Kebiasaan melanggar lampu lalu lintas, Berani melawan?

gambar: googlemaps

gambar: googlemaps

Kisah ini (cieee, kayak roman masa laloe aje nih) dialami oleh penulis beberapa hari lalu. Kalau tidak salah (berarti benar bro) minggu kemarin. Sederhana sih kisahnya. Semuanya berawal dari hujan deras yang membasahi wajah Jakarta (lama-lama kayak novel romantis era 90an nih) yang tak terbendung lagi.

Saat hujan tersebut, penulis hendak menuju ke wilayah Bintaro untuk membesuk seorang kawan yang menderita penyakit yang namanya sulit diucapkan. Intinya dia susah kencing. Lalu apa penyebabnya, dan bagaimana kronologisnya? Jiah, bro jangan nanya yang ntuh, laen kali aja yak? xixixix

Singkat cerita, penulis dan seorang kawan lain, yang juga mengendarai sepeda motor, tengah mengantri di perempatan Lebak Bulus yang mengarah ke Pondok Pinang. Nah, saat tengah mengantri di tengah siraman air hujan, tiba-tiba saja bunyi klakson bertubi-tubi terdengar dari belakang. Seperti yang penulis sudah duga, puluhan pengendara motor tak sabaran menunggu giliran. Penulis pun mencoba bertahan dengan asumsi, “Kalo gue kena tilang atau ditabrak, emang lu pade mau tanggung jawab?”

Tapi ternyata itu tidak cukup. Beberapa orang bahkan sedikit menggeber gas. Sontak emosi penulis sempat berada pada rpm tinggi lalu melihat ke arah suara tersebut. Si pelaku hanya mingkem. Tetapi klakson justru makin banyak dan makin nyaring. Bro Gogon, yang juga menyertai penulis juga tidak mau beranjak dari posisinya di belakang. “bang, maju aja bang. gak apa-apa. Yang dari arah sana (Pondok Indah) lagi merah.” Sekilas terdengar celotehan seorang pengendara di belakang. Penulis pun mengamati. Demi Topan dan Badai Ciliwung! Beberapa pengendara motor seenaknya memotong dari samping dan menunggu dengan rapat di seberang jalan, persis bagian ruas jalan yang dari arah Lebak Bulus.

“Bang maju aja bang! Udah biasa di sini mah!” ujar orang itu lagi sambil berteriak. Karena emosi, penulis pun sedikit memajukan motor dan menjawab, “woi kampret! Lu lihat udah ijo kagak?!” Dua pengendara justru memanfaatkan celah kecil tersebut untuk melaju dan bergabung bersama pengendara roda dua lainnya di seberang, dengan resiko tertabrak oleh pengendara lain.

Biasakan yang benar. Jangan Membenarkan yang biasa.

Biasakan yang benar. Jangan Membenarkan yang biasa.

“Sob, santai saja. Jangan diladenin. Biarin aje kalo mereka mampus.” Demikia saran bro Gogon yang mencoba menenangkan penulis. Karena tujuan awalnya adalah ingin membesuk, maka penulis mencoba bersabar. Tetapi yang juga bikin heran adalah tidak adanya petugas Lantas saat hujan. Duh, padahal justru saat itulah pengemudi Jakarta susah diatur.

Selama perjalanan, penulis hanya bisa tersenyum kecut saat menemui kembali beberapa pengendara yang tadinya menerobos lampu lalu lintas. Yang bikin kocak, mereka kembali terjebak macet bersama penulis. oh mai god, ngapain juga elu nerabas lampu mere, kalo ujungnye kena macet juga sama gue? Itulah kisah penulis untuk melawan budaya di jalanan. Anda pernah mengalaminya? Monggo dishare…

Iklan

17 comments on “Kebiasaan melanggar lampu lalu lintas, Berani melawan?

  1. Ini yang kurang dipahami para orang tua pada saat membawa anak- anak mereka bepergian dengan roda 2, tidak aware dengan keselamatan mereka

  2. pernah pas di Surabaya, pesepeda motor disuruh pak polisi untuk maju kedepan zebra cross lampu merah… kata temen saya supaya macetnya nda begitu parah dan nda sampai lampu merah dibelakangnya lagi…

  3. Kadang kasihan liatnya,,padahal mata udh di kasih bagus” bisa liat garis” Zebra Cross eh malah sengaja di lindes tugh garis,,ga tau biar kenapa,,apa biar dibilang “selon” alias berani melanggar,,,

    Hmmm aneh,,melanggar kok bangga

  4. apa’an, kemaren jadi bahan tertawaan dan sorakan, lampu merah masih 45 detik, dari belakang udah ada yg teriak-teriak “jangan di tegah jalan woi!!!, jalan aja’ kelamaan!!!!!!”. dan semua saling srobot lampu merah. kayak nya indonesia emang bego masyarakat nya.

  5. Happens to me everyday bro.. di jalanan surabaya.
    berhenti di depan zebra cross, bukan di belakang garis, terus kalo dari arah sebaliknya keliatan sepi, main nyelonong aja..

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s