Ngobrol santai dengan Adet 7gear

Hujan yang mengguyur kantin MKT (Mega Kuningan Timur) malam itu ternyata kurang ampuh menggugurkan minat sekelompok bloggers dan biker untuk berkumpul dan obral-obrol soal otomotif. Ya, Jumat (6/5) malam lalu, Oto Bloggers Indonesia alias OBI bikin forum santai dan mengundang rekan-rekan pembaca, biker dan juga blogger. Tanpa memerdulikan cuaca yang kurang mendukung, dan juga situasi lalu lintas Jakarta yang semrawut, acara yang disebut Kombi#1 (Kombi = kompor OBI) ini berlangsung sumringah penuh canda tawa.

Adalah produsen 7gear yang menjadi narasumbernya. Bro Adet, sang juragan 7gear sudah siap dengan berbagai pertanyaan para peserta diskusi. Tercatat ada otobloggers seperti Edo, Nadi, Saranto, Benny, Soemarlin, Igfar dan penulis sendiri. Sementara dari komunitas ada rekan-rekan KHCC (Karisma Honda Cyber Community) yang kebetulan gagal kopdar, dan memutuskan ikut ngobrol bersama.

bro Adet Vriono

Diskusi berlangsung cair, dengan bumbu canda khas biker. Bro Adet, didaulat langsung untuk menjelaskan sejarah berdirinya 7gear. “Awalnya sih saya tuh hobi turing. Dan suka membeli riding gear merk terkenal dari luar negeri. Nah sejak saya beli itu, ada sedikit pemikiran, kok gak ada yah produk lokal yang bisa bikin seperti ini? Masak biker Indonesia harus merogoh kocek jutaan rupiah, hanya untuk membeli sepatu riding?” ujarnya membuka obrolan. Dari situ, Adet pun memberanikan diri untuk mencari tahu perihal produksi sepatu dan sejenisnya. Tak hanya itu, ia juga mencari tahu perihal bagaimana proses produksi garmen. “Saya juga suka beli jaket motor dari luar, dengan harga yang lumayan mahal. Dan karena itu, saya coba cari tahu tentang produksi barang tersebut.” Tegasnya lagi. Adet mengakui, bahwa dia tidak serta merta langsung terjun ke bisnis perlengkapan berkendara. Awalnya, pria pengguna Thunder250 ini mengaku hanya berani memproduksi kaos untuk kalangan distro/toko fashion anak muda. Tak lama kemudian, ia mulai berani merancang produknya. “Kalau mau langsung, waktu itu masih ragu. Kira-kira laku gak ya? Lalu, modalnya juga lumayan. Makanya saya coba yang skala kecil saja. Tapi, ternyata bisnisnya lumayan berhasil. Sejak itu mulai mantab memersiapkan diri berbisnis di bidang ini.” Ujarnya lagi.

Ngeriung ala bikers

“Roma tidak dibangun dalam waktu semalam” demikian bunyi pepatah kuno. Artinya, sebuah keberhasilan membutuhkan proses yang matang dan mengalami masa-masa sulit. Sepertinya, Adet pun demikian. “Awalnya agak takut juga. Kan sudah punya pekerjaan. Ngapain juga bikin usaha? Bagi waktunya repot, belum ngurus yang lainnya. Tapi dari situ saya pertimbangkan. Dan setelah melihat tidak ada masa depan di pekerjaan yang tengah saya jalani, karir yang tengah saya bangun, maka saya putuskan untuk keluar dari pekerjaan. Padahal itu perusahaan lumayan sekali gajinya. Dan saya juga beberapa kali dihubungi pihak HRD, untuk memastikan apakah benar saya mau mengundurkan diri. Saya tetap pada keputusan.” ungkap mantan karyawan sebuah BUMN tersebut.

Sejak itu, Adet berjibaku dengan berbagai persoalan bisnis. Mulai dari administrasi, manajemen, produksi hingga tetek bengek lainnya. Ia juga sadar, bahwa untuk terjun ke bisnis, tidak boleh setengah-setengah. “Harus nyemplung sekalian. Gak bolah Cuma basah sedikit. Harus benar-benar terjun! Kalau tidak begitu, hasilnya gak akan maksimal.” Tegasnya.

Bertransisi dari seorang karyawan yang menerima gaji bulanan, menjadi seorang wiraswasta yang mengelola bisnis sendiri, merupakan tantangan yang berat, tapi harus dijalaninya. “Pepatah orang tua dulu, yang mengatakan ‘kalo bangun siang, rejekinya dipatok ayam’, itu benar sekali. Sejak serius menjalankan bisnis ini, saya bangun pagi, lalu melakukan bisnis. Kalau tidak begitu, kita bisa kehilangan kesempatan. Saya juga belajar menjahit, supaya tahu, bagaimana kesulitan teknis seorang penjahit menjadikan sebuah produk dari sebuah konsep. Dari situ, saya bisa lihat, sejauh mana sebuah ide bisa dieksekusi menjadi produk yang diinginkan.” Belum sempat Adet menyelesaikan kalimatnya, Benny bertanya, “Ente belajarnya di kursus menjahit Juliana ya?” Sontak hal itu membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. Maklum saja, bagi yang sudah bersekolah di era 80-90an, nama Juliana itu terkenal sebagai pusatnya kursus, termasuk menjahit. 😀

Ketika disinggung, darimana nama 7gear berasal, Adet menjawab, “Nah itu agak unik juga. Beberapa tahun lalu, saya mengikuti sebuah safety riding course. Dan instrukturnya bilang ada tujuh perlengkapan berkendara yang mesti dikenakan. Mereka menyebutnya seven gear. Dari situ, saya langsung muncul ide. Dan mulailah mencorat-coret ide tersebut menjadi merk yang dikenal hingga saat ini.”

[saat ini, Benny sibuk pamit izin latihan bermain band, sementara Dono dan Rial baru saja datang]

“Produk apa saja yang lagi banyak permintaannya?” tanya bro Edo, yang kerap dipanggil Eyang Edo oleh rekan-rekan otobloggers.

“Saat ini lagi banyak permintaan sepatu. Setelah itu, tank bag progressnya lumayan. Hal ini bisa dimaklumi. Sebab, sepatu ini terhitung produk baru. Sementara Tank Bag itu udah produk generasi pertama. Namun, Tank bag generasi kedua juga sudah siap.” Jawab Adet. (Penulis sendiri sudah meminang sebuah tankbag untuk N250)

Adet lalu melanjutkan, “Kami sedang tahap proses pengemangan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan. Begitu juga beberapa desain produk baru, yang saat ini dalam tahap final desain dan riset. Maklumlah, masih skala kecil.” Ujarnya merendah.

Berbagai tipe 7gear boots (ki-ka): Sportmax Short, Sportmax Long, Viper Short

Kecil bukan berarti cupu. Paling tidak itu yang bisa dikatakan tentang 7gear. Soal layanan after sales Adet bahkan meminta informasi jika ada kerusakan saat penggunaan. “Kalau dalam hitungan sebulan, ada permasalahan, misalnya kualitas lem lepas, sol copot atau resluiting rusak, silahkan hubungi 7gear. Kita akan coba perbaiki. Yah ini juga kan masukan buat 7gear.” Tegasnya. Ini sebuah langkah yang patut diacungi jempol, mengingat ada produsen sepatu riding yang kurang perduli terhadap kualitasnya.

Saranto & Edo "interogasi" bro Adet 😀

Saat diskusi, semua peserta asik melihat-lihat berbagai jenis tank bag dan beberapa model sepatu. Untuk tankbag sendiri, tersedia untuk berbagai jenis motor. Mulai dari Tiger, Scorpio, KLX hingga Ninja250. “Pada dasarnya sih, kita berusaha membaca segmen yang ada. Kebanyakan yang menggunakan tank bag adalah biker yang enggan menggunakan box di motor. Jadi kita coba penuhi kebutuhannya dengan tank bag tersebut.” Ujar Adet menjelaskan. Tank bag ini variatif harganya. Mulai dari 100ribuan, hingga 300ribuan. Ada tipe yang bisa memuat 1 helm full face atau open face. Berbagai produk ini sudah melewati proses QC yang cukup ketat seperti yang ditutukan oleh Adet.

Ketika ditanya soal media marketing, Adet mengakui belum  memaksimalkan penjualan via media web. “Saya akui, belum maksimal di situ. Hingga saat ini, produk 7gear dikenal murni dari mulut ke mulut. Yah siapa lagi kalau bukan rekan-rekan biker di klub/komunitas. Ke depannya kita akan coba maksimalkan web. Tetapi untuk pemesanan, kita sediakan layanan lewat web. Silahkan pilih produk, ukuran dan kita akan kirim begitu uang transfer masuk. Namun, masalahnya, orang Indonesia cenderung ingin melihat barang secara fisik dahulu, baru memutuskan untuk membeli. Ini yang harus kita penuhi. Tidak jarang, saya ketemu sama rekan-rekan biker yang ingin beli produk tertentu.” Jawab pria yang sering bolak-balik Jakarta-Bandung ini.

Adet sadar, jika ingin berkembang, maka ia harus mempunyai jaringan distribusi. Itu sebabnya Adet tidak membuka toko, melainkan memberikan pilihan kerjasama sebagai penjual (reseller) kepada rekan-rekan biker yang ingin mempunyai usaha. “Saya cuma sediakan stockist. Jadi, reseller bisa mendapatkan produk. Kalau saya buka toko juga, kan terlalu terpusat. Jadi ingin membuka jaringan distribusi juga. “ ujarnya sambil menikmati suguhan roti bakar.

Malam sudah semakin larut, dan angin dingin mulai menerpa kulit ketika jam menunjukkan pukul 23.30. Akhirnya diputuskan untuk menyudahi Kombi#1 ini. Adet mengucapkan terimakasih kepada para peserta Kombi#1. Beberapa rekan, mengobrol santai dengan bro Adet menanyai soal produk dan juga harganya. Setelah itu, pasukan bubar jalan. Setelah mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan Prides alias “penunggu” MKT, Kombi#1 resmi selesai dengan kadar yang memuaskan. Sukses untuk 7gear!(hnr)

15 comments on “Ngobrol santai dengan Adet 7gear

  1. pulang kantor jam 4 sore, padahal kantor di kawasan mega kuningan juga, tiap hari lewat situ, acara jam 7, mau balik dari rumah ke sana kok males ya? moga2 lain kali pulang kantornya jam 7 biar bisa ikutan

  2. Ping-balik: Keris 7 Gear « alonrider

  3. Ping-balik: Njajal Boot 7 Gear di Kombi 1 « Triyanto Banyumasan Blogs

  4. 7GEAR SPORTMAX nya susah banget dicariii. Selalu stock lagi kosong. Bantu donk kira2 dimana bisa dapetin tanpa inden. Size 44-45

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s