Waspadai Banjir, Awas Mogok!

Sabtu (11/2) malam lalu, penulis merasakan betul akibat langsung dari perawatan berkala si blackbastard a.k.a honda karisma 2003. Pasalnya, di malam yang sesunyi ini, eh maksudnya, di malam yang diguyur hujan tersebut, penulis dengan lancar melewati perjalanan 40 menit tanpa kendalan suatu apapun.

Semuanya bermula saat penulis hendak pulang, setelah sebelumnya bertamu ke rumah bro Alex anggota Detasemen Bunciters 77, satu unit khusus pemburu kuliner sejati. Nah, saat hendak pulang, tiba-tiba saja hujan mengguyur kawasan Pondok Gede dan sekitarnya. Setelah mengecek dengan beberapa kawan, terkonfirmasi (gile, bahasanya keren aje) bahwa hampir semua kawasan timur Jakarta terkena hujan. Begitu juga dengan kawasan Bekasi dan sekitarnya. Untung saja (orang Indonesia, selalu mengucap untung dalam hal apa saja), penulis membawa jas hujan (bukan model batman kasarung). Setelah mempertimbangkan, merenungkan dan mengkhayal, diputuskan untuk menembus hujan.

“Petualangan” menembus hujan deras sudah dimulai sejak bilangan Sumir Pondok Gede. Air hujan yang membasahi bumi (pujangga banget bahasanya), mulai menutupi relung-relung jiwa jalan beton (galau detected). Tapi apa daya, hasrat untuk hujan-hujanan sudah menggebu. Akhirnya tetap dijalankan. Ketinggian air diperkirakan mencapai dengkul orang dewasa, bukan dengkul dewa Brahmana. Blackbastard dibawa dengan kecepatan sedang, 30-40 km/jam. Anehnya, di saat hujan deras tersebut, cukup banyak pengguna motor melaju motornya dengan kecepatan tinggi. Penulis berpikir, mungkin yang bersangkutan hanya ingin melepas BAB.

Sisa perjalanan, kemampuan penulis sebagai motorcyclist maupun blackbastard (jenis motor yang dibenci Bence), kembali diuji. Dari Jalur Auri Pondok Gede, hingga menuju Pekayon, ditemui banyak genangan air yang mencapai lutut upin dan ipin (sesekali menggunakan ukuran bocah ndak masalah toh?). Bahkan beberapa kali penulis terpaksa antri di genangan air. Sempat juga berpikir, Ini jalan raya atau saluran air? Kok tidak ada bedanya?

Mengarungi “lautan lepas” ala jalan raya Indonesia memang tidak boleh sembarangan. “Kalau masuk jalur yang tergenang air, gak boleh langsung bablas. Harus pelan-pelan. Yang penting gas konstan. Kalau langsung bablas, mesin bisa kaget dan bakal mati.” Demikian tips seorang rekan yang gemar mengemudi mobil ke hutan, atau istilah kerennya Offroader. Sementara, mekanik langganan penulis pernah bilang, “Waspadai knalpot mas. Kalau air sudah mencapai knalpot, gas gak boleh mati. Kalo knalpot masuk air, mesin bakal mati.”  Si Mekanik juga  bilang, “Kalau banjir, salah satu patokannya adalah lubang udara/air filter. Teorinya, kalau air filter belum tergenang, motor tetap bisa dikendarai. Dengan catatan, teknik berkendaranya mumpuni dan mesin terawat, terutama di bagian busi.”

Teori tersebut bukan sekedar isapan jempol belaka. Penulis sendiri pernah mengalami banjir selutut Sandra Dewi (tolong jangan minta fotonya) dan motor tetap bisa dikendarai. Namun, motor tetap harus digas poll. Dan selama mengarungi “lautan pasifik” ala Pondok Gede tersebut, penulis tetap yakin. Sayangnya, tidak semua pengendara motor mengantisipasi musim hujan. Beberapa motor, entah itu matik, maupun bebek, satu per satu mulai rontok. Bahkan ada salah satu motor matik yang begitu pedenya langsung menerjang banjir dengan kecepatan cukup tinggi. Namun yang bersangkutan oleng karena gelombang mobil dari arah berlawanan, terjatuh dan akhirnya mengalami mati mesin.

Uniknya, saat penulis tengah menikmati lautan asmara, eh, maksudnya laut buatan, terlihat sebuah motor bebek lawas, Astra Grand, justru asik mencumbui jalanan berair tersebut. Pelan namun pasti, si bebek Astrea melaju santai mengarungi banjir. Entah karena si bapak yang mengendarainya sakti mandra guna, atau memang motornya yang terawat. Yang pasti penulis tidak melihat motor jadoel tersebut tersisihkan.

Well, jika sudah terjadi motor mogok di jalan akibat banjir, ada baiknya jangan buru-buru menstarter motor. Pinggirkan sejenak, bersihkan busi dengan lap kering. Beberapa kawan ada yang menyarankan untuk tidak menggunakan kick starter, karena khawatir air justru akan masuk ke mesin.

Untuk itu, mengingat musim hujan yang sudah mulai datang, mari lakukan perawatan lebih baik lagi untuk motor kita. Toh kocek untuk servis lebih murah ketimbang kita mijet, eh, maksudnya ketimbang turun mesin gara-gara masup aer. Yuk kita pijet, eh, maksudnya kita rawat motor kita, supaya siap melewati cobaan dan tantangan. 😀 Ride safe brads.(hnr)

Iklan

7 comments on “Waspadai Banjir, Awas Mogok!

  1. hahahahaa……..kocak mbacanya…..
    dari pengalaman ane, rerata yang mesin mati habis nyemplung begitu, g konstan gas/jalannya…dah nyemplung gitu pas di tengah jalan sedikit lengah ngurangin gas……cep……mati deh….

  2. sy sering bawa motor lewat banjir..sekira selutut atau sepaha dewi sandra….alhamdulillah gak pernah mati motornya….trus yg jd pertanyaan ane
    1. apa wajib ganti oli.? krn sd skrang blum pernah ganti oli…

    2. apa yg perlu di chek..atau dikerjakan setelah motor tsb melewati banjir..? tenkyu

    • @jaelan,
      1. Ganti oli wajib kalo sudah melewati 1000 km atau lebih bro. Apalagi jika dipakai tiap hari. Coba dicek juga oli secara rutin, berkurang atau tidak. Jika berkurang, konsultasikan dengan dokter kandungan, eh, maksudnya dengan mekanik langganan.

      2. Kalau motor sudah melewati banjir dengan aman, yah ndak perlu diapa-apakan. Tetap berkendara dengan wajar & sambil senyum ceria. 😀 Intinya, kalau melewati banjir jangan langsung digas. Pelan2x, dan yg penting gas konstan. Perhatikan juga ketinggian air. Jangan lupa berdoa sebelum tidur. 😀

  3. Bro, itu bukti bahwa pemerintah kita tuh pinter mendesain jalan. Ketika musim kemarau jadi jalan, dan ketika musim hujan menjadi saluran drainase.

  4. Ane sering nerjang banjir yang udh nenggelemin knalpot, motor msh baik2 aja (Blade 110 cc).. dengan gas konstan lolos banjir tersenyum ceria 😀

    tapi rabu kemaren hujan ekstrem bgt di bdg, dikira ane banjir kyk biasa (paling tinggi selutut) tapi taunya sepaha… pas awal masuk genagan ya kyk biasa ga mogok.. akhirnya setinggi paha atau udh hampir se headlamp … motor langsung mati total

    taunya turun mesin, dan baca2 blog ini taunya masuk lewat filter udara -_- turun mesin habis 500 rb padahl motor baru 9 bulan 😦 ane anak SMA ga punya duit 😥

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s