Nongkrong, tidak selamanya negatif

Nongkrong, ada yang tahu darimana asal muasal kata ini? Berdasarkan diskusi penulis dengan seorang editor buku, Nongkrong merupakan gabungan dari kata ‘ngongkong’ dan ‘nangkring’. Bedanya, kalau ‘nangkring’ itu biasanya berdiri dengan satu kaki menjejak ke tanah. Sementara ‘ngongkong’, biasanya posisi duduknya terbuka, dan bagian bawah terekspos. 😀 Mungkin, itulah yang menginspirasikan kata ‘nongkrong’ terbentuk dan digunakan. Belum jelas juga, kapan tepatnya istilah ini digunakan. Entah kenapa, sepertinya istilah ini mengingatkan saya akan era 80an, dimana film Catatan Si Boy menjadi fenomena di kalangan anak muda. Mungkin juga, istilah ini digunakan pertamakali oleh para penyiar radio untuk menggambarkan anak gaul (monggo jika ada koreksi).

Sayangnya, nongkrong mendapat konotasi negatif. Biasanya, istilah ini kerap melekat pada sekumpulan orang yang berkumpul, tanpa melakukan sesuatu yang produktif. Misalnya ngobrol yang tidak jelas arahnya sambil minum-minuman keras. Atau bernyanyi tak jelas nadanya, bikin sakit kepala yang mendengar. Istilah ini juga kerap diarahkan ke pemuda pengangguran yang saban malam kumpul di pojokan gang, sambil bercanda tak keruan. *pengalaman jadi pengangguran*

Namun sepertinya definisi nongkrong sendiri sudah mulai terkoreksi. Apalagi kalau bukan karena perkembangan zaman dan juga penetrasi teknologi di kehidupan sehari-hari. Nongkrong bukan lagi milik pengangguran, tukang copet, preman sudut terminal atau juga anak gaul. Semua orang sudah mulai suka nongkrong. Di kalangan gadget freak, istilah ini bisa saja diartikan ngumpul di satu tempat, entah itu café, restoran atau pojok rumah makan sembari membicarakan gadget terbaru. Dan tentunya tak lupa memamerkan gadget favoritnya. Bayangkan, nongkrong membicarakan teknologi, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Bagi penikmat kuliner, artinya bisa lebih variatif. Mulai dari sekedar menyicipi es krim di pojok mall, berburu bumbu penyedap di pasar-pasar, hingga mencicipi kegurihan kuah bakso terkenal di pinggiran kota. Semuanya bisa dijuluki nongkrong. Dan bagi penikmat kopi, nongkrong adalah aktivitas wajib. Duduk-duduk di warung kopi, berbicara soal politik, seks hingga kriminal dan magis, ditemani secangkir kopi. What else do you need? Mahasiswa, pengangguran, pekerja swasta, ibu rumah tangga sampai supir angkot pun suka nongkrong.

Dari kopdar, hingga ankringan. Nongkrong bisa dimana saja.

Dunia biker pun tak ketinggalan. Bedanya, nongkrong di dunia biker kerap disebut kopdar alias kopi darat. Momen ini menjadi medium melepas kangen terhadap sesama anggota, yang mungkin sudah seminggu, dua minggu hingga berbulan-bulan lamanya tak bertemu. Di ajang kopdar, bikers saling curhat, membicarakan trend terbaru, sharing ide-ide perjalanan hingga tukar menukar info tempat makan nikmat. Ada yang nongkrong satu jam lamanya, tapi ada juga yang hingga berjam-jam, sampai dinihari pula. 😀

“Kadang, dari obrolan gak jelas, kita dapat inspirasi menulis ide cerita. Suka atau tidak, itu kenyataan. Nongkrong bolehlah sesekali dalam seminggu.” Ujar rekan penulis, seorang pekerja audio visual. Sementara, Eko, seorang biker pengguna Karisma mempunya pendapat yang sama. “Nongkrong sih boleh sajalah. Yang penting, harus fun, dan yang diajak ngobrol juga nyambung. Kadangkala, dari bercanda, tiba-tiba saja arah pembicaraan jadi serius. Mulai deh curcol alias curhat. Tapi itu bagus. Kita bisa minta pendapat kawan tentang masalah yang tengah dihadapi.” Ujar pria berkepala plontos ini.

Diskusi KOMBI mengambil konsep nongkrong sambil ngobrol santai

Baik atau tidaknya aktivitas nongkrong memang tergantung dari apa yang kita lakukan. Toh produktifitas tidak bisa dinilai dari materi. Bisa saja kandungan diskusi atau obrolan saat nongkrong justru memberikan pencerahan soal kehidupan sekitar. Contohnya, saat saya, Benny, mas tri dan juga aziss berbicara selesai acara buka puasa bersama salah satu atpm beberapa hari lalu.

Waktu itu, karena terlanjur asyik diskusi tentang motor bebek dan juga pasar motor nasional, kami pun melanjutkan pembicaraan dengan nongkrong di salah satu kedai kopi. Jika banyak orang di kedai kopi tersebut asyik bercanda dan tertawa, kita malah sebaliknya. Yang kami bicarakan justru topik yang “berat”. Bayangkan, empat orang asyik berbicara tentang sepak terjang ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) roda dua. Kita gak segan-segan sebut namanya, kelemahan produknya (dari sudut pandang pribadi) hingga berapa duit yang sudah diterimanya dari pembelian masyarakat Indonesia. Bahkan sampai adu argumentasi perihal pentingnya pasar motor di indonesia. Dan juga efek dominonya, jika peredaran produk otomotif dibatasi.

Bukan, kami bukan ekonom, atau ahli finansial yang mumpuni. Hanya saja, itulah kami, memanfaatkan waktu nongkrong yang mahal tersebut, untuk saling berdialog, berdiskusi, kritik dan adu argumentasi. Semuanya dilakukan dalam konteks saling mencerahkan, dan tanpa perlu menggurui. Toh, kita bicara soal kenyataan, bukan angan-angan tak jelas ala pecundang. “Yang mahal bukan berapa biaya beli kopi atau makanannya. Tetapi ilmu dan pencerahan yang didapat dari hasil ngobrol ini.” Demikian ujar Mas Tri sebagai salah satu blogger senior.

Diskusi santai. Topik: dari sepeda motor, sampai rokok kretek.

Dari diskusi tak terencana tersebut, kita cukup paham bahwa ada konsekuensi logis dari pembatasan sepeda motor (jika memang jadi dilakukan). Bagaimana dampaknya secara ekonomi makro, hingga imbasnya terhadap kita sendiri sebagai pengguna produk. Analoginya sama seperti penutupan sebuah pabrik rokok. Lho kok nyambung  ke rokok? Yah namanya juga nongkrong, topik bebas, yang penting cihuy! 😀

Tidak ada standar jelas untuk “durasi” nongkrong. Bisa satu jam, 20 menit atau 3 jam. Topiknya bisa politis, bisa juga magis. Bisa ringan, atau berat. Memang, kadangkala harus merogoh kocek untuk membeli makan, minum hingga mentraktir kawan saat nongkrong. Tapi toh, duit bisa dicari. Materi bisa dibeli. Waktu yang berlalu? Musnah sudah dimakan masa.

Jadi, jika ada waktu luang sedikit saja. Hubungi teman dekat, sahabat, kawan, rekan kerja, atau siapa saja. Ajak mereka untuk meluangkan waktu nongkrong di mana saja. Warteg, kafe, pelataran minimarket, warung kopi pinggir jalan, atau bahkan kedai sederhana di pasar malam. Percayalah, tidak ada yang lebih nikmat, daripada berbagi rasa dan pandangan dengan kawan, sambil menikmati secangkir teh panas, kopi dan sepotong roti bakar. Siapa tahu, ada inspirasi yang mencerahkan di sana. Yuk mari kita nongkrong!(hnr)

Iklan

8 comments on “Nongkrong, tidak selamanya negatif

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s