Fastest, Siapa Yang Tercepat di MotoGP?

“…Teammate is a misleading term. They are rival on the same biker, on the same color…” kutipan narasi oleh Ewan McGregor itu membuka sebuah film dokumenter berjudul “FASTEST” yang mengangkat realitas yang selama ini menjadi misteri bagi banyak penggemar salah satu olahraga otomotif bergengsi di dunia; Moto GP. Film dibuka dengan pertarungan sengit di pertengahan musim 2009, dimana rivalitas satu kubu terjadi antara Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo dari tim Yamaha Racing. Kedua pembalap, dipisahkan oleh usia dan jam terbang yang terpaut jauh. Lorenzo (21) memulai tahun keduanya di MotoGP, sementara Rossi (30) sudah menjuarai enam gelar kelas premium.

Pertarungan 15 Juni 2009 di sirkuit Catalunya, Spanyol, yang kemudian disebut sebagai “battle of the century” di dunia balap motor itu berlangsung dengan sengit. Putaran demi putaran, baik Rossi maupun Lorenzo saling ngotot  untuk mencapai posisi pertama. Bagi Lorenzo pertarungan ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa dia siap untuk mengalahkan Rossi. Sementara bagi “the doctor” (sebutan bagi Rossi) ini menjadi titik penentuan, apakah dirinya masih layak dijadikan bintang atau mulai “renta”. Mark Neale, sang sutrada mampu membangun suasana dramatis detik-detik dimana Rossi dan Lorenzo saling sikut. Mulai dari suasana di Pitstop, komentator dalam berbagai bahasa hingga pemilihan gambar yang mengundang jantung penonton untuk berdegup kencang.

Sumber: Ganool.com

Bukan tanpa alasan Mark memilih pertarungan Catalunya tersebut menjadi adegan pembuka. Suka atau tidak, Rossi adalah satu legenda di MotoGP. Hingga saat ini, belum ada pembalap selain dia dan Giacomo Agustini yang mampu meraih gelar juara di kelas balap premium tersebut lebih dari 6 kali. Suka atau tidak, Rossi memang menjadi pusat perhatian dari para penikmat MotoGP. Pasalnya Rossi selalu berhasil dimanapun dia berada. Mulai dari HRC hingga mengubah Yamaha yang tadinya tim pecundang, menjadi tim yang mengkoleksi juara dunia.

Namun demikian, film ini tidak melulu bicara Rossi. Film yang berdurasi nyaris 2 jam ini juga tak luput menceritakan detail dibalik layar para pembalap kelas bergengsi tersebut. Misalnya saja perihal cidera yang bakal dialami. Berbagai rekaman kecelakaan ditunjukkan, seperti bagaimana Alvaro  Bautista terpental dari motornya saat melaju di kecepatan 120 kilometer per jam. Bautista tidak sendirian. Rossi, Pedrosa, Stoner, Simoncelli, Lorenzo bahkan Spies berbagi pengalaman mereka saat “mencium” aspal. Ada satu kesamaan diantara mereka semua: semuanya pernah jatuh dan merasakan patah tulang. Itu adalah fakta bahwa pembalap MotoGP mempertaruhkan nyawanya setiap kali mereka turun ke sirkuit. Tewasnya Tomizawa dan SuperSic58 adalah contoh betapa bahayanya olahraga ini. Dan bukan mereka tidak sadar, justru karena itu mereka mencintainya.

Film yang mengkombinasikan antara cuplikan pertandingan dan wawancara ini cukup mudah untuk diikuti. Tidak banyak penjelasan teknis atau wawancara yang panjang lebar dan membosankan. Para pembalap diwawancarai saat sedang beristirahat, menjelang balapan hingga saat santai sambil mengendarai mobil di sirkuit. Ceritanya tidak serta merta berorientasi kepada balapan. Namun pendapat rekan kerja, keluarga hingga para komentator dan wartawan senior juga ditampilkan. Pendapat para profesional yang jarang tampil di TV ini seakan menambah bumbu cerita yang sudah seru dari awal film.

Untuk sebuah film dokumenter, FASTEST menawarkan sesuatu yang menarik untuk dinikmati. Entah itu bagi pecinta balapan, khususnya Motogp atau para pecinta olahraga otomotif. Mark Neale, yang sebelumnya sukses membuat FASTER, dokumenter Motogp di era Doohan dan Schwantz, sepertinya paham betul bagaimana membuat cerita yang benar-benar membawa penonton ke “alam” para pembalap, para manusia yang disebut-sebut berasal dari “klan” paling tinggi. Dalam pengertian sederhana, film ini mampu memberikan suatu pengetahuan bagaimana rasanya menjadi tim, teknisi, manager hingga pembalap yang berlagak di MotoGP. Suatu rasa yang tidak semua orang bisa miliki dan lakukan. Namun demikian, ada satu pertanyaan yang hanya bisa dijawab setelah menonton keseluruhan film tersebut. Who’s the fastest now?(hnr)

Iklan

13 comments on “Fastest, Siapa Yang Tercepat di MotoGP?

  1. saya malah suka sama cerita yang dulu….thub 2003 faster judulnya
    kalau dulu bner2 diliatin garry mccoy bannya gara2 sliding trus,lebih old skuul bget
    bahkan diceritain ketika fight dgn rossi biaggi detak jantungnya hingga 225,sdgkn rossi tertinggi cuma 150,shingga gara2 itu biaggi sering lepas kendali terhadap motor

    • Wuissss manteb kang asep….
      Era 2 tak memang beringas!!!
      Tapi yg fastest lumayan ok kok untuk nambah pengetahuan….
      Maturnuhun udah mampir kang….

  2. Paling suka scene waktu Rossi nanya berapa panjang spanduk kemenangan ke-100nya:
    How long is it? | 25 meters | So long! | Don’t win so much!

    Sama komentarnya soal touching Gibernau di final corner Jerez 2005:
    That was a strong move… hahaha… That was a Simoncelli move! Ah… That was a last corner… You have to try it.

  3. pengen nonton filmnya tapi blm kesampean… ada yg tau dimana yg jual dvd nya bro???
    minta infonya bro…

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s