Moto Review : INK SPY HACKER, Helm Dengan Spion. Pertama di Indonesia

“Watch Your Six!” adalah istilah yang kerap digunakan para pilot tempur kepada rekannya yang hendak mengudara. Jika diartikan secara harfiah, artinya adalah perhatikan arah jam 6 anda!. Tentu saja yang dimaksud adalah di belakang. Sederhananya, waspadai serangan dari belakang. Istilah tersebut juga digunakan pasukan yang berperang di darat. Intinya, untuk berhati-hati terhadap gerakan mendadak di belakang, karena sisi inilah paling rentan terhadap serangan.

Hal yang sama, bahaya mengintai dari belakang, juga kerap dialami oleh biker/motorcylist. Bukan bermaksud sok menyamai, tapi memang itu kenyataannya. Pengendara motor, tidak seperti pengemudi mobil, tidak bisa melihat keadaan tepat di belakangnya. Kaca spion dan tehnik “head check” pun masih menyisakan blind spot di belakang. Lalu solusinya? Mungkin INK Spy Hacker bisa jadi alternatif.

Entah terinspirasi dari pengalaman para pilot tempur, atau pribadi, kini sudah hadir helm yang mampu memberikan informasi perihal keberadaan kendaraan di belakang biker. Ini memang bukan hal yang baru. Seingat penulis, ada helm bermerk Reevu yang pertamakali mengenalkan tehnologi ini. Tapi itu di luar negeri. Mungkin untuk mengisi kekosongan produk sejenis di dalam negeri, PT. Tiara Kusumah, produsen helm INK dan KYT, memutuskan untuk memroduksi INK Spy Hacker.

Cara kerja spion Spy Hacker cukup mudah dipahami. Di bagian belakang, terdapat rongga khusus yang di dalamnya terdapat cermin prisma, yang memantulkan citra dari arah belakang helm. Citra ini, lalu diteruskan ke lensa segi panjang yang terdapat di depan, bagian atas. Jadi, si pengguna hanya perlu melirik ke atas, tanpa perlu ribet menengok. Untuk lebih detailnya, maka penulis melakukan test ride.

Bagian belakang, tampak rongga yang memersilahkan cahaya menyinari cermin di depan.

Helm ini sudah mencuri perhatian sejak diperkenalkan di ajang JMS2010 beberapa waktu lalu. Selain menggunakan spion internal, helm ini menggunakan sistem pengunci dagu Double D-Ring. Mekanisme ini adalah standar di ajang balap profesional, macam Superbike atau MotoGP. Sementara itu, padding shellnya hampir sama dengan helm lainnya. Untuk kaca/visor, model yang diuji penulis mempunya visor bening/transparan. Sementara, bahan helm sendiri terbuat dari Composite Fiberglass Reinforced Shell, sebuah bahan yang diyakini lebih kuat dari bahan helm umumnya.

Tampak bawah, internal padding cukup nyaman.

Saat Kecepatan Tinggi, Sungguh Senyap
Pertamakali menggunakan, penulis harus menyesuaikan dengan beberapa fitur. Pertama, sistem penguncian dagunya, Double D-Ring. Penulis mengalami sedikit kesulitan, mengunci helm dengan sarung tangan terpasang. Akhirnya, terpaksa melepas sarung tangan kembali, lalu mengunci, dan berhasil. Hal ini disebabkan, webbing atau tali pengikat yang harus di dimasukkan beberapa kali ke ring pengaman, lalu menguncinya. Kedua, penyesuaian spion. Setelah itu, harus pula dilakukan penyesuaian spion. Awalnya cukup makan waktu, karena beberapa kali penulis harus berhenti untuk menemukan posisi yang pas. Posisi ideal, bagi penulis, adalah saat kaca spion sedikit lebih dekat dengan bagian atas/dahi.

Saat pengujian, satu hal yang membuat penulis terkesan adalah betapa senyapnya helm ini. Hal ini penulis rasakan ketika jarum kecepatan mulai meninggalkan angka 50 km/jam. Bahkan ketika penulis sempat mencapai kecepatan 80 km/jam, tetap senyap. Walaupun ada angin yang masuk dari bawah dagu. Mungkin karena tidak adanya bagian padding yang menutupi. Tapi tetap saja, tidak ada noise. Tidak ada suara “siulan”. Thumbs up! INK sepertinya sudah melakukan “PR” dengan baik. Sebab, beberapa produk INK yang penulis pernah coba, justru berbalik.

Double-D Ring, Agak Rumit tapi Aman
Lalu perihal mekanisme penguncian dagu. Bagi anda yang ingin menerima telepon, direkomendasikan untuk menggunakan handsfree. Sebab, berbeda dengan model buckle, sistem penguncian ini mengharuskan kita untuk membuka mekanisme penguncian dengan melepas webbing dari ring dan juga kancing. Berbeda dengan mekanisme  buckle ataupun microlock, yang hanya tinggal pencet atau tarik. Bayangkan jika tiba-tiba saja kita menerima panggilan telepon, betapa repotnya harus membuka helm dahulu. Kalau yang menelpon si bos bagaimana? 😀 Dengan handsfree, tetap bisa menerima panggilan tanpa perlu melepas helm. Tapi tetap saja anda harus meminggirkan kendaraan, baru menerima panggilan. Jangan melakukan “sirkus” dengan menelpon berkendara.

Bagi yang belum terbiasa menggunakan Double-D ring, bisa membiasakan diri dahulu. Keuntungannya, kita bisa mengatur tingkat kerenggangan webbing pengikat dagu. Disinilah kelebihan mekanisme double-D ring. Untuk penguncian, bisa dilihat gambar dibawah ini.

Visor & Pandangan Sekitar
Untuk visor, tipe transparan menjadi andalan penulis. Sebab, di jalan Jabodetabek yang penuh dengan lubang dan sisa-sisa galian, kejernihan penglihatan menjadi wajib. Namun minusnya, saat terik matahari, mata akan sedikit lelah karena tidak terlindung. Menggunakan kacamata UV/Polarised tambahan bisa jadi pilihan. Tapi agak sedikit ribet saat memasukkannya.  Sementara, di unit yang diuji,  dibutuhkan sedikit tenaga untuk menutup visor.

Nah, saat berkendara, penulis menemukan bahwa sudut pandang kiri dan kanan sedikit berkurang. Jika diperhatikan, sisi kanan dan kiri body di bagian visor, tampaknya lebih maju dibandingkan tipe lain yang pernah penulis coba. Darimana bisa tahu? Well, waktu penulis melakukan headcheck, area yang terlihat lebih sedikit. Akibatnya, headcheck menjadi proses yang melelahkan, karena kepala harus memutar ke kanan/kiri lebih dalam.

Prisma View System
Nah sekarang kita tiba pada spion, yang menjadi andalan Spy Hacker. Seperti yang sudah penulis sampaikan di awal tulisan, terdapat bagian belakang helm yang berongga, dengan cermin di atasnya. Nah cermin itulah yang memantulkan cahaya ke spion persegi panjang yang berada di depan. Mungkin ini yang disebut Prisma View System. Di bagian belakang tersebut, terdapat cover dari plastik transparan. Hal ini tentu saja bertujuan agar penglihatan ke belakang tidak tergangggu, tetapi juga mencegah kotoran/air yang masuk.

Yang perlu dicermati dari bagian cermin ini adalah penyesuaian untuk penglihatan. Karena banyak yang belum terbiasa dengan adanya cermin di dalam helm, dan posisinya tidak bisa diubah, maka sebagai pengguna kita yang perlu beradaptasi. Helm harus sedikit banyak digeserkan maju atau mundur, supaya mendapat angle yang pas. Jika sudah tepat, maka mata hanya perlu melirik sepersekian detik untuk melihat kondisi di belakang. Jika dirasakan belum pas, jangan berlama-lama melihat cermin, segera sesuaikan kondisi. Tapi saat tidak berkendara.

Pandangan dari dalam helm.

Harap disadari juga, obyek yang terlihat di cermin, jaraknya agak lebih jauh dari yang terlihat. Loh? Bukannya obyek yang ada di kaca lebih dekat? Biasanya memang ada tulisan seperti itu di spion. Tapi untuk Spy Hacker, justru sebaliknya. Berulang-ulang penulis mengalami hal ini. Berjaga-jaga dengan gerakan motor di belakang. Eh, ketika berhenti di perempatan, ternyata “doi” masih jauh. Jadi itu yang mesti diantisipasi. Jangan cepat parno. Positifnya, kita jadi lebih waspada. Headcheck dan melirik spion tetap wajib hukumnya.

Lalu bagaimana saat berkendara di malam hari? So far so good. Asal diperhatikan kejernihan cover di belakang, pandangan ke belakang cukup jernih. Jangan lupa untuk membersihkan dengan pembersih kaca, agar sinar lampu tidak “pecah”. Sejauh yang penulis alami, saat malam hari cukup berguna. Namun, waktu yang dibutuhkan agak lama. Maklum, malam hari, melalui kaca kecil, kita harus memerkirakan, itu lampu motor, mobil atau lampu mobil yang padam dan mirip seperti lampu motor? 😀

Solusinya adalah untuk tidak terlalu sering melihat ke belakang. Saat menikung, menghindari lubang atau mendahului, jangan melihat ke spion belakang. Konsentrasilah dengan apa yang ada di depan, karena kita berkendara ke arah depan. 😀 Observasi dilakukan sebelum menemui tikungan, atau sebelum mendahului. Dan jangan “ketagihan” untuk melihat ke belakang. Lalu bagaimana jika ada motor/mobil dengan lampu HID? Awalnya penulis berpikir, pasti akan silau. Tetapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Mungkin, karena sinar yang dipantulkan dari spion, tidak langsung mengenai mata, jadinya sinar lampu tidak terlalu menyilaukan, kecuali jika kita melihat. Namun, efek sedikit silau masih bisa terjadi. Tapi ini masih bisa diatasi dengan sedikit menundukkan kepala, agar cermin lebih ke atas, menghindari cahaya lampu tersebut. “Jika terkena sinar matahari bagaimana?” tanya seorang rekan bikers. Ini belum penulis alami, walaupun sempat berkendara di pagi dan sore hari.

Sementara itu, bro Eko, Kaskuser yang juga member KHCC, mengatakan cukup puas, saat mencoba helm ini. “Awalnya agak kagok dan sedikit pusing. Tergoda untuk melihat ke belakang terus menerus. Tetapi setelah dilakukan penyesuaian, cukup nyaman,” ujar pria berkepala pelontos ini. Ia melanjutkan, “Tapi waktu berangkat di pagi hari, agak terganggu juga dengan sinar matahari yang datang. Tidak langsung silau sih, tapi sedikit merasa saja,” katanya santai. Pemuda lajang penikmat nasi uduk ini juga mengatakan bahwa saat hujan, penglihatan ke belakang otomatis berkurang.

Bro Eko, yang sempat "mencicipi" Spy Hacker.

Secara keseluruhan, Spy Hacker jelas mendatangkan pengalaman baru bagi bikers. Dengan pengaman Double-D ring, Spion internal dan juga body dari Composite Fiberglass Reinforced Shell, tentu perangkat teknis keselamatan menjadi lebih lengkap. Dari sisi fitur tersebut,  biker juga pasti bergengsi jika menggunakannya. Dari sisi keselamatan? Nah ini yang harus hadi perhatian pengguna Spy Hacker. Luas pandangan ke area penglihatan, yang sedikit berbeda, harus melalui proses adaptasi dahulu. Begitu juga dengan kemudahan menutup dan membuka visor. Lalu ada juga kekhawatiran perihal tingkat kejernihan kaca belakang. Dikhawatirkan cover tersebut. Cepat atau lambat, akan buram. Jika memang demikian, suku cadangnya harus mudah didapat.

Sementara, untuk sistem spionnya, jika memungkinkan, dalam edisi berikutnya sertakan fitur adjustable. Hal ini sangat berguna mengingat gaya dan posisi berkendara yang berbeda-beda. Gaya berkendara tidak hanya dipengaruhi si biker, tapi juga jenis motor. Posisi Pengendara motosport akan lebih menunduk dibandingkan touring atau bebek/matic. Jika mau melihat ke produk sejenis oleh Reevu, generasi kedua-nya sudah memungkinan penyetelan posisi spion. Lebih praktis, dan user friendly. Oh ya, masalah perawatan, hampir sama dengan helm lainnya. Padding bisa dicopot. Lalu untuk cover transparan bagian belakang, cukup mudah. Sebab, tersedia tiga baut tipe “plus” untuk mencopot cover tersebut. Bersihkan dengan pembersih kaca, dan pasang kembali.

Selain dari kekurangan di atas, Spy Hacker cukup memesona. Level noisenya yang rendah (ini subyektif), kenyamanan internal paddingnya hingga desain yang sport banget, layak jadi pertimbangan. Apalagi dengan fitur double-d ring dan spionnya. Beberapa perbaikan, tentunya diharapkan bisa datang di generasi kedua. Bagi anda yang berminat menggunakan Spy Hacker, bersiaplah merogoh kocek 800ribuan. Selain itu, helm ini juga sudah berhomologasi SNI dan DOT. Tentu saja, tidak ada salahnya memanfaatkan teknologi demi memperkecil resiko ditabrak dari belakang. Harga yang pantas untuk inovasi berkendara. Watch your six, and have a nice ride.(hnr)

Iklan

13 comments on “Moto Review : INK SPY HACKER, Helm Dengan Spion. Pertama di Indonesia

  1. hmmm padahal kalo ada pelindung dagunya keren tuh, bisa untuk naruh hp disitu, trus hp dibuat handsfree jadi bisa telpon2 deh xixixixixixi (seperti yg biasa aku lakukan, tapi berhenti dulu sebelum jalan loh…beru berhenti lagi tuk ngambil hp tuk dimasukkan ke kantong hehehe…masih belum safety riding ya??)

    • @theo, menerima/melakukan panggilan telepon boleh bro. Siapa tahu ada yang penting, entah itu kabar baik, buruk atau klien dan bos yang nyariin. Kita kan gak pernah tahu. Tapi melipir aje dulu alias berhenti, takutnya hilang konsentrasi, nanti bisa berabe bro. Ane dah pernah jadi saksi mata orang ditabrak dari belakang gara-gara sibuk ngobrol via hape. Ngeriii bro…. ride safe….

      smart bastard! https://bodats.wordpress.com http://catatansipejalan.wordpress.com

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s