MotoGP Qatar; Fantatis!

Siapapun yang menonton pertarungan kelas elit para pembalap di ajang MotoGP, Senin (12/04) dinihari tadi pantas puas dan tidak menyesal. Bagaimana tidak? Beberapa jam sebelum aktivititas bekerja dimulai, justru disitulah MotoGP “memaksa” para penggemarnya untuk membuka mata menyaksikan para pembalap favoritnya.

Ada dua hal yang menarik dalam seri pembuka musim 2010 ini. Pertama, dimulainya kelas Moto2, dimana pembalap menggunakan mesin 4 langkah, 600cc. Hal ini berbeda dengan kelas 250cc yang menggunakan mesin 2 langkah, kapasitas 250cc. Dan yang kedua, kelas MotoGP itu sendiri yang diisi oleh kombinasi yang lebih menyegarkan dibandingkan musim sebelumnya.

Dan tentu saja yang menjadi primadona adalah kelas elit, MotoGP itu sendiri. Dari susunan pembalap saja, belum ditebak, siapa yang akan mendominasi musim ini. Selain para veteran jawara macam Rossi, Stoner, Lorenzo, Hayden dan Pedrosa, hadir pula para rookie atau pendatang baru. Namun para pendatang baru ini, justru jawara di kelas sebelumnya. Sebut saja Ben Spies, yang menjuarai World Superbike 2009. Lalu ada Marco Simoncelli, juara kelas 250cc 2008 dan tak ketinggalan Hiroshi Aoyama, juara kelas 250cc tahun lalu. Ditambah lagi dengan hadirnya Alvaro Bautista, Hector Barbera dan Aleix Espargaro yang masing-masing menjadi juara dan runner up di kelas 125cc, serta lima besar di kelas 250cc. Lalu apa yang terjadi?

Lorenzo dan Simoncelli.

Fantastis! Itulah kata yang tepat untuk menyebutkan situasi balapan tadi malam. Semuanya terjadi di luar “kebiasaan” selama ini. Pedrosa, yang masih harus beradaptasi dengan suspensi Ohlins, ternyata mampu melejit ke urutan kedua, pada lima lap awal. Alhasil, ia harus bertarung sengit dengan V46 a.k.a Valentino Rossi untuk memperebutkan posisi kedua. namun, ketika Rossi sedang menteror Pedrosa, Stoner justru terjatuh di lap ke enam dan tidak mampu lagi melanjutkan pertarungan. Alhasil, peta pertempuran pun berubah total. Hal ini membuat Rossi semakin ngotot mengejar Pedrosa. Setelah beberapa kali mencoba overtake (atau mungkin sekedar taktik menggertak?) Pedrosa, “The Doctor” berhasil menyalipnya. Namun bagi Pedrosa, drama belum berhenti.

Pedrosa, yang telah didahului Rossi, harus berjuang mempertahankan posisi kedua, dengan gempuran dari Dovisiozo dan Hayden. Namun tak butuh waktu lama bagi Hayden untuk overtake Pedrosa. Tak lama kemudian, Dovi pun kembali menyalip Pedrosa hingga membuat pembalap asal Spanyol itu berada di posisi ke empat. Sesaat, Rossi sempat dibuntuti dengan ketat oleh Hayden dan Dovi. Tapi entah kenapa, Rossi justru terkesan memperlambat lajunya. Komentator MotoGP curiga bahwa ini hanyalah taktik dari Rossi untuk membuat Dovi dan Hayden saling bertarung. “He is the master of tactiction. Never underestimate what Rossi can do,” ujar sang komentator. Dan kecurigaan ini terbukti! Beberapa lap kemudian, Hayden dan Dovi terlibat saling sikut dan overtake yang sangat rapat dan berani. Nah, disinilah Rossi mulai menjauh. Hingga mencapai lebih 1 detik dari mereka!

Rossi, Dovisiozo dan Hayden.

Pedrosa, yang melorot ke posisi keempat, menjadi bulan-bulanan pembalap lainnya. Setelah diasapi Lorenzo, ia kembali harus mendapat gempuran dari Ben Spies. Perebutan posisi ke lima pun sempat terjadi, sebelum  akhirnya dimenangkan oleh Spies. Baru saja ingin membalas Spies, Randy de Puniet, justru kembali menilik Pedrosa sebagai target berikutnya. Tak ayal, Pedrosa berusaha mati-matian mempertahankan posisi. Tapi apa mau dikata, bahkan seorang de Puniet pun masih terlalu tangguh. Pedrosa melorot ke posisi tujuh. Di lini belakang, terjadi duel veteran. Antara Collin Edwards dan Loris Capirossi. Walaupun tak berlangsung terlalu sengit, Edward berhasil mencuri posisi Capirex. Sementara itu, Aoyama, bertarung habis-habisan untuk masuk sepuluh besar. Di saat yang bersamaan, Lorenzo, pelan namun pasti, mulai mendekati duel Hayden dan Dovi. Tak terelakkan, perebutan posisi terjadi di semua lini!

Tiga lap terakhir, taktik Rossi “mengadu domba” Hayden dan Dovi cukup berhasil. Walaupun sempat di overtake oleh Dovi di beberapa tikungan, Rossi berhasil merebut kembali posisi itu. Dibutuhkan usaha ekstra keras bagi “The Doctor” untuk membuat jarak dengan Dovi dan Hayden. Sementara kedua pembalap tersebut saling menyusul di tikungan dan trek lurus, mereka tak sadar, seorang rival dengan nomor 99 sudah mulai membuntuti.

The Doctor Did It Again!

Dua lap terakhir, Lorenzo memutuskan untuk memunculkan tabiat aslinya yaitu agressif. Setelah membuntuti Hayden beberapa tikungan, si “Kentucky Kid” dilibasnya. Hayden pun berusaha melawan, namun sia-sia. Lorenzo yang menyimpan tenaga dan sabar meniti jalurnya, terlampau kuat. Dan seakan belum puas, Lorenzo kemudian melibas Dovi di lap terakhir hingga menempatkan dirinya di posisi kedua. Seperti halnya Hayden, Dovi yang sudah bertarung sejak awal lap, tampaknya sudah terlalu lelah. Akhirnya, kembali terjadi pertarungan memperebutkan podium, namun kali ini untuk posisi ketiga. Baik Hayden dan Dovi sama-sama ngotot. Mungkin mereka sadar, ketika rekan mereka berguguran (Stoner jatuh dan Pedrosa melorot ke tujuh), disinilah mereka unjuk gigi atas kemampuan yang sebenarnya. Akhirnya pertarungan sengit itu dimenangi oleh Dovi yang menyalip Hayden di tikungan terakhir dan lap terakhir pula. Ia unggul sepersekian detik dari Hayden. Sementara itu Rossi dengan gembira melakukan wheelie setelah memasuki finish pertama, yang disusul oleh Lorenzo. Spies, sang rookie favorit, masuk ke urutan lima, lalu Edwards dan kemudian Pedrosa di posisi ke enam dan ke tujuh.

Tak ada M1, skutik pun jadi!

Hasil seri pembuka Qatar menjadi semacam pertanda bahwa apapun bisa terjadi di MotoGP. Lorenzo, melakukan apa yang selama ini dilakukan oleh Rossi yaitu bersabar dan menunggu kesempatan. Dari posisi ke lima, ia merangsek ke runner-up. Dovi dan Hayden, yang selama ini selalu di nomorduakan oleh tim mereka (Honda Repsol dan Ducati Marlboro), berhasil menunjukkan bahwa mereka juga punya taring. Spies, memenuhi harapan semua orang dengan masuk lima besar. Stoner? Jika saja tidak terjatuh, ia mungkin juara. Pedrosa, mungkin harus lebih berani merebut kembali posisinya. Rossi? What else can I say? He’s The Doctor.(hnr)
Foto: http://www.motogp.com

Iklan

3 comments on “MotoGP Qatar; Fantatis!

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s