Moto Experience: Uji Coba Pulsar 220 “Yang Suka Kencang”

Setelah gagal mengujinya di hari Selasa (8/3) karena kesibukan, berbarengan dengan rekan-rekan media, penulis akhirnya berhasil mencoba motor keluaran terbaru BAI (Bajaj Automotif Indonesia) ini, Rabu (9/3) kemarin. Bertempat di sirkuit Sentul, Jawa Barat, bersama dengan rekan-rekan komunitas pulsar dan juga beberapa blogger, penulis berusaha memaksimalkan kesempatan ini, untuk merasakan motor yang dibanderol 18.6 juta ini. Mudah-mudahan artikel ini tidak membuat bosan, karena sudah begitu banyak yang membahas P220.

Ok, saat duduk di jok depan (kalau di belakang, gak mungkin. :D), dengan tinggi 176cm dan berat badan 80 kg, penulis merasakan ergonomi yang ideal. Riding Posture tidak terlalu menunduk, atau juga tegak. Posisi tangan tidak perlu menjangkau jauh ke depan. Semuanya serba pas! Posisi kaki ke footstep juga langsung “klik”. Ini mengaburkan pandangan penulis, saat mengamati rekan-rekan dari Pulsarian mencoba sebelumnya. Awalnya mengira akan seperti mengendarai Ninja250R. Tapi tidak demikian.

Setelah mengenakan riding gear, langsung membejek gas. Pada lap pertama, penulis tidak terlalu memaksa sang mesin. Hanya berkendara “normal” saja, tidak perlu gaya rebah ala Stoner atau Rossi. Kecepatan tertinggi cukup di level 100 km/jam di trek lurus, dan hanya berani 70-80 km/jam di tikungan. Alasannya sederhana, beradaptasi dahulu, supaya mengenalnya. *trauma melihat Ducati Diavel Accident*

Anggota dari Komunitas/Klub Pengguna Pulsar bersiap-siap start.

Saat lap pertama, penulis langsung merasakan satu hal tentang P220 yang istimewa yaitu keseimbangan yang ciamik. Hal ini terbukti ketika memasuki tikungan, lalu keluar dan langsung bejek gas, tidak terasa bagian buritan diluar kendali. Bagian depan, juga demikian. Mantab menahan goncangan dari tambalan aspal sirkuit Sentul.

Input from fellow bloggers

Setelah beradaptasi dengan motor dan kondisi sirkuit, saat lap kedua, selepas tikungan terakhir langsung tariks gas. Sesuai saran dari bro Adet, agar mengurut gas supaya akselerasi terjaga, maka penulis lakukan itu. Dan hasilnya, di track lurus diraih kecepatan 115 km/jam. Lalu mendekati R1, langsung coba downshifting ke gigi 4, good engine break! Lalu turun lagi ke gigi 3, maknyus! Rem depan juga disertakan untuk menjaga laju dan keseimbangan. Masuk tikungan di kecepatan 90 km/jam. Keseimbangan tetap mantab! Tidak ada gejala “geal-geol”. Dan sikat terus melewati R2 hingga tembus kecepatan 110 km/jam. Nah saat mendekati R3, terlalu cepat menurunkan persneling ke gigi 3, sehingga ban belakang sempat “ngesot”. Tetapi lagi-lagi, motor tercepat di India ini tidak liar, masih bisa dikendalikan.

Keseimbangan saat melibas S kecil dan S besar di Sentul, membuktikan P220 benar-benar memerhitungkan karakter pengendaranya. Dengan tenaga 21 PS pada 8.500 rpm, tagline “Yang Suka Kencang” memang pantas melekat. Dan terbukti, motor ini sangat stabil dikendarai pada kecepatan tinggi. Sekali lagi, penulis merasa salut dengan kestabilan motor ini. Di final lap (penulis langsung tambah 1 lap :D), berhasil mencapai angka cantik 123 km/jam. Ini dikarenakan lepas tikungan terakhir, gas langsung dibetot, tidak diurut. Terbawa suasana. 😀

Wusss.... 😀

Well, sebenarnya P220 ini bisa dibawa lebih cepat lagi. Beberapa blogger seperti Adet dan Haryo mencapai kecepatan 130-an km/jam. Begitu juga dengan Triyanto dan Alex yang menyentuh angka mendekati 130an. Menurut pihak BAI, test rider dari salah satu media otomotif berhasil mencapai kecepatan 134 km/jam. Namun, saat brief kita diberitahukan bahwa rpm dibatasi hanya sampai 10.000. Alhasil, saat penulis mencoba membuktikan, ketika jarum menyentuh angka 10.000, walaupun tuas gas ditarik sampai full, motor tidak akan melaju lebih kencang.

Saat test ride, Pulsar 220 memberikan performa yang memuaskan. Mesin 220-nya responsif. Sementara keseimbangannya juga tidak mengecewakan. Panel instrumen di dashboard pun bisa dilihat sangat jelas. Bahkan pada kondisi siang hari terik sekalipun. Sementara untuk rem yang dilengkapi dua cakram depan/belakang, bisa diandalkan. Yang penting tahu cara penggunaannya yang benar.

Lalu bagaimana dengan fairing? Analisa penulis, ini bukan sekedar baju baru seperti yang kerap dilakukan oleh pabrikan sebelah. Tetapi lebih kepada prinsip “form follow function” dimana fairing ini memang memiliki fungsi. Dengan adanya fairing ini, penulis menemukan kestabilan yang mumpuni saat di trek lurus. Tidak ada gejala goyang. Baik di bagian depan, atau belakang. Sementara stang kemudi, tidak ada getaran yang dirasakan. Mudah dikendalikan dalam manuver cepat.

Spion tidak lebih ebar dari stang, amankah?

Bicara soal desain, sekilas memang tidak ada yang berbeda selain penempatan fairing. Tetapi jika dilihat secara detail, ada beberapa perbedaan. Lampu depannya, berbeda dengan versi 180/200. Dan ini menggunakan DC bukan AC. Artinya, lampu akan tetap menyala, sekalipun mesin mati. Lalu posisi besi handle di belakang, yang memiliki ujung terpisah. Namun ada satu yang mengganjal penulis, yaitu posisi kaca spion. Jika kita bicara bentuk, pastinya subyektif. Namun harus dikatakan, posisi spion yang sedikit terlalu ke dalam, aga mengganggu. Menurut penulis, dan sekali lagi ini subyektif, daya pandang ke belakang jadi berkurang. Semoga ini bisa dipertimbangkan bagi pihak BAI. Oh ya, side stand P220 juga agak sulit diraih. Mungkin BAI bisa mencari cara agar pengendara tidak kesulitan untuk menggunakan side stand ini.

Sidestand sulit untuk "dicongkel". Posisi terlalu rapat dengan footstep.

Lalu soal acara, berlawanan dengan bro Benny yang memuji ketersediaan perlengkapan riding, penulis justru ingin memberikan kritik. Terutama soal riding gear. Sebagai komparasi, pabrikan lain pernah mengadakan test ride di tempat yang sama, dengan perlengkapan yang lebih komplit. Selain jaket, helm dan sarung tangan, tersedia juga riding shoes merk lokal yang sudah ternama di kancah balap. Nah waktu test ride P220, itu tidak disediakan. Dalam pengamatan penulis, beberapa busa protektor kaki juga lepas, termasuk yang digunakan oleh penulis sendiri. Memang  sebuah minor fault, toh penulis dan rekan-rekan yang lain tidak pakai sendal jepit ke Sentul. 😀 Tetapi, untuk acara yang akan datang, alangkah baiknya menyediakan full riding gear untuk test ride. Artinya para undangan, hanya “bawa badan” saja ke Sentul. Kritikan ini juga berlaku buat pabrikan lain. Tapi toh kekurangan ini tidak terlalu menonjol. Apalagi ketika penulis menemukan tersedianya tempe mendoan saat makan siang. Ini baru terobosan! (Oh ya tak lupa dengan iringan band live music yang terus mengendungkan musik-musik Coldplay dan top 40).

Mendoan adalah salah satu elemen penting dalam test ride. Ini fakta! :mrgreen:

Lalu apa kesimpulannya? P220, tanpa bermaksud promosi, dapat dijadikan salah satu pilihan bagi bebekers yang ingin menambah koleksi motor, atau anda yang ingin mengganti tunggangan sport. Dari sisi tenaga, memang perlu pembuktian lebih lanjut apakah lebih besar dari Tiger dan Scorpio. Tapi dari sisi komparasi kapasitas mesin dan harga, sungguh P220 mampu menggoda. Namun demikian, BAI harus siap dengan layanan purna jual dan juga daya produksi. Sehingga, konsumen yang membutuhkan fast moving parts tidak perlu menunggu lama untuk sebuah suku cadang. Dan juga calon konsumen tidak bete menunggu berbulan-bulan hanya untuk sebuah motor barunya tiba di rumah. Jika “pekerjaan rumah” itu dikerjakan, bukan tidak mungkin P220 menjadi favorit pengguna roda dua. (hnr)

Iklan

14 comments on “Moto Experience: Uji Coba Pulsar 220 “Yang Suka Kencang”

  1. bentuk motor memang ciri khas bajaj, masih sulit diterima kebanyakan orang. tapi spek dan harganya patut mendapat acungan jempol. biar produsen jepang gak mainin harga seenaknya.

  2. kayaknya mendoannya enak *halah.. OOT banget :p

    18.6 jt, modif bodi dikit biar lebih ‘pas’ sama selera, kayaknya masih lebih mahal harga tiger deh :mrgreen:

  3. Ping-balik: Wah bener juga, Pulsar 220 berani di test di Sentul, kenapa CBR 250R di Kanjeran??? « Blognya Arantan

  4. Bajaj Harus Segera Kembali ke Indonesia dan menetap di Indonesia dan bikin pabrik di Indonesia, Harus!!!!!!

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s