Benahi dahulu transportasi massal, baru kemudian batasi konsumsi bbm

Seminggu terakhir ini, masyarakat dihebohkan dengan rencana pemerintah membatasi konsumsi BBM bersubsidi (Premium) bagi pengendara sepeda motor. Yah, Agustus 2010, rencananya pengendara sepeda motor harus bersiap merogoh kocek lebih dalam untuk membayar biaya bahan bakarnya. Dan seperti sudah bisa ditebak, respon masyarakat pun kebanyakan keberatan. Wajarlah, tanpa statistik ribet pun sudah hampir dapat dipastikan, mayoritas pengguna sepeda motor adalah masyarakat ekonomi kelas menengah hingga bawah. Yang tentunya mengandalkan sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari.

Entah ide darimana pembatasan konsumsi BBM tersebut. Tapi yang jelas bukan tanpa argumentasi. Adalah benar bahwa penggunaan bbm bersubsidi dipastikan akan meningkat seiring dengan tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor, terutama sepeda motor. Tentu saja subsidi yang dikeluarkan akan sangat besar, yang berimbas kepada pengeluaran negara yang besar pula.

Tetapi, marilah kita kembali ke sebuah pertanyaan yang sangat mendasar. Mengapa orang memilih sepeda motor sebagai moda transportasi utama? Inilah yang seharusnya menjadi pertanyaan. Bukan langsung main libas dengan kebijakan yang implementasinya juga bakal semrawut. Pertanyaan di atas, mudah menjawab, tetapi sulit disangkal kebenarannya. Sepeda motor dipilih karena faktor ekonomisnya. Tidak percaya? Coba hitung. Jika anda tinggal di daerah Bekasi dan bekerja di kawasan Sudirman, Jakarta, berapa biaya yang dihabiskan jika menggunakan angkutan umum? Tarif Patas AC 05 jurusan Bekasi-BlokM adalah Rp. 6. 500. Sehari saja, minimal sudah mengeluarkan biaya Rp. 13. 000. Dalam waktu sebulan (25 hari kerja), kita harus merogoh kocek Rp. 325.000. Bandingkan dengan sepeda motor (keadaan mesin standar) yang hanya membutuhkan Rp. 16.650 untuk 3,7 liter bbm (premium). Biaya tersebut cukup untuk empat hari biaya transportasi (Bekasi-Sudirman pp). Dengan asumsi itu, per bulan seorang pekerja bersepeda motor hanya perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp. 65.000 untuk transportasinya. Bandingkan dengan Rp. 325.000 jika menggunakan angkutan umum. Jauh berbeda bukan?

Pengguna Sepeda Motor Dari Bekasi Menuju Jakarta

Dan mari kita gali lagi lebih dalam. Selain alasan biaya, mengapa sepeda motor jadi pilihan utama? Menghindari kemacetan. Inilah yang jadi alasan orang memilih sepeda motor. Perhatikanlah rangkaian panjang antrian kendaraan roda empat di jalan tol dalam kota Jakarta dan juga ruas-ruas jalan penghubung Jakarta ke Bogor, Bekasi, Depok dan Tangerang. Semuanya terkena macet. Bisa dibayangkan, seorang pekerja yang harus tiba di tempat kerja on-time, harus menahan peluh, berdesakan, harap-harap cemas di dalam angkutan umum agar tiba tepat waktu. Sudah bayar, tidak nyaman pula. Itu mungkin yang ada di benak sebagian besar orang. Dan ketika bersepeda motor memungkinkan untuk aksi selap-selip, cari jalan tikus dan menyiasai kemacetan dengan berbagai cara, jadilah dia primadona transportasi. Bahkan beberapa tahun terakhir, mudik dengan sepeda motor menjadi fenomena yang mengerikan dengan tingkat kecelakaan yang tinggi.

Hal itu belum lagi jika menyangkut aspek keselamatan penumpang. Sudah terlalu sering kita temui angkutan umum mengoper (menurunkan) para penumpangnya di tengah perjalanan. Ban kempes/bocor di tengah jalan. Menurunkan atau menaikkan penumpang sembarangan. Berhenti semaunya tanpa mengindahkan aturan lalulintas dan hak pengguna jalan. Dengan segala keruwetan itu, bayangkan kerelaan para penggunanya mengeluarkan biaya yang lumayan besar.

Nah, tanpa bermaksud menyamakan keadaan, penulis ingin membandingkan keadaan di Jakarta dengan Singapura. Sebuah negara kecil yang luasnya tidak seluas propinsi Jakarta. Jauh hari sebelum terjadi penumpukan kendaraan pribadi, sadar akan kapasitas negaranya yang kecil dan lahan yang sempit, mereka mengambil inisiatif cerdas dan keras. Cerdas karena rencana transportasi massal yang dibuat berdasarkan pertimbangan yang matang dan strategis. Lalu keras karena mereka mempunya standar ketat terhadap jumlah kendaraan yang beredar, dan siapa saja yang dikatakan layak untuk memiliki kendaraan pribadi. Entah itu mobil atau motor.

Hasilnya? Adalah MRT (Mass Rapid Transit) yang jadi andalan para penduduknya. Jangan samakan MRT ini dengan jaringan kereta Jabodetabek. Berbeda 180 derajat! MRT dibangun di bawah tanah, dengan stasiun yang terintegrasi kepada lokasi-lokasi penting seperti obyek wisata, pusat perbelanjaan hingga perkantoran. Stasiun-stasiunnya terjaga kebersihannya. Kamera keamanan dimana-mana. Informasi lengkap seputar transit, arah dan tujuan hingga harga tiket tertera dengan baik. Sistem pembayarannya pun menggunakan kartu elektronik yang bisa diisi ulang layaknya voucher telepon selular. Biayanya? Tergantung sejauh mana anda berkendara. Jadi bukan model jauh-dekat, harga pukul rata. Melainkan Fare by Distance, demikian mereka menyebutnya. Nah, jam datang dan perginya kereta-kereta MRT juga tepat waktu. Tidak ada istilah ngaret. Dan kondisi kereta bersih dan harum layaknya kereta baru. Oh ya, jangan harap ada tukang jualan di kereta ini. 😀 Hebatnya lagi, di stasiun kereta manapun, setiap kali kita keluar, selalu ada titik-titik pemberhentian bus. Jadi memang sudah dirancang sedemikian rupa agar masyarakan mempunyai akses yang mudah untuk transportasi massal. Sepeda motor di Singapura merupakan “barang langka”, berbanding terbalik dengan realita di Jakarta.

Situasi Stasiun Bawah Tanah MRT di Singapura.


Kereta MRT (sumber: Wikipedia/Calvin Teo)

Kereta MRT (sumber: Wikipedia/Calvin Teo)

Suasana di Dalam MRT

Jaringan Bis SBS Transit

Penumpang Menunggu di Halte Dengan Tertib

Singapura membuktikan betapa transportasi massal yang terjangkau, aman dan nyaman serta terintegrasi dapat dijadikan andalan berpergian. Sebanyak 52, 4% penduduk Singapore menggunakan transportasi massal. Dengan menggunakan MRT yang anti macet, masyarakat bisa mengurangi durasi keberadaan mereka di jalan. Tiba di kantor pun lebih segar dan semangat, tanpa keringat yang berpeluh. Hal ini tidak lepas dari fasilitas AC di kereta MRT dan hampir semua bis SMRT (jaringan bis antar daerah). Alhasil, menggunakan transportasi massal lebih hemat dan masyarakat justru lebih bisa menabung lebih banyak dan mengalihkan belanja konsumtif atau produktifnya ke yang lain.

Sebuah busway di Koridor 1 (BlokM - Kota) meluncur di tengah kemacetan.

Lalu bagaimana dengan Jakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Nah inilah yang jadi dasar penolakan masyarakat terhadap ide pembatasan konsumsi BBM terhadap pengendara sepeda motor. Jelas sudah alasan masyarakat menggunakan sepeda motor karena minimnya kepercayaan terhadap kemampuan angkutan umum. Mungkin, jika koridor busway direalisasikan dengan konsep awal (tidak ada kendaraan yang masuk jalur), Busway bisa dijadikan pilihan. Mungkin jika mulai sekarang, izin trayek atau segala perizinan yang memungkinan penambahan jumlah angkutan umum segera dihentikan. Artinya, tidak ada penambahan armada sama sekali! Dan mulailah secara perlahan membenahi Busway yang sekarang mulai luntur pesonanya. Realisasikan pembangunan monorail. Dan integrasikanlah transportasi alternatif tersebut dengan daerah-daerah penyangga. Jika semua bisa dilaksanakan, mungkin ATPM gigit jari. Tapi masyarakat, tanpa dipaksa pun rela pindah moda transportasi. Jadi, berikanlah masyarakat sarana transportasi yang memadai dahulu. Baru kemudian batasi konsumsi bbm.(hnr)

Iklan

5 comments on “Benahi dahulu transportasi massal, baru kemudian batasi konsumsi bbm

  1. jangan nyengkat kaki dats :p
    kalo gua sih nyengkat aja, karena government dont play football with their people :p

  2. dengan keadaan jakarta yang demikian komplek dan ruwet apa masih mungkin untuk adanya sarana transportasi yang layak dan terjangkau bro….

    • saya sih optimis bro..
      memang tidak mudah, masalahnya ada kemauan gak?
      lihat saja BKT (Banjir Kanal Timur), dulu banyak penolakan, tapi sekarang dah hampir siap tuh.
      kalo pemerintahnya tegas, pasti bisa bro..

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s