Saat di tanjakan, jaga jarak!

Berita: kompas (7/3)

Berita: kompas (7/3)

Saat usapi ngupi n ngeruit bareng OBIwan di salah satu pusat perbelanjaan di Semanggi, karen hujan, maka penulis menyempatkan santai sejenak sambil membaca koran. Dan secara tidak sengaja melihat berita yg dimuat di harian Kompas, halaman 25. Judulnya, “Tak kuat tanjakan, Truk Pasir Menggilas Rohimah”.

Berita tersebut berisi tentang tewasnya seorang gadis remaja bernama Rohimah. Pemudi yg dikenal tertib dan tidak ugal-ugalan saat mengendarai motor tersebut, harus kehilangan nyawa saat hendak menuju rumahnya. Penyebabnya, Rohimah yang saat itu berada di belakang sebuah truk, tergilas kendaraan berat tersebut, yang tiba-tiba mundur ke belakang karena (diduga) mengalami rem blong. Kejadiannya di sebuah jalan menanjak.

Lagi, orang tidak bersalah mengalami naas karena tidak adanya tanggung jawab dari para pemakai jalan. Menyalahkan rem blong atau supir adalah paling mudah. Bagi penulis sendiri, rem blong bukan penyebab utama. Kenapa rem bisa blong? Apakah si supir tidak melakukan pengecekan? Apakah manajemen tidak melakukan perawatan sebagaimana mestinya. Jika kondisi kendaraan bobrok dan tidak aman, mengapa masih bisa beroperasi? Dimana peran petugas?

Tampaknya, kita semua, pengguna jalan harus ekstra waspada saat berada di jalan. Tertib tidak lagi menjamin akan selamat. Harus cermat membaca situasi. Dalam kasus Rohimah, kita harus menjaga jarak saat berkendara. Saat macet, terhenti di tanjakan, usahakan terus monitor keadaan sekitar. Dan waspadai kendaraan di depan kita. Jika terjadi sesuatu, dengan jarak aman, kita masih bisa bermanuver menghindari resiko terlibat kecelakaan. Yuk berkendara dengan empati, memikirkan nasib orang lain atas perbuatan kita. Jangan asal, jangan main serobot, jangan sembarangan. Ride safe… (Hnr).