Blogger Mencoba Motor Baru, Pentingkah?

Ini adalah sebuah artikel berdasarkan diskusi dengan beberapa kawan, minggu lalu. Semua berawal dari obrolan ringan, dikala senggang, sambil menikmati beberapa cangkir kopi dan cemilan. Ada dua orang kawan, yang satu adalah seorang pekerja konstruksi, sementara satunya lagi pekerja kantoran, di bidang marketing. Semua diskusi berawal dari iklan yang dilihat oleh si pekerja konstruksi, sebut saja namanya Mamat.

“Wuih, ada produk baru dari Honda tuh! Dat, lu biasanya diundang buat test ride? Kagak dapet?” tanya Mamat dengan penuh semangat.

“Gue gak dapat undangan. Sepertinya terbatas, tapi santai saja. Namanya juga blogger. Bukan pekerjaan, just for fun. Plus bisa kasih manfaat ke orang lain. Emang kenapa?” tanya saya lagi.

“Jiah, dia nanya lagi. Pan biasanya lu diundang tuh kalo soal gituan, eh maksudnye, soal permotoran. Eh tapi, kenapa sih mereka undang lu? Emang lu wartawan?”

“Bukan, gue kan blogger.”

“Lah, bedanya sama wartawan apa?”

Ini pertanyaan yang cukup tajam dari seorang pekerja yang tidak sempat bercengkrama di dunia maya. Saya butuh waktu beberapa saat sebelum menjawabnya.

“Blogger itu orang yang suka nulis, medianya Internet, namanya blog. Dia boleh nulis apa saja, tentang apa saja. Dan tulisannya itu bisa dibaca oleh banyak orang. Badanya sama wartawan, biasanya blogger nulis bukan karena duit, kerjaan atau disuruh atasan, tapi karena kesukaannya tentang satu hal. Misalnya saja, ada blogger yang suka dengan fashion, dia nulis tentang fashion. Atau ada yang suka tentang makanan, maka dia akan nulis pengalamannya nyobain makanan dimana-mana. Kalau wartawan kan, gak bisa sebebas itu. Mereka ada agenda tersendiri. Semuanya diputuskan dalam rapat redaksi. Terus turun atau tidaknya tulisan mereka, juga melalui mekanisme redaksional. Yah intinya, blogger lebih bebas dari wartawan.” jawab saya.

Mamat mengangguk-angguk. Lalu dia bertanya lagi, “Nah, kenapa juga lu diundang? Kan udah ada wartawan? Apa untungnya yah buat pabrikan ntuh?” Lagi, sebuah pertanyaan tajam yang tidak pernah saya kira.

“Begini bung!” Udin (bukan nama sebenarnya), seorang pekerja marketing tiba-tiba saja menginterupsi diskusi kami berdua. “Dalam bidang marketing, atau pemasaran, ada yang namanya Ke O El (KOL). Itu kependekan dari Key opinion Leader. Nah mereka ini adalah orang-orang yang kredibel di bidangnya, sehingga pendapatnya sangat berpengaruh bagi orang yang ingin membeli sebuah produk. Contohnya, sebuah peralatan medis. Katakanlah mesin USG. Nah si rumah sakit gak mungkin percaya begitu saja apa kata si salesman. Mereka harus mendengar rekomendasi dari para Dokter yang menggunakan alat tersebut. Dokter-dokter inilah yang disebut dengan KOL. Dari merekalah pengaruh keputusan dibeli/tidaknya sebuah peralatan bagi rumah sakit ditentukan….” Udin menenggak es teh manis sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Sama halnya kayak blogger. Nah, karena blogger ini orang yang pada awalnya nulis karena menyenangi sesuatu, biasanya, mereka akan terbuka terhadap hal-hal yang dialaminya. Subyektif sih jadinya, tapi di sini khasnya blogger. Misalnya, kalo blogger makanan di kasih sample produk saus terbaru, dan dicoba, lalu dituangkan dalam bentuk tulisan di blognya, orang akan paham, saus ini enaknya buat ayam bakar, ikan goreng atau sayur capcay. Memang tidak ada korelasi langsung, tetapi intinya, blogger mampu mempengaruhi persepsi atas sebuah produk di benak konsumen. Dengan apa? yah dengan tulisannya yang khas tersebut. Nah, dalam konteks otomotif, blogger kayak si bodats ini biasanya diundang untuk mencoba produk mereka (pihak atpm) yang ingin mendapatkan masukan atau kritikan. Nah, jika pengalaman si blogger dituangkan dalam bentuk testimoni/review, biasanya para penikmat otomotif lebih suka. Karena blogger cenderung lebih dekat, karena berdasarkan pengalamannya. “

“oh gitu. Sebentar. Gue dah paham soal blogger kayak si kampret satu ini,” ujar Mamat menyengir nakal ke saya.

“Tapi yang gue kurang paham, apa iya si blogger bisa memengaruhi perpes, eh apa itu namanya?”

“Persepsi!” ujar Udin.

“Yah itu. Mampu gituh ngaruh ke si pembeli, atau calon pembeli?”

“Itu tergantung. Pembaca blog itu bukan orang sembarangan, yang notabene, adalah orang-orang yang haus akan informasi. Jadi bukan pembaca pasif yang bisa dibohongi begitu saja. Jadi, kalau tulisannya cuma berisi puja-puji, yah lama-lama orang males membacanya. Masak ada kekurangan sebuah produk, tidak dikasih tahu? Benteng blogger itu cuma kredibilitas. Dan itu hanya ada di tulisannya. Sekali tulisannya tidak berkualitas, atau sibuk memuja sana-sini, dipastikan akan ditinggalkan oleh pembacanya. Maka dari itu, kantor gue pernah berdiskusi dengan sebuah firma marketing. Mereka bilang, blog dengan hits tertinggi belum tentu KOL. Hits mungkin tinggi, tetapi sejauh mana konten dari blog tersebut mampu memengaruhi calon konsumen atas sebuah produk.” ujar Udin yang tengah menyelesaikan S2 di bidang komunikasi marketing tersebut.

Mamat mengangguk-angguk lagi. Tampaknya dia paham betul apa yang dikatakan Udin.

“Tumben lu fasih banget ngomong soal blogger. Biasanya yang lu omongin cuma target dan tagihan kartu kredit.” ujar saya berkelakar menyindir Udin.

“Ah ente bisa aja sob. Barusan tadi Dosen ane ngebahas soal web marketing, dan dikupas tuntas tuh soal blogger juga. Makanye gue mumpung inget, yah gue muntahin aja semua di sini. hehehehe….” jawab Udin terkekeh. Kawan saya yang satu ini, walaupun berilmu tinggi, jarang sekali berdiskusi serius di luar kantor. Baginya, keseriusan hanya saat mengejar target penjualan, atau mengakali pembayaran kartu kredit. Sisanya, hidup harus dinikmati, ujarnya.

“eh kembali lagi ke soal Ka O El tadi tuh. Berarti blogger itu KOL ya din?” tanya Mamat lagi, sambil mengunyah combro hangat.

“Gak juga. Seperti yang tadi gue bilang, banyak blogger hitsnya tinggi, tapi kontennya jeblok. Orang cuma baca itu blog, habis itu ya udah. Gak ada pengaruhnya buat si pembaca. Walaupun banyak juga sebaliknya. Hits blognya tinggi, tulisannya lumayan bermutu. Atau ada juga, hitsnya biasa saja, tapi kontennya sebenarnya bagus. Tapi banyak yang ngejar hits dengan konten yang hampir sama, cuma beda judul. Kadang ada blog yang judulnya gak penting banget, tapi justru disukai sama orang. Yah itulah realitas dunia marketing via web. Dari blog itu, biasanya pengaruhnya lumayan jelas.” jelas Udin dengan fasih lagi.

“Nah, okeh. Kembali ke pertanyaan awal gue. Ngaruhnya blogger test ride motor baru apaan? Emangnya bisa blogger nulis sesuka hati? Siap tuh pabrikannya dikritik. Misalnya, rem gak pakem gituh. Atau gasnya ngempos. Bijimane tuh?” Mamat mencecar lagi dengan pertanyaan yang cukup tajam. Saya jadi berpikir, apa yang baru saja dimakan oleh QC Supervisor itu? Tumben, cerdas sekali bicaranya.

“Lama-lama lu kayak Dosen gue. Ya udah, gue jawab. Masalah blogger itu bebas atau tidak, yah itu jelas. Mereka sangat bebas dalam menentukan konten dari tulisan. Lha wong mereka yang punya blog. Tetapi itu semua tergantung kepentingan masing-masing pihak. Bisa saja blogger mencari muka dengan atpm, agar diundang lagi, sehingga tulisannya tidak terlalu tajam. Kritiknya diperhalus, hal-hal yang krusial dibahas secara hati-hati. Tapi ada juga yang langsung bablas, kritik apa adanya. Lu lihat deh tuh blogger India soal otomotif, atau USA soal masalah sosial. Di sana bloggernya kejam. Jelek sedikit, langsung dilibas. Gak tahu juga kalo di sini. Kalo ATPM-nya dewasa, yah gak masalah dikritik. Tapi jadi masalah kalo ATPM-nya punya budaya korporasi yang gak gentle. Malas dikritik. Jadinya lama-lama blogger jadi corong mereka. Disinilah, orang seperti si bodats harus hati-hati. Ya nggak dats?” tanya Udin.

Mendengar pemaparan Udin saya menjadi takjub. Bagaimana tidak, dua orang kawan yang biasanya suka makan dan melirik gadis-gadis manis, kini secara mendadak menjadi bernas dalam berpikir, dan cerdas dalam berdiskusi.

“Lu berdua udah kayak talkshow aje. Ngomong soal gituan serius banget. Gue mah cuma suka ngeblog. TITIK! Yah kalo jelek, kita bilang jelek. Kalo bagus, yah diapresiasi, tanpa puja-puji berlebihan. Soal undangan ATPM, ora urus lah. Diundang kita apresiasi. Kalo gak diundang, yah ngapain juga melas-melas. Inspirasi nulis mah darimana aje.” jawab saya santai sambil mengunyah mendoan goreng plus cabe rawit.

“Ya udah, ntar gue mau minta ajarin adik gue ah. Gmana caranya bikin blog” ujar Mamat. Saya dan Udin saling menatap. Lalu Udin bertanya, “Lu mau bikin blog apaan?”

“Gue mau bikin blog, yang pasti diminati orang banyak!”

“Apaan tuh?” tanya saya penasaran.

“Blog tentang bagaimana bisa ganteng tanpa perlu mandi!” Sontak kami bertiga langsung tertawa. (hnr)

Iklan

35 comments on “Blogger Mencoba Motor Baru, Pentingkah?

  1. menarik…”kambing aja yg ga mandi, laku, malah bisa mahal…!”. tp kalau dirawat dgn apik, ada juga kambing yg berharga 3.8 milyar (liat di TV kemaren/On the spot TV7).

    • @extra, tetap menulis lah… suatu saat itu pasti berguna
      @nunoe, xixixixix ngambek bro… 😛
      @hadi, betul….
      @pak bambang, makasih pak bambang…
      @bence, huss.. sana pergi….

  2. xixixixixi
    kumpulan suara-suara yg gak kelirik lagi (baca:gak diundang lagi)
    yang paling kasar ngomongnya, yg paling diblek lis ya?
    kapok dah setelah kejadian di DDS Cemput, bebek lagi bebek lagi…

    • @odang, jangan dangkal pikirannya bro. coba dibaca lagi tulisannya. Dan tolong jaga itu tulisan ah, masak ngomong jorok sih…

  3. BTG (Benny The Gendut), ente tuh paling fasih ya ngomong pentingnya saling menghargai sesama pengendara, tp ente paling fasih jg dalam urusan menjelek2an orang lain!
    gw curiga ayumi itu ya lo sndiri ato paling ga temen lo sndiri. n gw curiga pula lo tuh kompor di balik retaknya KOBOI cing!!

    • @blade, jiah kenapa melipir ke sana brader? kalem lah… tuh si udin dan mamat aje kalem ngobrol-ngobral…
      @odang, sip sama-sama bro, jangan lupa itu kupinya diseruput, ntar keburu dingin. 😛

  4. mending yg ngaku blogger ternak. Ada yg nyamar netral ngejek2in produk orang lain padahal ternak tulen ato
    emang di gaji atpm tertentu buat ngaku2 netral

  5. boleh ngritik ATPM sepedas pedasnya tapi jangan sampai ngritik Blogger..karena itu tidak berperiketernakan..

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s