunikasi Kehumasan BSN (Badan Standardisasi Nasional). Duduk di barisan paling depan, penulis berusaha untuk mengecek kembali ke arah barisan belakang, apakah rekan-rekan komunitas dan klub roda dua sudah datang. Ternyata tidak ada. Akhirnya, hal ini pun menjadi keresahan penulis, dan subyek ini menduduki posisi teratas untuk pertanyaan saat sesi tanya jawab nanti.

Dimoderatori oleh penyiar cantik dari Metro TV, Fifi Alyida Yahya, diskusi berjalan sedikit membosankan karena peserta seakan-akan mendengarkan ceramah kuliah umum. Namun untungnya, hal ini tidak berlangsung lama ketika giliran Thomas Liem, perwakilan dari Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI) mulai angkat bicara.

“Sepertinya kita harus lebih interaktif. Saya biasanya kena “gempuran” pertanyaan. Dan itu justru lebih efektif. Jadi presentasi saya singkat saja”, ujarnya membuka pembicaraan. Thomas pun bicara lebih banyak perihal kesiapan seluruh industri helm, baik kecil, menengah hingga atas untuk menyambut pemberlakuan SNI pada helm per 1 April 2010 nanti. Tak lupa ia sedikit gelisah akan importir helm luar negeri yang menganggap SNI hanyalah sebuah Emboss pada helm. “Padahal, untuk mendapatkan SNI itu, kami dari AIHI harus jatuh bangun mengikuti standar yang ada. Kita harus dapat ISO dahulu, lalu mengikuti berbagai persyaratan lainnya yang menuntut perubahan manajemen, peralatan produksi hingga dana. Benar-benar perjuangan!”, tambah pria berkacamata ini. Wajar jika Thomas berapi-api menjelaskan perihal SNI ini. Tahun lalu, selaku staf PT. DMI (Dinaheti Motor Industri), ia memersilahkan RSA (Road Safety Association) untuk datang ke pabrik PT. DMI dan melihat sendiri bagaimana uji SNI terhadap helm-helm lokal diberlakukan. “Sebenarnya sosialisasi yang paling ampuh, tidak hanya ke pihak produsen dan terkait. Tetapi juga ke kelas grass roots atau pengguna itu sendiri. Sekarang ini, terjadi resistansi terhadap helm SNI, atau anggapan remeh terhadap SNI karena sosialisasinya tidak tepat. Jadi itulah yang harus kita lakukan”, tambahnya lagi.

Suasana Diskusi

Coba lihat, ada komunitas bikers kah?

Saat sesi tanya jawab tiba, saya mendapat giliran kedua. Pertanyaan pertama saya arahkan ke pihak BSN yang diwakili oleh ibu Dewi. Saya katakan, “Mengapa tidak ada undangan ke  komunitas/klub roda dua? Padahal materi dari diskusi ini sangat berkaitan dengan unsur safety riding bagi kami”. Lebih lanjut saya mengatakan, “Sekedar informasi, anggota mailing list kami berjumlah tiga ribu. Jika saya posting hari ini perihal informasi tersebut, minimal 5% saja membaca, berarti sudah 150 orang tersosialisasi perihal SNI ini. Nah ibu dan bapak bayangkan jika ada lebih banyak komunitas/klub yang diundang, maka informasi ini akan lebih banyak tersebar dengan waktu yang lebih cepat”. Lalu saya tanyakan juga kepada pihal kepolisian yang hadir perihal penerapan sanksi kepada pengguna helm “cetok”. Tak lupa  penulis menanyakan perihal sanksi bagi pengimpor helm yang tidak menerapkan SNI di helm mereka.

Pertanyaan pertama dijawab cukup diplomatis oleh pihak BSN. Penulis tidak mendapatkan jawaban yang tuntas perihal mengapa kabar ini tidak sampai ke komunitas roda dua. Pihak BSN yang diwakilli oleh bu Dewi mengatakan, “kami sangat senang ketika ada komunitas roda dua yang datang dan memberikan masukan. Kami juga bersedia bekerjasama dengan komunitas untuk sosialisasi ini. Dan kami siap, jika komunitas/klub roda dua ingin mendiskusikan hal ini”. Kalimat terakhir merupakan respon dari saran saya yang menyampaikan apakah pihak BSN bersedia mengadakan diskusi dengan komunitas/klub roda dua.

Pertanyaan-pertanyaan dari bro Andry perihal pemeringkatan helm, kampanye road safety juga direspon secara kurang tepat. Perwakilan dari Departemen Perindustrian, pak Toni mengatakan “Kami tidak mungkin merekomendasikan merk-merk tertentu kepada masyarakat”. Bro Andry tampak kurang puas perihal jawaban tersebut. Padahal, maksud bro Andry adalah ditampilkannya berbagai jenis helm yang sudah ulus uji SNI di situs Internet BSN. Dan kampanye yang dimaksud adalah kampanye penggunaan helm, yang ber-SNI. Bukan mempromosikan merk tertentu.

Seorang guru, Bambang, juga mempertanyakan perihal akibat penerapan helm SNI kepada para pengojek. “Mungkinkah, bagi para pengojek diberikan edukasi, lalu diberikan helm ber-SNI sebagai bagian dari edukasi tersebut”, ujar pengajar di SMK 56 Pluit ini. Menjawab pertanyaan tersebut, pihak BSN mengatakan usulan ini cukup bagus, dan bisa dipertimbangkan untuk dilakukan bekerja sama dengan produsen.

Bambang, seorang guru dari SMK 56 bertanya kepada panelis.

Selain itu, Kombes Pol Bambang Sukamto SH, MH selaku Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Babinkam Polri, kembali menekankan bahwa sanksi denda merupakan sebuah peringatan kepada pelanggar akan resiko kecelakaan. “Sanksi, Tilang, Denda dan lainnya merupakan sebuah Prevention System atau peringatan kepada pengguna bahwa pelanggaran yang mereka lakukan, misalnya tidak menggunakan helm yang layak, dapat mengakibatkan kecelakaan fatal. Harga yang harus dibayar jika terjadi kecelakaan, tidak sebanding dengan yang dibayarkan saat tilang”.

Diskusi ini akhirnya harus berakhir dengan acara makan siang bersama. Namun saya dan bro Andry menyempatkan diskusi dengan staf BSN dan beberapa biker untuk keikutsertaan kampanye helm SNI akhir Maret nanti. Satu kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa sosialisasi helm ber SNI harus lebih membumi dan mengena. Mudah-mudahan janji pihak BSN yang bersedia menyediakan waktu berdiskusi dengan komunitas roda dua di lain hari. (hnr)

18 comments on “DISKUSI HELM SNI: SARAT INFORMASI, KURANG SOSIALISASI

    • huahaha…. bener sob… gue dan andry geleng-geleng kepala. pertanyaan kita dijawab secara singkat, tapi tidak padat. Yang ada malah bengong kita. Andai saja koboiers banyak yang datang, selain makan banyak, pastinya menghujam dengan segala pertanyaan. Huehehehe….

      smart bastard!

      https://bodats.wordpress.com

  1. salam bro, saya juga hadir dalam acara sosialisasi kemarin. Saya rasa yang mempunyai peranan agak penting di lapangan yaitu Departemen Perdaganagan terutama dari Direktorat Pengawasan Barang Beredar tidak hadir. Padahal dengan kehadiran dari beliau2 di direktorat tersebut masyarakat pembeli sekaligus pemakai helm dapat diberi rambu2 (mungkin semacam rating seperti yang bro andry dari JDDC sampaikan) dan dapat dijelaskan mengenai sangsi yang diberikan kepada agen, distributor, toko, sampai pengecer terkecil apabila masi menjual helm non SNI emboss. Pemakai sekaligus pengguna tentunnya tidak akan membeli helm jika tidak ada yang menjualnya, sedangkan pabrikan juga tidak mungkin melakukan aksi turun ke lapanagan secara langsung untuk menjual helm 1 per 1 ke seluruh wilayah NKRI.
    just my 2 cents..
    Salam

    • BETUL BRO RONNY. NAH ITU JUGA YANG JADI PERTANYAAN SAYA. KAYAKNYA PERIHAL SNI HELM, TIDAK ADA KOORDINASI ANTAR LEMBAGA TERKAIT. KALO INI TERJADI, LAGI-LAGI YANG JADI KORBAN, KITA INI, MASYARAKAT PENGGUNA RODA DUA.

  2. Peserta diskusi yg diundang aja kurang tepat! lantas bagaimana para pengendara sepedamotor mengetahui informasi ini?? progam jalan tapi tidak terarah, hmmmmmm….seharusnya acara seperti ini harus dibuat penyuluhan yang tepat tdk usah terlalu eksklusif….biar para yang berprofesi sebagai tukang ojek juga tidak minder untuk datang:-).

    jika benar2 mau disosialisasikan, pandangan dari bro rony sangat bagus tuh….diberikan aja sanksi buat para penjual yang masih menjual helm non SNI.

  3. Helm SNI harusnya sudah menjadi harga mati bagi pengguna roda dua, seperti halnya superman harus berjubah atau spiderman harus bertopeng. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan kepolisian sebagai pengawas lapangan harusnya lebih giat merangkul produsen agar produk2 helm seluruhnya berstandar SNI serta dapat tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat. Di Samarinda, sudah diberlakukan pelarangan penggunaan helm cetok meskipun belum mewajibkan helm berembos SNI. Tapi anehnya, di Jakarta sendiri masih sering dijumpai helm cetok asal nemplok di kepala. So?

  4. wowww…sosialisasi tanpa komunitas biker??
    ibarat bikin peraturan buat ngejebak para biker dong?
    lutunya pemerintah kita…heuheuheuheeh…

    Apakah emang ud ada kerjasama antara pengusaha helm dengan pihak berwajib(pemerintah dll) dalam rangka menggusur pengusaha helm yg kecil/bermasalah, sehingga setiap pengusaha helm kudu mengadopsi standar SNI…

    heuheuheuhehu

    cuma sekedar celetohan…

    terimakasih

  5. gimana dgn yg sudah punya helm (belum ada logo SNI) dgn merek yg sama (yg skrg sdh berlogo SNI). apakah ini jg pelanggaran ?

    • Sebenarnya sih, secara realistis, kayaknya gak mungkin bagi seorang petugas lapangan, mengecek helm pengendara secara satu per satu. Lha wong ngatur lalu lintas aja dah stress. 😀

      Secara pribadi, saya mengkhawatirkan justru celah inilah yang akan dimanfaatkan oleh oknum korup yang memanfaatkan ketidaktahuan pengendara dan kelemahan UU No.22 Tahun 2009.

  6. Ping-balik: Helm SNI Seperti Apa? « kilaubiru™

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s