Review: INK CBR 600

Review yang dilakukan adalah hasil pengamatan independen penulis, dan tidak mendapat tekanan dari pihak manapun, termasuk produsen yang mengeluarkan produk. Review ini juga tidak bisa dijadikan acuan ataupun standar dalam penilaian. Penulis, dengan semangat berbagi dan independensi blogger, hanya memberikan pendapat seobyektif mungkin perihal suatu produk.

Lagi-lagi penulis berkesempatan untuk mencoba salah satu produk dalam negeri. Yah, apalagi kalo bukan helm. Peranti vital pelindung kepala saat kita mengendarai sepeda  motor. Yang mampir ke meja penulis kali ini adalah sebuah Helm INK CBR 600. Helm yang dibanderol kisaran 600ribuan ini, penulis dapatkan dengan status hak pinjam-guna dari seorang kawan. 😀

DESAIN
Untuk desain eksternal, dapat dibilang kesan sporty tertangkap cukup baik. Dengan bentuk yang tidak terlalu bulat, melainkan sedikit lonjong, CBR 600 tetap dapat mempertahankan kesan tersebut. Selain itu, desain decal atau cat dengan pola mengandalkan garis-garis tajam serta kombinasi warna yang berani, lebih menguatkan kesan sporty yang ingin dicapai.

Untuk ventilator, atau jalan masukknya udara, ada tiga buah. Di bagian atas depan, terdapat dua buah, sementara di bagian muka, di bawah visor terdapat satu buah. Yang di bagian atas, terdapat semacam tombol kecil (mungkin untuk membuka/tutup). Lalu yang di bagian muka, bisa ditutup-buka secara manual.

Untuk bagian dalam, padding seperti standar helm saat ini, bisa dilepas dan dicuci. Lalu bahan padding juga sedikit berbeda dengan helm dengan kisaran harga dibawah CBR 600. Bahan padding terbuat dari semacam bahan yang berongga. Mungkin tujuannya untuk membiarkan sirkulasi udara didalam helm bekerja dengan baik.

FITUR
Untuk fitur, disinilah mungkin letak kelebihan CBR 600 dibandingkan dengan helm yang pernah penulis coba. Bisa dilihat dari pengunci dagu / chin strap. Jika biasanya helm menggunakan model standar (lihat gambar), namuna CBR 600 menggunakan model yang lain. Yaitu ada satu tautan yang bisa kita tarik untuk melepas penguncian chin strap. Sementara model standar adalah kita harus menggeser tombol untuk melepas penguncian. Lalu ada juga fasilitas double visor. Nah, fasilitas ini berguna untuk berkendara di siang hari, dimana sinar terik bisa menghalangi penglihatan dan membuat mata cepat lelah. Fitur ini pun bisa diaktifkan dengan menggeser tombol di bagian kiri, dekat dengan ujung bagian visor. Karena posisinya yang mudah diraih, dan hanya tinggal menggeser tuas, operasional double visor sangat user friendly.Hal ini menjadi faktor yang harus diperhitungkan saat berkendara.

PERAWATAN
Seperti yang sudah disampaikan di atas, padding/busa bagian dalam dapat dilepas. Hal ini penting agar bisa dicuci, hingga terjaga kebersihannya. Lalu bagaimana dengan visor? Untuk membersihkannya, sebenarnya tidak perlu dilepas, cukup mengelapnya dengan cairan pembersih kaca. Tapi jika ingin dilepas, CBR 600 memberikan kemudahan dalam mencopot atau memasang kembali. Cukup dengan menekan tombol di bagian samping, tepatnya di ujung visor, maka visor dapat dengan mudah dilepas. Pemasangannya pun mudah.

Tombol Pelepas Visor

UJI PAKAI
Seperti biasa, penulis menggunakannya untuk keperluan harian di lalu lintas Jabodetabek yang super padat. Awalnya CBR 600 cukup pas di kepala (penulis menggunakan ukuran L). Lalu padding yang lumayan empuk, juga membuat kepala nyaman. Pandangan dari balik visor sangat baik. Di udara yang panas dan lalu lintas padat, sirkulasi udara dirasakan cukup baik.

Nah, yang justru membuat penulis heran adalah masalah noise level. Yah, ini selalu menjadi perhatian penting penulis, karena berhubungan dengan kesehatan, khususnya di bagian pendengaran. Penulis perhatian, setiap kali jarum kecepatan mendekati angka 50 km/jam, suara angin dari samping mulai terdengar. Seakan-akan tidak percaya, penulis mengulanginya lagi dan benar saja, suara itu muncul pada kecepatan tersebut. Semakin tinggi kecepatan, suara semakin besar.

Jika dibandingkan dengan helm KYT V2R, penulis mengharapkan suara tersebut belum muncul di bawah 60 km/jam, tetapi justru sebaliknya. Padahal dari sisi harga, CBR 600 jauh lebih mahal dibandingkan KYT V2R. Jadi harapan penulis INK CBR mampu meredam suara angin lebih baik dibandingkan V2R pupus. Namun, hal ini masih bisa diperdebatkan. Karena level suara ditentukan oleh tingkat desibel (db), maka penulis tidak bisa mengatakan noise level CBR 600 lebih bising dibandingkan V2R. Perlu ada studi lanjut perihal hal tersebut. Sebagai catatan, penulis hanya mengenakan masker anti polusi, tidak mengenakan balaklava.

Terlepas masalah noise level, INK CBR cukup cocok digunakan untuk perjalanan harian. Walaupun tipe full face, tetapi sirkulasi udaranya serta padding yang baik, mampu membuat pengedara nyaman walaupun didera kemacetan yang menjadi rutinitas. Selain sudah disertifikasi oleh SNI 1811:2007, helm ini juga menggunakan standar DOT seperti yang tertera di bagian belakang. (hnr)

Produsen            : PT. DMI (Dinaheti Motor Industri)
Harga                    : Rp. 600-630 ribu
Ukuran                 : M, L & XL
Warna                   : Tiga Corak dengan warna dasar Hitam, Merah dan Biru.

Iklan

18 comments on “Review: INK CBR 600

  1. PERTAMAXXX !!!

    Like this *jempol*

    Memang utk helm lokal, detail kurang diperhatikan dats, lha KYT CarbonZ V3 gw aja berisik di atas kecepatan 60km/j…cm g parah bgt seh…

    Ntu DOT nya beneran? Kalo DOT beneran di dalem liner biasanya ada kayak label yang ada no sert DOT, type, tanggal produksi dll.

    Overal buat daily riding udah bagus utk proteksi kepala. Nice!

    • buset, orang semarang dah pertamax aje… 😀
      perihal DOT, itu juga yang ane belum jelas. Nanti coba ane tanyakan kepada pihak DMI.

      • gimana bro, dah di tanya ke pihak DMI blom mengenai serti DOT nya???

        klo udah tolong kirimin ke email ane yaa…

        thx

        • Sertifikasi DOT maksudnya bro? Setahu saya bro, PT. DMI (Dinaheti Motor Industri) juga mengekspor beberapa merk helm internasional, jadi sudah pasti harus penuhi standar DOT. Jadi, stiker DOT itu maksudnya, mungkin, mereka sudah memenuhi standar DOT bagi pengguna helm harian.

  2. ahh yg bener nih helm dipinjemin?? jgn2 si bodats br beli helm lagi nih. diliat dr corak2 warnanya, warna bodats banget… hehe..

  3. Malas ah retentionnya belum D-D Ring. Mendingan NHK GP Tech, udah D-D Ring dan harganya juga Rp 600 ribu. 😀

    *ngubek bonjer dulu*

  4. masa helm mahal (lebih mahal dari nhk terminator) masih berisik? berisiknya gimana? suara angin gimana bro? gw aja pake nhk terminator yg cuma 370rb, ga ada suara brisik di kecepatan 70km/jam…

    balas ya…, soalnya pengen beli nih helm bro..

    • @theo, ini berdasarkan pengalaman ane bro. Secara, ane beli helm dibawah harga tersebut justru lebih senyap dibandingkan yang ini. Jangankan yang 600ribuan bro, yang satu jutaan saja ada yang berisik.

      tolong dibaca lagi artikelnya bro. Ane dapat sumber noise dari mana. Thanks.

      smart bastard!

      https://bodats.wordpress.com

  5. masbro…
    kalo beli/ nyari kaca helmnya yg putih d daerah semarang di mana ya…?

    truz cara pasangnya bs d pasang sndri ato hrus ke toko helm-ny langsung…?

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s