Kata Santri Muda Soal Internet

Om Edo membuka diskusi

“Kak, apa yang harus kita lakukan untuk mencegah dampak negatif dari Internet?” Coba tebak, siapa yang bertanya hal itu? Penulis yakin banyak pembaca yang mengira pertanyaan itu diajukan oleh siswa sekolah yang sudah mengerti internet. Maaf, anda salah. Yang bertanya adalah seorang anak Pesantren, yang justru belum mendapatkan pelatihan komputer, bahkan Internet sekalipun.

Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang santri (penulis lupa namanya) saat bro Nadi tengah menyampaikan materi pengenalan Komputer, Internet dan Multimedia di Pesantren Ulul Ilmi, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (3/3) kemarin. Diskusi ini diadakan sebagai bagian dari perayaan hari jadi OBI yang pertama. Setelah sebelumnya om Edo berdiskusi secara atraktif tentang keselamatan berkendara. Pengenalan? Yah mungkin terkesan kuno. Kok masih perlu pengenalan Komputer dan Internet? Kenyataannya demikian. Pesantren yang terletak di daerah yang jauh dari keramaian ini belum mempunyai pengajar yang tetap untuk melatih IT di tempat mereka.  Disinilah OBI mencoba berbagi.

Mereka bukannya tidak mempunyai lab komputer atau teknologinya. Pesantren Ulul Ilmi memang punya lab komputer, walaupun tidak terlalu canggih. Tetapi yang jadi masalah, hingga tulisan ini diturunkan, hanya 1 pengajar yang mau mengajar pelatihan komputer. Maklumlah, Pesantren kan tidak berorientasi kepada keuntungan, mungkin tidak mampu membayar mahal para pengajar.

Walaupun awalnya sedikit kaku saat memulai sesi diskusi, Nadi justru “direpotkan” dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kaget OBIwan yang hadir. Bayangkan, untuk anak yang belum pernah mendapat pelatihan Internet, terlontar pertanyaan, “Kak, apa upaya pemerintah untuk memblokir isi internet yang negatif?” Uedan. Ini harusnya menjadi pertanyaan seorang anak di sekolah unggulan, yang sudah melek internet. Mendapat tantangan seperti itu, Nadi pun bersemangat menjawab dan mengulas lebih lanjut. Yang menarik penulis, adalah raut wajah para santri dan santriwati ketika ditunjukkan bagaimana caranya mencari informasi di internet melalui mesin pencari Google. Mereka semua terperangah bahwa nama Ulul Ilmi ada di Internet. Dengan ciamik, Nadi menjawab pertanyaan mereka dengan praktik. Seperti halnya ketika ada yang bertanya apa dampak kesehatan jika menggunakan komputer terlalu lama? (mampus gak loh? Gak pernah pake komputer, tapi bisa nanya kayak gini?) Nadi pun mencari informasinya di Google dengan menggunakan frasa “dampak kesehatan menggunakan komputer”, dan hasilnya pun ditunjukkan. Si anak yang bertanya tampak sumringah melihat hasil pencarian. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya bermunculan kemudian.

Bro Nadi mengisi sesi Internet dan Multimedia menggunakan Tablet PC.

Realitas sosial di atas adalah secuil kenyataan yang ada di depan mata kita. Percaya atau tidak, masih banyak masyarakat kita yang buta akan kemajuan teknologi informasi. Dan fakta yang menyakitkan adalah Pesantren ini masih berada di pinggiran Jakarta, bukan di kepulauan nun jauh di sana. Miris bukan? Padahal justru anak-anak yang tingal di Pesantren ini yang nantinya akan jadi generasi penerus. Ironisnya, mereka justru terabaikan di tengah maraknya komersialisasi pendidikan.

Jujur, bagi yang mempunyai mental pendidik, pesantren ini layak jadi ajang uji nyali dan kemampuan. Bayangkan saja, ketika penulis bertanya siapa yang tahu dan sudah menggunakan Facebook, tidak sampai 5 orang yang mengacung. Itupun mereka belajar otodidak dan nekat pergi ke warnet. Siapa yang bisa menjelaskan apa itu Facebook dan social networking kepada sekumpulan anak yang belum pernah mengikuti pelatihan komputer? Sungguh tidak mudah.

Antusiasme anak-anak tersebut berlanjut usai diskusi. Beberapa OBIwan sempat terlibat percakapan dengan beberapa santri menyangkut komputer, internet hingga motor. Sumbangan yang diberikan memang tidak seberapa, tapi mudah-mudahan bisa menjadi titik awal mereka untuk lebih giat lagi mencari pengetahuan. Untuk ke depannya, OBI berencana mengadakan pelatihan komputer Linux bagi beberapa Santri dan juga blogger serta pembaca yang berminat. Semoga, ini bisa terlaksana dan bisa memberikan manfaat. Untuk adik-adik di Ulul Ilmi, teruslah belajar.(hnR)

 Catatan:
Saat tulisan ini diturunkan, jumlah total sumbangan masih dihitung. Namun dari bantuan yang teman, sahabat dan rekan blogger berikan OBI berhasil menyumbangkan 1310 buku tulis, puluhan buku bacaan motivasi dan internet serta beberapa alat tulis. Tak lupa beberapa mainan hotwheels untuk 10 orang anak sd.

Iklan

6 comments on “Kata Santri Muda Soal Internet

  1. Ping-balik: Terasingkan Di Pinggiran Metropolitan « Triyanto Banyumasan Blogs

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s