Berkeliling Dunia ala Biker Canada

Di Kawasan Alpine. Foto: Dan

Iri. Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan teman-teman otoblogger Indonesia, yang Jumat (12/3) malam mengobrol banyak dengan Dan, biker asal Canada, di kantin MKT, Kuningan, Jakarta. Dan serta kekasihnya, Claire, tengah melakukan perjalanan keliling dunia menggunakan sepeda motor. Bagaimana tidak, sebagai biker, otobloggers pasti ingin sekali melakukan hal yang dilakukan pasangan kekasih tersebut. Berkendara selama 1,5 tahun, menjelajahi 30 negara, menempuh jarak 65000 km dan mendirikan tenda di tempat-tempat yang hanya bisa dilihat di kalender petualangan atau artikel media petualang. Mantab!

“We prepared for this trip for four years. Paperworks and everything.” ujar Dan saat ditanya soal persiapannya. Ketika Nadi bertanya soal pekerjaan, Dan menjawab, “Well, i leave my job for this trip. But, after this, i’ll back to work. Right now, i just want to enjoy this moment.jawabnya ringan sambil menyeruput kopi hitam. Ketika penulis menanyakan soal kesan Dan selama di Indonesia, ia menjawab di luar dugaan penulis. Tadinya penulis pribadi berharap Dan akan berbicara soal ruwetnya lalu lintas Jakarta, atau korupnya aparat. “Jakarta is a fine city. Crowded, but it’s ok.” ujarnya mantab. “Indonesia Police is ok. So far, i never give any money to Police in Indonesia. When they saw me on the road, they just wave and say hello. It much better than in other countries where i had to give something. ” tambahnya lagi.

Cap Cis Cus Bareng Otobloggers

Penulis pun tidak lupa menanyakan “The Road of Bones”, jalan raya legendaris yang telah diexplore ole Ewan McGregor dan Charley Boorman dalam ekspedisi legendaris “The Longway Round” di Rusia. Dan menjawab dengan antusias, “Ya, we crossed that road. But we also crossed the more extreme road.” Saat di Bolivia, Dan tidak lupa pula untuk menjelajahi “Jalan Raya Paling Mematikan di Dunia” yaitu sebuah jalan raya yang berukuran tidak terlalu lebar, yang terletak antara LaPaz dan Coroico. Jalan raya ini persis berada di pinggiran punggungan gunung, dengan jurang terbuka di sebelahnya, sedalam ratusan meter, yang siap menelan korban. Itu pun hanya secuil dari pengalaman Dan & Claire yang diceritakan.

Dan & Claire tidak menggunakan moge enduro yang terkenal akan iklan dan harganya yang mempunya efek “wow”. Mereka hanya menggunakan dua buah motor Yamaha XT250. “Mesinnya mempunyai basis seperti Yamah Scorpio”, tambah Dono, blogger yang memertemukan kami malam itu. Mengapa menggunakan XT250? Dan menjawab, “It’s light, and easy to maintenance. The reason is, when it got broke or trouble, i can fix it by myself. But if i use some big  motorcyle like the GS series or others, i need a mechanic to do that. So, i chose the simple but a good one. So far, the motorcycles delivers what Claire and i want.” jawabnya. Tetapi ketika di Indonesia, motor Dan sempat diperbaiki oleh mekanik lokal karena terjadi  masalah di air intake-nya.

Di Qetena Grande, Bolivia. Foto: Dan

 

Di Qetena Grande, Bolivia. Foto: Dan

 

Bersepeda menelusuri "Jalan Raya Paling Berbahaya" di Bolivia. Foto: Dan

Bicara soal Gadget, Dan mengatakan bahwa ia hanya mempunyai 1 gadget berbasis GPS dan smartphone. Tetapi ia jarang menggunakannya. “I rarely use it. Don’t depend much on it. Just read the road sign, and eventually had to ask local people. It proves efficient.” Dan Nadi, dengan logat jawanya yang kental, ikut menimpali, “Yes, in here, you ask the tukang ojek. They know all the road!”. Sontak semua yang berada di sana tertawa.

Di Qetena Grande, Bolivia. Foto: Dan

Saat ditanya soal biaya, Dan menyebut angka US$ 60.000 sebagai estimasi biaya. Jika dirupiahkan, mendekati 600 juta. Itupun dengan catatan, Dan & Claire mendirikan tenda di tempat mereka berada. Atau menerima kebaikan biker lokal yang memersilahkan mereka untuk menginap di rumah/kediaman biker tersebut. Sepertinya, Dan & Claire selalu mendapat sambutan khas biker kemanapun mereka berada. Mereka tidak pernah menginap di hotel berkelas. Sebuah komitmen. Selama di Indonesia, Dan dan Claire menginap di rumah Dono, ketua Prides yang juga blogger.

Sebelum "diculik" PRIDES, foto bareng dulu. 😀

Indonesia adalah titik terakhir perjalanan Dan dan Claire.  Motor mereka akan diterbangkan ke Canada melalui cargo. Biayanya pun cukup murah, sektiar 16 juta saja. Paling lambat 1 bulan tiba di sana. Nah, yang menarik adalah pernyataan Dan ketika Benny bertanya, mungkinkah motor pulsar melakukan itu? Ia menjawab, “You can if you want it.” Ini baru pernyataan seorang petualang. Dear Dan & Claire, thanks for sharing so much with us. Have a nice flight back to Canada. God Speed!(hnr)

website perjalanan Dan & Claire: http://www.scruffnmuffin.com

Iklan

14 comments on “Berkeliling Dunia ala Biker Canada

  1. aseli keren banget dah mereka,,,,,pengen ketemu ma orangnya langsung,,,kagak bilang2 u mas boz,kalo ada petualang mampir,,,, 😦
    sebelum keliling dunia, lebih baik keliling indonesia dulu, kalo belom sempet juga, keliling jawa dulu, kalo gak bisa juga, jawa barat aja dach,,,gimana neh mas boz….berangkat kita.????

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s