Nih Dia Kepastian Soal Knalpot

foto: Om Edo

foto: Om Edo

Kemarin (Kamis, 24/2) penulis berkesempatan menghadiri diskusi yang diadakan oleh rekan-rekan FORWOT (Forum Wartawan Otomotif) di aula Garda Oto, Jl. TB Simatupang, Jakarta. Awalnya penulis agak bingung, diskusi ini mau diarahkan kemana. Walaupun, dalam makalah yang dibagian jelas temanya melihat sejauh mana kesiapan produsen otomotif tentang diberlakukannya Euro 3.  Tetapi, karena banyaknya pemberi makalah, justru diskusi nyaris tidak mengarah tentang Euro 3. Apalagi ketika bicara regulasi.

Yang membuat penulis melek lagi, (aseli penulis sempat keluar beberapa kali karena mengantuk, thx to bro Amir yang sudah memberikan nocan sang spg), adalah ketika bro Edo, pejuang rod septih mempertanyakan perihal ambang batas kebisingan knalpot kendaraan. Pasalnya, ini yang jadi momok bagi pengguna knalpot after market seperti penulis dan juga kaum biker lainnya.

“Kita ini sudah didiskriminasi setiap harinya. Umumnya, pengelola gedung di Jakarta tidak terlalu perduli dengan pengendara sepeda motor. Kadang, gedungnya bagus, tapi untuk parkir sepeda motor, justru diarahkan ke luar gedung alias parkir liar. Nah soal knalpot ini kita ingin tanya, implementasi dan koordinasinya bagaimana? Kapan suara knalpot diukur? Apakah saat stasioner (diam), saat digas penuh atau pada kondisi lainnya?” tanya pria beruban yang selalu meluangkan waktunya untuk ngobrol tentang keselamatan jalan tersebut.

Bagi pembaca yang belum tahu, UU no.22 tahun 2009 memang sudah mengatur tingkat kebisingan sebagai berikut:

Pasal 210
(1) Setiap Kendaraan Bermotor yang beroperasi di Jalan
wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas
buang dan tingkat kebisingan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, persyaratan,
dan prosedur penanganan ambang batas emisi gas buang
dan tingkat kebisingan yang diakibatkan oleh Kendaraan
Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan peraturan pemerintah.

Menjawab pertanyaa bro Edo, Deputi II Kementerian Lingkungan Hidup MR Karliansyah menjawab, “Pak Edo, untuk undang-undang yang bapak maksud, itu bukan untuk kendaraan yang sedang digunakan atau sedang dikendarai. Setahu saya, kita belum ada regulasi yang mengatur batas desibel untuk itu. Yang dimaksud dalam UU Lingkungan Hidup adalah kendaraan yang baru saja diproduksi alias keluar dari pabrik. Nah soal Polisi menindak pengendara yang menggunakan knalpot bising, coba saja ditanya, peraturan mana yang dia pakai? Setahu saya, kita belum punya aturan spesifiknya.”

Nah loh, demi topan dan badai, akika jadi tambah bingung booo….

Jika dilihat dari pasal 210 UU. No 22 Tahun 2009, memang tidak dikatakan secara jelas perihal knalpot yang berisik. Tapi hanya dikatakan “…wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan…” Jadi masih rancu karena tidak jelas yang dimaksud kebisingan ini apa? Suara mesin? Suara Knalpot? Atau suara spg yang dibonceng? 😀 Dan di ayat selanjutnya dikatakan akan diatur dengan peraturan pemerintah. Dimanakah PP itu kini berada? Tanyakan pada birokrat yang bergoyang. 😛 Makin bingunglah kita. Di satu sisi, tidak jelas regulasinya. Di sisi lainnya, Polisi tidak menggunakan alat yang tepat untuk mengukur kebisingan. Jadi kepastiannya adalah aturan soal knalpot masih belum pasti. Babad Snalpot terus bergema….(hnr)

11 comments on “Nih Dia Kepastian Soal Knalpot

  1. Say no to knalpot racing
    Bikin UU berisi knalpot selaen standart wajib ditilang di jalan raya umum kecuali untuk keperluan race

  2. realistis aja bro,peraturan tentang tidak adanya peraturan tidak jelas tentang ambang batas kebisingan itu rancu,berdebat dengan polisi ❓ kecuali situ punya urat leher segede kabel listrik,intinya APARAT TIDAK PERNAH DAN TIDAK BISA SALAH mereka punya kalimat sakti MELAWAN PETUGAS YA ❓ 😈

  3. ini yg ter GEBLEG

    Pernyataan itu diungkapkan langsung oleh
    Kasubdit Penegakan Hukum Direktorat Lalu
    Lintas Polda Metro Jaya AKBP Hindarsono
    saat dihubungi detikOto, Jumat
    (13/12/2013).
    Menurutnya, sepeda motor yang
    menggunakan knalpot racing itu bisa
    mengganggu kenyamanan pengendara atau
    masyarakat pada umumnya. Terkecuali
    knalpot yang sudah bawaan dari pabriknya.
    “Lain cerita kalau seperti motor yang
    memang sudah pakai knalpot racing dari
    pabrikan. Yang kebanyak itu mereka kan
    ngebobok sendiri atau beli di toko-toko
    motor. Itu yang akan kita tilang,” katanya.
    Menurut Hindarsono, kalau untuk motor-
    motor seperti Harley-Davidson dan motor-
    motor gede (moge) lainnya yang memang
    knalpot bawaan dari pabrikannya sudah
    berisik tidak akan ditilang.

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s