Moto Experience: Berkendara Bersama Honda PCX 125 “Curian”

“Jadi gak?” tanya bro Haryo, saat kami bersiap-siap meninggalkan Bondis Café Sabtu (26/06) lalu. Pertanyaan bro Haryo dilontarkan beberapa detik menjelang keberangkatan rombongan Koboi yang diizinkan untuk menggunakan Honda PCX 125, skutik premium terbaru dari AHM (Astra Honda Motor). Yah, Sabtu itu, belasan blogger dari Koboi (Komunitas Blogger Otomotif Indonesia) diundang secara khusus oleh AHM untuk melakukan uji coba berkendara atau istilah kerennya test ride Honda PCX 125. Setelah dibuka dengan sarapan pagi dan sedikit obral-obrol, blogger dipersilahkan untuk menguji skutik berharga 30 jutaan tersebut sesuai dengan rute yang telah disiapkan.

Penulis sendiri kebagian di rombongan ketiga. Tapi penulis dan bro Haryo langsung merasa tidak nyaman dengan adanya “pengawalan” oleh beberapa rider bermotor sport. Apalagi sang RC (road captain), beberapa kali membunyikan klakson yang menyerupai bunyi klakson kendaraan aparat.  Menurut penulis, sebenarnya lebih enak  berkendara tanpa perlu dikawal secara mencolok. Biar lebih dekat ke masyarakat dan tidak berjarak. 

Mungkin juga, sebagai sesama rider petualang yang tergabung di dalam ADVrider.com, penulis dan bro Haryo kurang mendapat sensasi berkendara jika melalui rute yang telah disediakan.
“Terserah, jadi nih kita iseng belok ke arah Mampang?” tanya penulis beberapa saat sebelum perjalanan dimulai.
“Ya sudah, kita lihat nanti. Pokoknya, gue ngekor lu deh.” tegas bro Haryo lagi.

Wajib Berfoto Sebelum "Kabur". 😀

Dan rombongan yang terdiri dari Bro Didi dengan membonceng Girifumi, bro Gojay, penulis dan bro Haryo pun mulai memasuki jalan Ampera. Saat itu kondisi lalu lintas mulai padat. Dengan sangat terpaksa, penulis dan rekan-rekan blogger lainnya mengikuti RC yang mengambil sisi kanan dan meminta jalan dengan syarat tangan, ditujukan kepada pengendara dari arah berlawanan. Tak lama kemudian sesaat sebelum pertigaan arah pejaten, penulis sempat bersiap-siap bermanuver mengambil arah ke kanan. Tetapi niat diurungkan karena untaian kendaraan di sisi kanan cukup panjang. Akhirnya setelah sempat pasrah dengan pengawalan ini, penulis melihat kesempatan. Tiba di pertigaan Kemang Raya dan Kemang Timur 18, penulis yang berada di belakang bro Gojay, langsung menambah kecepatan dan melesat lurus (bukan belok kiri seperti yang diharuskan). Nah, saat itu, sempat melihat ke spion. Loh kok si Haryo tidak mengikuti? Walah! Solo bastard nih! Ungkap penulis.

Setelah “gone in 60 seconds”, penulis berhenti sejenak. Siapa tahu sang sweeper dan RC ada yang mengejar. Tapi setelah ditunggu hampir 5 menit, tidak muncul juga. Sementara, PCX test unit berwarna hitam yang diparkir di bawah pohon, mulai mengundang perhatian para biker yang melewatinya. Akhirnya diputuskan untuk membawa saja sang PCX ke jalan-jalan yang padat.

Perjalanan dilanjutkan melalui wilayah Jl. Kemang Utara hingga Jl. Kemang Raya, dimana kemacetan mulai terjadi. Motor berbobot 125 kilogram ini pun mulai membawa penulis melintasi di tengah padatnya arus lalu lintas. Penulis, bersama dengan motor-motor lainnya, merasakan khasnya lalu lintas Jakarta. Dan dimulailah pengalaman yang unik bersama Honda PCX 125!

Selepas dari wilayah Kemang, PCX 125 langsung diarahkan menuju Jl. Antasari. Arus lalu lintas yang belum ramai, rimbunnya pepohonan serta udara yang masih segar, membuat perjalanan terasa menyenangkan. Penulis berkendara pelan di sisi kiri. Dan lambat laun, trik ini mulai terasa keampuhannya. Beberapa motor sport/matik mulai mengurangi kecepatan sesaat mendekati. Mengamati, mendahului, dan melihat kembali melalui spion. Itulah yang dilakukan oleh para biker yang “curiga” dengan PCX 125 yang dikendarai oleh penulis. Menjelang lampu merah Cipete, penulis langsung mengambil arah ke kanan melintasi daerah Cipete. Di jalan yang tidak terlalu lebar ini, penulis tidak bisa memacu kendaraan secara maksimal karena padatnya arus lalu lintas. Dan lagi-lagi, menjelang persimpangan ITC Fatmawati, PCX 125 kembali menjadi pusat perhatian. Saat mengantri di lampu lalu lintas, pengendara di samping penulis tidak bisa melepas pandangannya ke arah motor berwarna hitam ini. Bahkan seorang pengendara mobil di samping kanan sampai rela menurunkan kaca mobilnya untuk melihat lebih jelas.

Jl. Antasari di Pagi Hari, Lengang.

Dari jalan Fatmawati, penulis melanjutkan perjalanan menuju kawasan Pondok Indah. Mengapa? Jika dilihat dari harganya yang di atas 30 juta, kawasan ini cukup cocok dijadikan “mobile display” Honda PCX 125. Selain orang yang berbelanja di PI segmen menengah ke atas, pola konsumtifnya pun cocok dengan segmen yang disasar oleh PCX 125 ini. Dan lagi-lagi kehadiran PCX 125 mengundang rasa penasaran para pengendara. Banyak yang melihat, mendekat bahkan membuntuti dengan jarak yang sangat dekat. Dan karena pertimbangan keselamatan, penulis menggeber sang PCX lebih cepat untuk meninggalkan beberapa motor matik yang membuntuti.  😀

Peta “Pelarian Honda PCX 125”

Lepas dari kesemrawutan Pondok Indah, kembali menerabas antrian kemacetan sepanjang arteri TB. Simatupang. Dengan tujuan berikutnya adalah Cilandak Town Square (Citos), si PCX hitam sangat stabil dalam bermanuver di kepadatan lalu lintas. Rem CBS bekerja cukup responsif. Dan klakson bawaan yang cukup nyaring pun membantu penulis mengkomunikasikan kehadiran PCX Hitam ini kepada kendaraan di depan dan si samping. Lampu sein yang berukuran besar di depan, jika dilihat dari pantulan body mobil di depan penulis, ternyata sangat mumpuni untuk terlihat. Lalu juga lampu sein yang berada di belakang. Penempatannya bisa terlihat dengan mudah.

Kaki Tidak Mentok! Leluasa!

Memasuki area depan Citos, kemacetan semakin menjadi. Mengingat motor ini masih mulus dan merupakan unit test ride, penulis sedikit deg-degan jika PCX tidak bisa merespon kemacetan ini. Namun terbukti ketakutan penulis tidak terjadi. Ajang “stop n go” ditengah kemacetan lalu lintas, dilakoni dengan baik oleh si PCX. Penulis bahkan tidak sadar fitur idle-stop-nya sudah bekerja. Sempat berhenti di belakang taksi, penulis lupa sejenak bahwa motor sudah idle. Tapi ketika tuas gas diputar, tanpa bunyi starter, PCX langsung “bangun” dan kembali merespon dengan baik. Bahkan beberapa kali penulis harus late breaking karena ulah pengendara lain, CBS-nya bekerja dengan ampuh. Dan perlu dicatat, selama kemacetan di depan Citos pula, PCX 125 kembali menjadi pusat perhatian pengendara motor. Sementara penulis, tetap dengan gaya ala Koboi, Cool la yau…. 😀

Setelah kepadatan Citos terlewati, PCX kembali mengarungi arus lalu lintas yang sangat padat menjelang perempatan Jl. Ampera. Tadinya niat penulis ingin membelokkan ke kiri, agar kembali lagi titik awal. Tapi entah kenapa sensasi berkendaranya membuat penulis terus bablas ke arah persimpangan Departemen Pertanian/Jl. Warung Jati Barat. Dan bahkan sebelum tiba di persimpangan tersebut, penulis justru terkesan sedang “dikendarai” oleh si PCX. Menikung tajam dengan kecepatan 50 km/jam, sungguh, keseimbangan motor yang masih CBU ini patut diacungi jempol. Tidak ada istilah goyang atau “larinya” ban belakang. Oks bangets!

Dari sini, perjalanan dilanjutkan ke jl. Cilandak KKO. Dan karena rasa haus, penulis pun berhenti di dekat halte, dan membeli minuman dingin untuk menyegarkan dahaga. Selama istirahat ini, beberapa calon penumpang yang tengah menunggu kendaraan, diam-diam melirik si PCX hitam. Bahkan ada dua orang wanita yang saling bisik-bisik sambil menunjuk ke arah motor premium tersebut. Dialog dengan sang penjaga warung pun tidak terelakkan.

“Bang, ini motor baru ya?” tanya si penjaga warung.
“Iya pak. Kenapa, bapak melihat platnya ya?” jawab penulis memancing dialog.
“He eh. Tapi kok bentuknya saya baru lihat.”
“Tahu namanya gak?” tanya penulis lagi.
Sang penjaga warung memerhatikan dengan seksama, lalu menjawab “PCX ya? Kok saya baru mendengar namanya? Buatan mana bang?” tanyanya lagi.
“Ini dari Honda, namanya Honda PCX 125, skutik atau motor matik” jawab saya sambil tersenyum lirih.
“Oh gitu toh… wah keren nih! Abang baru beli?” tanyanya polos.
“Begini pak, motor ini lagi saya tes. Sekitaran Jakarta Selatan saja. Sekalian mengenalkannya ke masyarakat.”
“Oh begitu, Ngomong-ngomong, harganya berapa bang?”
“Kalau tidak salah, di atas 30 jutaan pak”.

Si penjaga warung diam sejenak, lalu berkata, “Ampun dah, mahal banget yak? Pasti yang beli banyak duit nih!” ujarnya sambil tertawa. Penulis hanya bisa ikut tertawa dengan sang penjaga warung. Dan setelah membayar minuman, langsung melanjutkan perjalanan.

Rute yang dipilih kali ini adalah melalui Jl. KKO Cilandak – Jl. Marga Satwa Barat – Jl. Mabes Polri, melalui beberapa jalan kecil/komplek hingga tiba di jl. Jagakarsa yang padat namun tidak terlalu lebar. Nah, saat menghadapi angkutan umum yang kadang berjalan pelan, berhenti mendadak atau bahkan berbelok tanpa menyalakan lampu sein itulah, PCX berhasil mengesankan penulis. Rem, akselerasi gas dan handling benar-benar mumpuni di jalan yang kecil dan padat lalu lintas. Nah saat sedang berkendara santai itulah, bro Stephen menelpon dan menanyakan posisi penulis.

“Dimana bro?” tanya bro Stephen, blogger senior Koboi.
“Lagi di….. (bingung di daerah mana), sekitaran Lenteng Agung bro” jawab penulis sesaat setelah berhenti di depan sebuah warnet.
“Wah, masih lama? Cepetan deh. Acara sudah dimulai. Ok?”
“Sip bro. ini langsung menuju Bondis.”
Nah saat itu penulis baru sadar, beberapa remaja yang sedang berada di dekat warnet, memerhatikan sang PCX. Dengan gaya (yang lagi-lagi) sok cool, penulis langsung melanjutkan perjalanan.

Saat mengarah ke stasiun Lenteng Agung, ada tanjakan yang cukup curam. Ditambah pula antrian kendaraan yang hendak menanjak. Tanpa sadar, tiba-tiba saja PCX yang terhenti diantara mobil pribadi dan motor, langsung mati. Penulis sempat bingung, tapi langsung sadar ketika melihat lampu idle yang menyala. Dan dengan pede, sedikit memutar gas, PCX pun langsung menanjak dengan akselerasi yang responsif.

Di Jl. Lenteng Agung yang panjang, penulis langsung menambah akselerasi. Kecepatan maksimal yang berhasil diraih oleh penulis adalah 100 km/jam! Dan semuanya diraih tanpa getaran yang berarti. Penulis rasakan, penambahan kecepatan yang responsif dan keseimbangan yan tetap terjaga dalam kecepatan tinggi, membuktikan PCX 125 tetap stabil pada kecepatan tinggi. Apalagi jika mengingat body yang sedikit gambot. Bahkan, diluar dugaan penulis, sebuah mobil di depan tiba-tiba saja bermanuver, mengerem mendadak. Alhasil, penulis pun langsung menekan tuas rem di sebelah kiri yang langsung mengaktifkan sistem CBS (Combi Brake System). Keseimbangan mengerem pada saat kecepatan tinggi inilah yang membuat penulis mengacungkan jempol pada motor ini. Penulis masih bisa menjaga keseimbangan, sementara pengendalian motor tidak banyak “berulah”.

Memasuki Tanjung Barat, PCX 125 dikemudikan dengan santai antara 40-50 km/jam. Dan trik jahil ini terbukti ampuh untuk kesekian kalinya. Entah itu pengemudi motor sport, matik, bebek bahkan hingga penumpang di angkutan umum pun selalu berusaha untuk melihat dengan seksama sosok motor yang dikemudikan oleh penulis ini. Bahkan ada beberapa motor yang menguntit penulis hingga lepas persimpangan Tanjung Barat.  😀

Lepas dari jl. Tanjung Barat, perjalanan dilanjutkan ke arah Pasar Minggu. Dan seperti sudah bisa ditebak, kemacetan kembali mendera. Percaya atau tidak, penulis berhasil mengendarai PCX 125 diantara barisan mobil-mobil yang tengah mengantri. Bahkan tight manouver dengan kecepatan rendah berhasil dilakukan tanpa harus menurunkan kaki sama sekali! Lagi-lagi stabilitas motor premium ini mengesankan penulis.

Posisi stang jika dibelokkan tidak menyentuh lutut. Memudahkan saat bermanuver di kemacetan.

Aksi jahil penulis tidak berhenti sampai di sini. Saat memasuki jalan Pejaten Raya, penulis memergoki beberapa motor yang dikemudikan oleh para ABG. Dan seperti biasa, penulis melakukan overtake yang ciamik dan sengaja berada di depan rombongan tersebut, sambil menurunkan kecepatan. Dan tebak apa yang terjadi? Dari kaca spion, penulis memerhatikan bahwa para abg tersebut memerhatikan dengan antusias Honda PCX 125. Lagi-lagi “kenakalan” penulis terbayar. 😀

Tiba di Bondis Café, penulis langsung memberikan kunci kepada Nyoman Kesawa dari AHM. Beliau hanya tersenyum sumringah sambil geleng-geleng kepala. 😀 Tak lupa bro Stephen dan blogger lainnya tersenyum melihat penulis yang tiba belakangan. Nah, pada saat sesi diskusi, penulis membuat “pengakuan” kepada pihak AHM perihal aksi nekat yang dilakukan. “Pengakuan” ini mendapat respon senyum dan tawa dari pihak AHM seperti Julius Aslan (Marketing Director), Handi Hariko (Tech. Service  Training Dept. Head) dan Istiyani Susriati (HC3 Div. Head) yang sudah akrab dengan blogger.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa penulis berani nekat atau cukup gila untuk mengambil keputusan tersebut? Alasannya sungguh prinsipil. Setelah tahu bahwa rombongan PCX 125 mendapat pengawalan dengan RC. Penulis merasa tidak nyaman. Mengapa? Yah, namanya juga test ride bro. Tidak perlu ada keistimewaan dan kekhususan. Berbaur sajalah dengan masyarakat.  Tapi penulis juga sadar tidak punya wewenang dalam hal menegur sesama warga sipil. Akhirnya sedikit langkah radikal terpaksa dilakukan alias kabur. Mohon maaf bagi rekan-rekan pengawal. Tidak ada maksud untuk membuat repot bro. 😀 (Saat rombongan pengawal hendak pulang, penulis sudah meminta maaf atas kenakalannya :D.  Dan seperti biasa, terjadi saling ejek dan canda tawa ala bikers :D). Tetap terimakasih dan jabat erat untuk rekan-rekan biker pengawal.

Namun ada juga yang jadi pemikiran yang mendasar. Adalah keinginan penulis untuk membagi berita kehadiran skutik premium ini di tengah masyarakat dengan cara berbagi jalan bersama mereka, bukan justru dengan cara yang terkesan ekslusif. Ikut mengantri di lampu lalu lintas, hanyut dalam kemacetan, bahkan sejenak menepi dan mengobrol dengam masyarakat justru lebih baik. Kesan yang didapat lebih terbuka dan jujur. Ada yang bilang mahal, ada yang malu-malu melihat, bahkan ada yang penasaran hingga membuntuti penulis sepanjang perjalanan. Pengalaman inilah yang tidak bisa didapat jika penulis membiarkan diri hanyut dalam “pengawalan” rekan-rekan tersebut. Jika saja penulis “manut”, mungkin pengalaman menarik ini tidak bisa didapatkan. Bagi penulis, berbagi jalan bersama dengan masyakarat adalah cara terbaik menguji sejauh mana sebuah produk (dalam hal ini Honda PCX) bisa mengapresiasi kondisi lalu lintas, struktur geografis hingga budaya berkendara masyarakat. Dan terbukti, cara ini lebih berkesan dan faktual dibandingkan uji kendara di sirkuit. Bagi penulis, ini lebih dari sekedar test ride. Ini adalah sebuah keinginan yang didasarkan pada hasrat kenikmatan berkendara serta keinginan untuk berbagi. Dan sebuah motor skutik premium dari Astra Honda Motor terbukti mampu mengapresiasinya. Motor itu adalah Honda PCX 125. (Hnr)

33 comments on “Moto Experience: Berkendara Bersama Honda PCX 125 “Curian”

  1. Manstab dah bang Bodats, gimana nanti kalo test ride CBR1000RR ya… pas ilang dari rombongan langsung panitia lapor polisi da ada penggelapan oleh orang gelap.. hehehe

  2. coba berhenti di depan mall atau pasar atau rumah sakit barang sejenak…dan perhatikan atusiasnya……hmmmm….promosi yang luaarrrr….biasa!! bravo!!

  3. bagusnya masing2 para tester menempuh rute yang berbeda, jadi informasi bisa menyebar dari 2 sisi, baik itu dari blogger langsung atau dari pengamatan di lapangan melalui para blogger……
    misalkan diberi waktu masing2 2 jam, rute silahkan tentukan sendiri2 tanpa pengawalan……mau tanya-jawab, mau mejeng terserah……

  4. keren2…..kaya ngikutin dari belakang bro….wakakakaka….plng suka adegan nongkrong diwarung….untung aja gak ngajak mbak2 sudirman yah….klo ada yg ngikut 1 kan ribet urusannya…..

    • @stephen, tadinya sih…. xixixixixixi….
      @lekdjie, nanti, tak bicarain sama pak Nyoman…
      @dnugros, boleh tuh idenya. Disponsori oleh Honda pula…
      @ashley, thanks bro…
      @hadi, bisa juga sih bro. Tapi mungkin pertimbangan waktu yang tidak memungkinkan…
      @jombloati, jangan-jangan emang situ ngikutin yak? huehehehe…
      @ochep, kalo itu langsung gue bawa pulang ke rumah. Gak balik lagi ke venue… huehehehe…

  5. lho,kok aneh..nongol lagi.ada apakah ini?yg eror opera mini ato emang tampilan ponselnya yg beginian ya?
    maap..

  6. hahahaha…
    mantap nih, judulnya kudunya “menculik PCX” 😀
    alamat gak dikasi testride lagi sama AHM :mrgreen: , ato malah disuru jalan2 sendiri kalo ada testride..

  7. mantabs bro… ini yg gw cari dari ulasan blog soal semua motor (bukan cuma PCX)… riding impression bsa lebih jelas didapet… calon konsumen jg bisa ngebayangin lebih jelas sensasi berkendaranya.. *jempol*

  8. keren bro bodats… yang kayak beginian nih yang ditunggu.
    berbaur dengan calon konsumen. pastinya lebih mengena di hati 😀 😀
    en… jarak test ride dengan launchingnya… gak beda jauh.
    gak kayak byson 😦 mana nih byson… padahal keren abis tuh motor.

    salut atas “keberanian” dan reportasenya bro.

  9. Selamat Pagi. Hari Senin mumpung masih semangat baru, di sempatkan untuk webwalking / blogwalking. Mohon Ijin untuk membaca artikelnya, siapa tahu bisa menajdi inspirasi untuk menulis posting blog saya. Klo berkenan, di tunggu kunjungan baliknya. link situsku http://naga212geni.blogspot.com . Salam kenal n tetap semangat.

  10. Ping-balik: Coba Pulsar Gratis, Bawa Pulang Motornya « Learning To Live

  11. HORASSSS…

    Ini baru yg namanya BIKER INTELEK, TIDAK EGOIS, TIDAK AROGAN dan FAIR krn mau berpisah dr konvoi dgn alasan tdk suka dgn pengawalan. Apa yg kaw perbuat itu masyarakat akan semakin Simpati dgn kaw dan itu terbukti orang banyak yg menyaksikan atau ngikutin kaw tp dgn adanya rombongan/konvoi yg pakai pengawalan sudah pasti orang2 malah muak, benci, sebel, kesel, dll krn semua orang jg kepingin lancar, cepat, TOB buat kaw lae…

    Belakangan ini para Bikers atau Komunitas/Club asal udah konvoi pasti selalu buat suatu pengawalan serta ada motor yg dibuat spt Polisi Patwal sambil menyalakan SIRENE dan STROBO, klakson toott…toott… (yg ngawal dan dikawal spy keliatan GAGAH dan PD). Semua itu sangat terlihat bhw menonjolkan sisi EGOIS dan AROGAN.
    Apabila ada rombongan mobil yg bersikap spt Komunitas/Club motor yg konvoi memakai pengawalan sambil menyalakan SIRENE dan STROBO knp para Bikers dan masyarakat sudah pasti tidak mau menerima? Padahal itu hanya masalah imbal balik saja antara kelakuan Bikers dan Drivers, saya rasa cukup ADIL lah klo Drivers jg boleh berkelakuan spt Bikers. Bikers selalu beralasan, sama2 bayar pajak, punya hak tp Drivers jg sama kan.
    Knp susah bersikap ADIL tdk bisa dlm berkendara dijalan antara Bikers dan Drivers? Ujung2 nya adalah Bikers selalu krn Faktor KECEMBURUAN SOSIAL dan FINANCIAL, capee dehhh 🙂

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s