MotoGP Silverstone, Bravo Stoner!

Dengan absennya Rossi, sungguh menjadi tantangan bagi para “pejuang” yang tersisa di arena MotoGP untuk bisa memberikan tontonan yang menghibur, layaknya Rossi. Sebagai sebuah ikon, kehadiran Rossi menjadi semacam bumbu penyedap persaingan. Namun karena celaka saat latihan di Mugello, terpaksa Rossi harus absen selama lima bulan dan tersingkir dari kursi juara musim 2010.

Mungkin, karena itu pula, dan juga faktor piala dunia, MotoGP semakin menjadi tertantang untuk memberikan aksi terbaiknya. Di satu sisi, absennya Rossi membuat seakan-akan Lorenzo “jalan santai” dan tidak ada lawan tanding setara. Sementara di sisi lain, para pembalap tim pabrikan dan satelit seakan terpacu untuk mengambil tempat yang tersisa. Karena biar bagaimanapun, absennya The Doctor otomatis memberikan peluang kepada tiap pembalap untuk memperebutkan tiap posisi yang tersedia.

GP Silverstone dibuka dengan persaingan ketat saat dimulai. Lorenzo dibuntuti dengan sengit oleh Puniet, Dovisiozo dan Pedrosa. Sementara Hayden, Spies dan Marco Melandri memburu dalam lini kedua. Namun justru Stoner lah yang membuat “kejutan”. Start di posisi ke-6, pembalap asal Australia ini justru melorot ke posisi 12! Jutaan mata memandang tak percaya saat juara dunia 2007 ini harus rela dihalangi oleh para rookie dan pembalap satelit sementara rekan-rekannya berjuang di garis depan.

Tapi Stoner bukanlah pembalap yang menang karena unsur teknologi atau keberuntungan. Ia dikatakan sekelas dengan Rossi dan Lorenzo, karena mereka berkendara seperti “mahluk luar angkasa”. Itu adalah kata lain untuk gila, nekat bahkan terlalu pintar untuk dikelabui oleh pembalap kelas profesional sekalipun. Dan terbukti, Stoner membuktikan bahwa dia bukan an ordinary motogp rider.

Melorot ke posisi 12 di awal perlombaan, membuat Stoner bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan. Pembalap yang biasanya bersaing dengan rider kelas atas ini, harus berusaha keras melewati pembalap lini belakang.  Walaupun tayangan di tv berfokus kepada duel Hayden, Puniet dan Dovisiozo, Stoner tetap terpantau penulis. Pelan namun pasti, ia mulai “membersihkan” jalur

Lap kelima, Stoner mulai menduduki posisi ke-8, setelah bersusah payah melewati barisan belakang yang dihuni oleh Hector Berberra, Capirex, Alvaro Bautista, Aleix Espargaro dan Mika Kalio.  Dari sini, Stoner mulai “mengurut” agar bisa mendekati barisan terdepan yang sedang terlena dengan perebutan posisi runner-up. Kecermatan benar-benar terlihat dalam diri seorang Stoner. Dengan penuh konsentrasi, ia terus mengurangi gap waktu yang otomatis mengurangi jaraknya dengan pembalap terdekatnya yaitu Simoncelli. Sayangnya, justru Simoncelli yang mampu memperdayai Pedrosa. Dan kini, Pedrosalah yang menjadi “korban” berikutnya dari Stoner. Mulai dari lap sembilan, Stoner mulai mengejar Pedrosa. Di lap ke sepuluh, Stoner memulai aksinya. Pedrosa dibuntuti secara ketat. Tapi bukan Pedrosa jika tinggal diam. Walaupun terkenal tidak bisa melawan balik jika direbut tempatnya, Pedrosa bukanlah pembalap kemarin sore. Ini terbukti dari kenekatannya menutup celap beberapa kali bagi Stoner yang hendak mendahuluinya. Stoner tidak kehilangan akal. Dia paham betul bahwa Pedrosa akan melakukan kesalahan jika ditekan terus menerus. Dan taktik Stoner terbukti berhasil. Di lap ke-13, setelah melalui pertarungan sengit, ia berhasil memperdayai Pedrosa. Dan Pedrosa semakin ketinggalan. Kini, Simoncelli yang tengah ngotot mau mengejar Spies mulai diintai. Tak lama kemudian, Simoncelli kembali harus mengakui kepiawaian Stoner. Dalam satu lap, Stoner mendahului dua pembalap. Di lap ke-14 ia sudah di belakang Spies.

Pada lap ke-15 mulai terjadi ketegangan antara Puniet (2), dovi (3) dan Hayden (4). Dovi terus membuntuti Puniet, sementara Hayden juga terus menempel ketat. Saling tempel dan berusaha mendahului terjadi beberapa kali. Dan saat lap ke-17 peta pertarungan langsung berubah. Puniet, yang mungkin sudah kelelahan digempur oleh Dovi, terpaksa menyerahkan posisinya. Tak lama kemudian, pembalap asal Prancis tersebut lagi-lagi harus rela didahului oleh Hayden dan Spies. Sayangnya, Puniet kembali menjadi korban bagi Stoner. 😀

Lap ke-17, Stoner mulai mendekati Puniet dan langsung merebut posisi pembalap yang disponsori Playboy tersebut. Stoner mulai bersemangat. Walaupun tersisa tiga lap lagi, Stoner sepertinya mengincar posisi empat besar. Di lap ke-19, Stoner sudah mulai mendekat Hayden yang berhasil didahului oleh Spies. Walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin, Stoner tampaknya terlalu lelah dan berpikir akan resiko yang tinggi, jika ingin mendahului Hayden yang membalap dengan semangat prima. Alhasil, di akhir perlombaan, Stoner menempati posisi ke lima.

“Kisah” Stoner kali ini mengingatkan penulis akan hal yang sama di musim lalu dan musim 2010. Musim 2009, di sirkuit Donnington Park, Inggris, Rossi, yang sempat memimpin lomba, terjatuh. Melorot ke posisi 11 di lap ke-20, pelan namun pasti, Rossi meniti kembali posisinya. Di akhir lomba (lap ke-30) Rossi berhasil menduduki posisi kelima. Hal yang sama juga dialami oleh Lorenzo di musim ini. Di sirkuit Losail, Qatar, Lorenzo di awal lomba melorot ke posisi lima. Namun, dengan konsistensi yang terjaga, perlahan tapi pasti, pembalap musuh bebuyutan Rossi ini berhasil mendahului lawan-lawannya hingga berada di urutan kedua.

Stoner, layaknya Rossi dan Lorenzo telah membuktikan, bahwa pembalap sejati bukan sekedar mengandalkan tehnologi, mesin ataupun dukungan finansial. Skill, mental dan kekuatan pikiranlah yang membuat seorang pembalap berhasil mengatasi segala macam rintangan. Siapapun orangnya, memulai balapan dari posisi hampir buncit, dan menggeber motor dengan kecepatan hingga 321.8 km/jam untuk meraih posisi kelima, bukanlah pembalap biasa. Stoner mungkin bukan juara di sirkuit Silverstone, tapi jelas terbukti betapa dia berada di “kelas” yang berbeda. Sebuah kelas yang hanya dihuni pembalap kampiun sekelas Rossi, dihuni oleh segelintir pembalap “gila” berprestasi. Untuk itu izinkan penulis mengucapkan, Bravo Stoner!(hnr)

Iklan

7 comments on “MotoGP Silverstone, Bravo Stoner!

  1. katanya ada trouble kopling.jadi inget laguna seca 2008,stoner fight ama rossi,emang stoner kalah,tp jelas dia bisa meladeni rossi.jarang bgt ada orang yg ngakuin talenta stoner.kalo musim ini dia pake mesin gp9,mungkin critanya laen!!lam kenal!!:-D

    • kalo dilihat dari videonya Stoner pasca balapan, dia berkomunikasi sama managernya dan menirukan adanya semacam getaran di motornya. Sepertinya memang Stoner tengah berkutat dengan motor baru ini. Tapi semoga saja dengan absennya the doctor, Stoner bisa kembali punya kans juara… salam kenal juga bro…

      smart bastard!

      https://bodats.wordpress.com

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s