Masihkah kita butuh motor bebek?

“Produk yang baik, adalah produk yang mampu memberikan nilai tambah bagi pembeli/konsumennya.” Begitulah kira-kira ucapan seorang pakar marketing yang pernah penulis dengar. Sungguh tidak mungkin konsep ini tidak digunakan dan dipraktekkan oleh para produsen, terutama produsen otomotif, dalam hal ini roda alias sepeda motor.

Dulu, kampanye marketing sepeda motor selalu diselingi jargon “hemat bahan bakar dan nilai jual kembali yang tinggi.” Kini, jargon itu mulai terhapus. Kata-kata “hemat” mulai digantikan dengan “efisien”. Dan istilah mesin yang kencang, mulai digantikan dengan istilah “responsif”. Pasalnya, hampir semua produsen selalu menggunakan jargon yang sama. Terserah siapa yang memulai, pastinya yang lain akan mengikuti, walaupun dengan cara yang berbeda.

Nah, ketika Supra X Helm-In muncul, timbul pertanyaan dari seorang rekan penulis. “Apaan sih yang baru dari tuh motor? Cuma bagasi doang? Kagak bisa kasih yang lain apa tuh AHM?” ujar rekan yang juga pengguna produk AHM selama 6 tahun tersebut. Dari namanya, jelas ada sesuatu yang menarik. Helm-In, apa itu?

Sepertinya ini menjadi sebuah trend yang diciptakan oleh AHM untuk semakin memberikan nilai tambah ke produknya. Sadar bahwa jargon top speed, hemat dan kencang sudah tidak berlaku lagi di lalu lintas yang serba macet ini, mereka sepertinya melihat satu peluang yang bisa digunakan untuk merevisi produk bebek favorit ini, yaitu memainkan kapasitas bagasi internalnya.

Kenapa bagasi menjadi begitu penting? Jelas penting. Bagi sebagian pekerja kantoran, dengan semakin menghangatnya suhu udara di pagi hari, kemacetan yang bertubi-tubi dan kebutuhan mobilitas yang tinggi, maka bagasi ekstra menjadi sebuah “bantuan” yang sangat dibutuhkan. Penulis sendiri, sudah hampir 5 tahun menggunakan box di belakang untuk menaruh barang-barang keperluan. Entah itu jas hujan, baju ganti hingga martabak bangka yang maknyus. 😀

Nilai tambah pada motor bebek ini, suka atau tidak menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembeli. Mereka mungkin tak perlu lagi sibuk menaruh helmnya, atau menitipkannya di penitipan helm di mall/pusat perbelanjaan. Ada rasa lebih aman dan nyaman. Nah, ini nilai tambah lainnya! Karena bagasi luas, konsumen tidak lagi harus pikir mau taruh helm dimana.

Lalu bagaimana soal mesin? Penulis berpendapat, jika motor ini digunakan di kemacetan Jakarta yang makin hari, makin “indah”, sungguh tidak ada gunanya bicara performa mesin dan lainnya. Semuanya sudah basi. Kenapa? Berapa kecepatan maksimal di tengah kemacetan? Paling maksimal 10-20 km/jam. Bisa dapat 60 km/jam, saat kondisi lagi ramai, itu sudah “kemewahan” tersendiri. Itu sebabnya, diferensiasi bukan lagi pada seberapa cepat, tapi bagaimana fungsi motor itu sendiri. Dalam hal ini, bagasi ekstra adalah “sesuatu banget”. 😀

Inovasi ini pasti mempunya efek negatif. Salah satunya adalah makin banyak orang yang akan membeli motor tersebut. Dan sudah bisa ditebak, jalanan akan semakin padat dengan produk-produk motor terbaru. Entah itu bebek, sport atau skutik. Alasan efisien dan sederhana, serta praktis akan menjadi jargon terbaru. Ironisnya, jargon-jargon tersebut seharusnya melekat di sarana transportasi massal seperti jaringan bus Transjakarta, monorail atau kereta bawah tanah yang kabarnya tidak bakal dibangun. Jadi, selama transportasi tidak dibenahi, masyarakat masih membutuhkan motor bebek ketimbang berdesakan di bus kota atau kereta. Benny monitor? 😛 (hnr)

Iklan

32 comments on “Masihkah kita butuh motor bebek?

    • Sombong amat yaak..segitu bencinya ama bebek..
      Ckckck
      Kegedean perut susah naek bebek kali..bennie beniee…the great..yg hebat => nama aja dah sombong n sok2 kaya 😀

  1. Jangan suka memaki dengan kata BODOH,orang yang merasa dirinya itu PINTAR biasanya sih orang yang gak pintar, orang pintar akan selalu mau belajar karena menggap dirinya belum cukup pintar.
    Gua inget jaman kecil dulu pas temen2 ane baru belajar Karate, settt baru sabuk putih dah kayak jagoan neon, beda jauh ama Sempai nya yg dah dapet DAN I,II dll.
    Kalo ente nyaman dengan Motor SPorts ya silaken saja, ngapain sibuk maki maki orang dengan pernyataan BODOH , PEMBODOHAN karena beli bebek.
    Kalo gak salah Bro Bodats kan juga punya Supra X ama Ninin kan, kenapa tetap pilih bebek karena emg sesuai ama kebutuhan, bukan karena Bodoh seperti Jargon BAJAI yang selalu menghina Bebek.

  2. jangan menghina pilihan orang lain!!!
    toh mereka punya hak yg sama dalam mengakses fasilitas publik,bner????klo jakrta macet ya perbaiki,jgn mereka yg sgupnya beli bebek(nominalnya murah) dihina mereka yg sgup beli motor pengesek penis(semprot),pdhl space pengosok penis tuh lebih besar dari bebek
    lagian pilihan untuk sesuai kebutuhan masing2,khn???

  3. Ada org gendud biasa ngomong bodoh benci bebek…
    Maklum pny duit sih..klo gak punya ya dia juga nelan ludah sendiri beli bebek murah
    DASAR ORANG SONGONG kata abg labil
    Gentong digedein…isi otak gk ada..dan arogan banget..ckckck..

  4. Saya pikir motor bebek masih sangat dibutuhkan kok, terutama bagi pengguna motor sport dari negaranya Shahruk Khan…. Lha wong beberapa temen dari komunitas motor sport tersebut menyiasati kelangkaan spare part dari motornya yang bisa indent berbulan bulan dengan cara membeli spare part dari beberapa varian motor bebek.

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s