Waduh, layanan email Blackberry Tumbang! Ada Apa Gerangan?

Diskusi di grup BB OBI...

Saat tulisan ini diturunkan, hampir bisa dipastikan layanan push email, yang jadi primadona telepon pintar merk Blackberry “tewas” seketika tanpa syarat.  Ini bukan isapan jempol. Penulis menemukan indikasi ini saat tengah asyik berdiskusi dengan OBIwan via grup BBM. Awalnya salah seorang blogger, Bono alias Bonce alias Syubhan, mengeluh tidak ada email yang masuk ke inboxnya. Lalu yang lain menyarankan untuk mengirim ulang. Dan ternyata berhasil. Nah anehnya, penulis justru tidak menerima email tersebut di perangkat blackberry. Penasaran, penulis menanyakan kepada OBIwan. Dan terkejut bukan main ketika bro Mimit yang menggunakan Indosat juga melaporkan hal yang sama. Penulis menggunakan XL. sementara rekan penulis yang menggunakan Telkomsel juga mengalami hal serupa. Bro Debby, yang baru saja bergabung ke OBI, yang menggunakan AXIS juga mengalami hal serupa.

Kok ya kebetulan. Pas lagi demo BBM menghangat, dan penolakan masyarakat semakin membesar, komunikasi via blackberry malah “dicoak”. Baca lebih lanjut

Fastest, Siapa Yang Tercepat di MotoGP?

“…Teammate is a misleading term. They are rival on the same biker, on the same color…” kutipan narasi oleh Ewan McGregor itu membuka sebuah film dokumenter berjudul “FASTEST” yang mengangkat realitas yang selama ini menjadi misteri bagi banyak penggemar salah satu olahraga otomotif bergengsi di dunia; Moto GP. Film dibuka dengan pertarungan sengit di pertengahan musim 2009, dimana rivalitas satu kubu terjadi antara Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo dari tim Yamaha Racing. Kedua pembalap, dipisahkan oleh usia dan jam terbang yang terpaut jauh. Lorenzo (21) memulai tahun keduanya di MotoGP, sementara Rossi (30) sudah menjuarai enam gelar kelas premium.

Pertarungan 15 Juni 2009 di sirkuit Catalunya, Spanyol, yang kemudian disebut sebagai “battle of the century” Baca lebih lanjut

Saat di tanjakan, jaga jarak!

Berita: kompas (7/3)

Berita: kompas (7/3)

Saat usapi ngupi n ngeruit bareng OBIwan di salah satu pusat perbelanjaan di Semanggi, karen hujan, maka penulis menyempatkan santai sejenak sambil membaca koran. Dan secara tidak sengaja melihat berita yg dimuat di harian Kompas, halaman 25. Judulnya, “Tak kuat tanjakan, Truk Pasir Menggilas Rohimah”.

Berita tersebut berisi tentang tewasnya seorang gadis remaja bernama Rohimah. Pemudi yg dikenal tertib dan tidak ugal-ugalan saat mengendarai motor tersebut, harus kehilangan nyawa saat hendak menuju rumahnya. Penyebabnya, Rohimah yang saat itu berada di belakang sebuah truk, tergilas kendaraan berat tersebut, yang tiba-tiba mundur ke belakang karena (diduga) mengalami rem blong. Kejadiannya di sebuah jalan menanjak.

Lagi, orang tidak bersalah mengalami naas karena tidak adanya tanggung jawab dari para pemakai jalan. Menyalahkan rem blong atau supir adalah paling mudah. Bagi penulis sendiri, rem blong bukan penyebab utama. Kenapa rem bisa blong? Apakah si supir tidak melakukan pengecekan? Apakah manajemen tidak melakukan perawatan sebagaimana mestinya. Jika kondisi kendaraan bobrok dan tidak aman, mengapa masih bisa beroperasi? Dimana peran petugas?

Tampaknya, kita semua, pengguna jalan harus ekstra waspada saat berada di jalan. Tertib tidak lagi menjamin akan selamat. Harus cermat membaca situasi. Dalam kasus Rohimah, kita harus menjaga jarak saat berkendara. Saat macet, terhenti di tanjakan, usahakan terus monitor keadaan sekitar. Dan waspadai kendaraan di depan kita. Jika terjadi sesuatu, dengan jarak aman, kita masih bisa bermanuver menghindari resiko terlibat kecelakaan. Yuk berkendara dengan empati, memikirkan nasib orang lain atas perbuatan kita. Jangan asal, jangan main serobot, jangan sembarangan. Ride safe… (Hnr).

Kata Santri Muda Soal Internet

Om Edo membuka diskusi

“Kak, apa yang harus kita lakukan untuk mencegah dampak negatif dari Internet?” Coba tebak, siapa yang bertanya hal itu? Penulis yakin banyak pembaca yang mengira pertanyaan itu diajukan oleh siswa sekolah yang sudah mengerti internet. Maaf, anda salah. Yang bertanya adalah seorang anak Pesantren, yang justru belum mendapatkan pelatihan komputer, bahkan Internet sekalipun.

Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang santri (penulis lupa namanya) saat bro Nadi tengah menyampaikan materi pengenalan Komputer, Internet dan Multimedia di Pesantren Ulul Ilmi, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (3/3) kemarin. Diskusi ini diadakan sebagai bagian dari perayaan hari jadi OBI yang pertama. Setelah sebelumnya om Edo Baca lebih lanjut

Antara Pesantren dan Blogger Otomotif

Oto Blogger Indonesia

Blogger Otomotif dan Pesantren? Apa hubungannya? Yah kalau mau dipaksain sih bisa saja. Tapi tidak usahlah dipaksakan, di negara ini, sudah terlalu banyak logika yang dipaksa menerima hal-hal diluar “nalar” sehat manusia. Jadi apa hubungannya? Yah kalau menurut penulis, tidak ada sama sekali.

Tapi yang pasti, OBIwan untuk merayakan ultahnya yang pertama, dengan dana swadaya alias patungan indehoy, mencoba memberikan kontribusi secuil, dan mudah-mudahan bermanfaat. Yah, harap maklum jika kita tidak merayakannya secara hingar bingar. Alasannya sederhana, kita memang menginginkannya demikian. Alasan itu pula yang melatarbelakangi OBI akan merayakan ultah pertamanya di sebuah Pesantren yang dihuni oleh sekitar 300an remaja tidak mampu.

Berkaitan dengan itu, saat tulisan ini diturunkan, komunitas blogger yang baru berumur jagung ini tengah “ribut” di milis internalnya. Baca lebih lanjut