Moto Experience: Menjajal Sentul Bersama Minerva GTR 150 & 170

 

Teks & Foto: bodats
Rabu (13/10) kemarin, penulis menjadi tamu “dadakan” Minerva Indonesia yang mengundang blogger dan juga media otomotif ke sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat. Ada apa gerangan? Ternyata Minerva ingin mengadakan semacam Riding Experience dan mendapatkan kesannya dari rekan-rekan blogger dan media.

Tiba di sana, berbagai produk line-up Minerva sudah disediakan untuk dites. Mulai dari Megelli 250 generasi terbaru hingga Fischer 650, motorsport terbaru yang berkekuatan 650cc. Namun, entah kenapa, mata penulis tertuju pada sepasang motor matik. Desainnya mengingatkan penulis pada Runner 50, motor matik keluaran Gilera . Dua motor itu adalah jenis GTR, varian matic Minerva. Tersedia dalam dua tipe: 150 dan 170. Sadar bahwa antrian untuk menunggangi Fischer akan panjang serta cuaca yang cenderung mendung, penulis menargetkan untuk menguji performa kedua matic tersebut. Dan juga atas keyakinan, bahwa motor matik tengah menjadi tren di masyarakat. Dengan begitu, review ini lebih berguna bagi para pembaca yang berminat beralih ke motor matic.

 

Briefing Teknis Sirkuit Sentul.

 

GTR 150
Yang dicoba pertama kali adalah GTR 150. Dengan kapasitas mesin 150cc, ekspektasi penulis tentu saja besar. Sebab, dibandingkan berbagai macam varian matic seperti Scoopy, Vario ataupun PCX, ini adalah matic dengan CC terbesar yang penulis akan coba.

 

Minerva GTR 150

 

 

Kayak Pembalap Beneran. Ada UG segala 😀

 

Mari kita mulai dengan ergonomi. Bagi penulis, riding posture-nya lumayan mantab. Apalagi ditambah dengan ground clearance yang cukup tinggi. Sayangnya, penulis lupa mengukur :D. Nah, skutik ini tidak mempunyai standar samping. Alhasil, standar tengah yang jadi andalan. Masalahnya, karena bodinya yang berat dan tinggi, harus ada usaha ekstra keras untuk sekedar memarkir atau melepas standar. Penulis sendiri beberapa kali beradaptasi, baru bisa melakukannya sendiri.

 

Foto Bareng Sama Chika. 😀

 


Penulis menggunakan GTR 150 warna merah putih (yang satu lagi warna biru), yang sebelumnya bermasalah di bagian speedometer ketika ditunggangi bro Edo. Begitu membuka gas, mesin terasa cukup responsif. Karena baru pertamakali turun ke Sentul, penulis beradaptasi dahulu. Terutama bagaimana mengurut gas, cornering dan full speed saat trek lurus. Hal ini sangat penting, apalagi sirkuit Sentul ternyata banyak “tambalan” di sana-sini.

 

Denah Sirkuit Sentul

 

Lap kedua langsung penulis libas ketika memasuki tikungan terakhir menjelang garis finish. Gas langsung dibuka penuh, head down! Akselerasi berjalan sedikit lambat di rpm bawah, namun mulai meningkat  ketika mencapai 5000. Menjelang R1, masih membuka gas hingga mencapai 96 km/jam. Wah, penulis tidak puas, tapi harus konsentrasi ke  tikungan berikutnya. R1 dilibas dengan kecepatan 70 km/jam. Otomatis gaya motogp ala blogger dikeluarkan. 😀 Setelah itu, trek lurus menantang. Gas diurut lagi sampe poll, mentok di 97 km/jam. Tapi harus segera brake karena ada R2. Kembali “rebah” dilakukan. Dan handlingnya terasa mantab! Apalagi R3 dan R4 adalah tikungan panjang ke kanan. Di sini harus hati-hati karena paling banyak makan korban. Tikungannya tajam.

Libas terus! Pikir penulis sambil melihat jauh ke depan. Adalah keseimbangan yang baik dari GTR 150 ini, yang membuat penulis berani menikung dengan tajam. Tapi dasar blogger, malah asyik sendiri. Pas ketemu S kecil, kecepatan terlalu tinggi, ngeremnya telat. Alhasil kayak Alex De Angelis deh, bablas melebar. Dan gawatnya, ada tukang foto lagi di situ. Huehehe…. 😀 Tapi disinilah jempol diacungkan ke GTR150. Walaupun agak melebar, tapi ketika dibawa kembali menikung dengan kecepatan cukup tinggi, motor tetap stabil.

Menjelang S besar, penulis membuka gas lagi hingga 96 km/jam. Disini penulis diovertake oleh juragan ijo yang pake Fishcer! Berbekal pengalaman beberapa detik lalu, langsung menikung dengan pedenya. Kali ini racing line tepat. Momentnya juga pas, ada tukang foto :D. Perpindahan manuver dari kanan, lalu ke kiri dijalankan cukup mantab. Lalu garis lurus, ngurut gas lagi. Akselerasi sedikit lambat. Lalu melalui dua tikungan ke kanan yang panjang dengan kecepatan 80 km/jam. MotoGP mode = on (seumur-umur, belum pernah berani nikung “serebah” ini). Setelah itu langsung straight line dan mengurut gas. Tak lupa, mata melihat jauh ke depan, dan sesekali melirik angka di speedometer digital. Hasilnya lumayan. Lap terakhir ini GTR 150 berhasil dipacu hingga 103 km/jam.

Secara keseluruhan, GTR 150 cukup baik. Handlingnya saat kecepatan tinggi sangat stabil. Lalu ketika memasuki tikungan, entah itu kecepatan rendah maupun tinggi, tidak ada gerakan “ngebuang” dari sisi belakang. Sungguh penulis terkejut, betapa matic ini mampu dikendalikan dalam sirkuit. Tak lupa rem depan, atau belakang yang cukup mumpuni. Bahkan dalam kecepatan tinggi sekalipun. Thumbs up!

Untuk riding posture, dari rekan-rekan yang berada di pitstop, tidak ada yang kesan negatif. Begitu juga dengan penulis. Ergonominya terbilang cocok untuk orang indonesia. Walaupun mungkin, posisi footstepnya agak sedikit ke belakang. Jika dipakai harian, kenyamanan mungkin sedikit berkurang. Nah, yang harus menjadi perhatian Minerva adalah standar tengah. Saat ujicoba tersebut, penulis dan rekan-rekan media selalu harus dibantu oleh orang kedua untuk sekedar memarkir kendaraan ini dengan standar tengahnya. Mungkin karena belum terbiasa. 😀

GTR 170
Setelah puas menggunakan GTR 150. Kini giliran si “adik”, GTR 170, yang akan diuji. Karena hanya terdapat perbedaan di kapasitas mesin, semuanya sama. Mulai dari ergonomi, desain hingga ground cleareance-nya. GTR 170 akan resmi diluncurkan dalam waktu yang tidak lama lagi. Ok, langsung saja.

Saat mulai berjalan di pit lane, besutan gas terasa responsif dibandingkan 150. Nah seperti biasa, penulis melakukan warm-up lap dahulu. Nah saat pemanasan inilah, penulis menemukan bahwa GTR 170 mempunya mesin yang responsif. Handling saat menikung pun tidak ada masalah. Sama seperti sang “kakak”, GTR 150.

 

Minerva GTR 170

 

Memasuki trek lurus di depan grand stand dan pit stop, GTR 170 langsung penulis ajak untuk mengebut ria. Pertambahan tenaga langsung terasa, dibuktikan dengan pencapaian kecepatan yang lebih baik dari GTR 150. Bahkan belum sempat penulis menikmati momen tersebut, speedometer sudah menunjukkan angka 108 km/jam dengan rpm berada di kisaran angka 7. Lalu masuk menjelang R1, 100 meter sebelumnya, melakukan front break dengan sedikit tekanan pada rear brake. Dan kembali menikung dengan posisi yang cukup miring. Belajar dari kesalahan saat mengendarai GTR 150, penulis mulai konsentrasi dan fokus melahap trek di depan. Dan karena kestabilan saat menikung itulah, penulis lebih konsen membaca racing line, dan melakukan estimasi dimana breaking, dan kapan mulai membuka gas.

Lepas dari R2, menuju R3, lagi-lagi dengan mudah GTR 170 mencapai 100 km/jam. Lalu brake, dan menyisakan sedikit tenaga, langsung menikung dengan kecepatan cukup tinggi (bagi penulis) di R3. Sesaat sebelum memasuki tikungan, sempat mengintip angka speedometer sekitar 70/80 km/jam. Saat menikung, penulis hanya melihat ke arah tujuan berikutnya. Bukan ke bawah, melainkan jauh ke depan/arah tikungan. Lepas dari R3, mengisi trek lurus, memasuki R4 nikung lagi ke kanan, tanpa sadar, penulis langsung rebah segila-gilanya. Dengkul yang dihiasi dengan protektor terasa dialiri angin areodinamis yang berjarak dekat dengan permukaan aspal. Selepas dari sini langsung trek lurus. Lalu menuju R5 yang menikung ke kiri, lurus lagi dan bersiap menghadapi S kecil. Langsung rem depan diremas sekuat mungkin 100 meter sebelum S kecil. Badan sedikit tegap, terasa angin kencang menghantam dada. Dalam waktu sepersekian detik, melakukan observasi dan kembali rebah. Lalu,  sejak memasuki S kecil, penulis serasa dihipnotis.

 

Gazz Polll... 😀

 

 

Melakukan perubahan cornering dari kanan, lalu ke kiri, penulis dipaksa untuk tetap menjaga keseimbangan, momentum kecepatan dan memutuskan kapan saat yang tepat untuk membuka gas kembali. Lalu trek lurus dilibas dengan 100 km/jam. Kemudian memasuki S besar, lagi-lagi GTR 170 berhasil dikendalikan dengan baik. Kembali lagi rebah ke kanan(R8), dan rebah ke kiri(R9). Tanpa ba-bi-bu, penulis langsung memacu GTR 170 ke kecepatan maksimal. Lalu memasuki tikungan ke kanan(R10), langsung rebah dan kembali melibas trek lurus. Hingga kemudian kembali memasuki tikungan ke kanan (R11). Di sini penulis merasakan betul sensasi membalap di sirkuit. Dengan kecepatan sekitar 80 km/jam, badan dan motor miring ke kanan, penulis jauh melihat ke arah tikungan, dan garis-garis merah putih di pinggir sirkuit seakan menjadi pertanda untuk terus menikung. Hal ini langsung membawa ingatan penulis saat melihat On board video-nya Rossi atau Lorenzo. Cornering in circuit, what an experience! Lepas dari tikungan terakhir, langsung membuka gas di trek lurus hingga garis finish. Kecepatan maksimal tercapai hingga 113 km/jam. Mantab!

Kesimpulan
Karena pengujiannya di sirkuit, maka penulis akan menyampaikan review dari sisi kecepatan, akselerasi dan juga handling dalam kecepatan tinggi. Baik GTR 150 maupun 170 sama-sama memberikan keseimbangan yang baik saat memasuki/keluar dari tikungan. Entah itu kecepatan rendah, atau tinggi sekalipun. Lalu saat melakukan pengereman, keduanya tidak memberikan efek membuang di bagian belakang. Sementara itu untuk akselerasi, 150 masih berada dibawah adiknya, 170. Untuk kecepatan maksimal, GTR 150 sempat mencapai 103 km/jam, dengan rpm berada di angka 7. Sementara GTR 170 mencapai 113 km/jam. Kemungkinan kecepatan bisa lebih dari data di atas, tapi pihak Minerva menerapkan limiter demi alasan keselamatan. Dari penilaian penulis, GTR 170 lebih responsif dibandingkan 150.

Dari sisi desain, GTR “bersaudara” sangat menarik. Tapi cenderung bersifat maskulin/lelaki. Karena desainnya yang banyak mengandung unsur garis patah-patah/persegi, kesan itu tidak bisa dihindarkan. Sementara untuk posisi dashboard dan setir, tidak ada masalah. Ergonominya, sejauh yang penulis rasakan, cukup nyaman. Namun demikian, ada catatan tersendiri untuk GTR ini. Seperti yang sudah disampaikan di muka, sedikit “usaha” harus dilakukan saat menggunakan standar tengah jika ingin memarkir kendaraan.

Secara keseluruhan, GTR 150 maupun 170 mempunyai “Stamina” yang layak diperhatikan. Desain yang menarik, matik, tenaga yang lumayan dan handling yang nyaman, bisa menjadi nilai plus untuk dijadikan pertimbangan. Dengan kisaran harga 19 jutaan, bisa dikatakan matic ini sudah di atas matik rata-rata yang dijual kisaran 13-15 jutaan. Dengan cc yang besar, dan harga yang lumayan menguras kocek, Minerva harus siap dengan ketersediaan suku cadang dan kualitas after sales yang mumpuni. (hnr)

20 comments on “Moto Experience: Menjajal Sentul Bersama Minerva GTR 150 & 170

  1. boljug neh produk…tapi bener2 bagus gak tuh skutiknya,,,btw masuk ke indo ckd, bu apa dirakit di indo???
    Dats, itu bener chika???apa chika2an,,,fb ama nopol ada gak….

  2. Wow, mantafffff…. like this…. Pernah ngelus-elus yang 150 di dealer Solo, emang gedhe bener… Jadi kedher mengingat punya badan sekecil Pedrosa…

    • @pake, akur bro. Tapi kalo badan kayak pedrosa kan bisa bantu ngacir di sirkuit. huehe…
      @jahe, jiakakaka…. tetep inget aje bro… xixixixi…

    • @alexa, akses inet lu lambat kali sob. Gak ada background apa-apa. Tulisan backgroundnya warna putih. Gambar motor cuma ada di samping doang. Coba refresh.

  3. Bagi yang membutuhkan motor ini atau Type lainnya) atau ingin Test Drive bisa hubungi Dealer Pusat PT.Plaza Minerva Indonesia Yogyakarta Telp: (0274) 8220338 atau hubungi bagian penjualan Bpk. Andi Setiawan no Hp : 08170456785 / 085878780312.

  4. Bagi yang membutuhkan produk minerva , harga On the Road di Jogjakarta , tipe R 150 VX harga Rp17,100.000, Maddas 125 harga Rp 17.800.000, GTR 170cc Metic Rp. 20.250.000 dan Megelli 250RE/SE/RE Rp. call..,(HARGA MASIH NEGO!!!) untuk semua gambar bisa di lihat di situs resmi minerva : http://www.minerva.co.id Untuk pembelian bisa menghubungi Staff Penjualan PT. Plaza Minerva Indonesia cab. Jogja, Bpk. Andi Setiawan HP:08170456785 / 085878780312 / 0274 – 8220338 Membantu Melayani Pemesanan Luar kota

  5. Saya punya tempat sangat strategis d Malang . Bagaimana caranya kami bisa menjadi bagian dari MINERVA atau Patner atau Dealer. Terima kasih

  6. Motor saya rusak di Karet Vembelnya…
    Kira2 cocok pakai dengan motor apa yah GTR 150cc …???
    soalnya di daerah saya Tak ada Dealer nya.

  7. saya mau jual gan,,,, GTR 150.. dapet hadiah dri festival band,,,berhubung sya dh pny motor ya jd di jual dh,,,,

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s