Parkir di lingkungan perumahan, hargailah “aparat” setempat

Memarkir mobil di pinggir jalan/gang, terkadang membutuhkan kerjasama dari warga setempat.

Mobil itu terparkir di pinggir jalan sebuah kawasan padat hunian di Semper, Jakarta Utara. Jalan dimana mobil itu diparkir, cukuplah untuk lalu lalang dua mobil.  Alhasil, sebagian badan jalan termakan oleh beberapa mobil yang tengah parkir. Nah mobil tersebut berbeda dengan mobil lainnya alias sudah penuh modifikasi. Velg sudah berganti, begitu juga dengan cat dan knalpot. Tak lupa asesoris lain macam spoiler, spion dengan sein dan tentunya bagian interior yang ciamik. Dari penampilan tersebut, asumsi banyak orang, seperti halnya saya adalah yang empunya mobil cukup berada dan punya duit lebih dari cukup untuk membeli mobil (mungkin kredit) dan memodifikasinya.

Tak lama kemudian sang empunya mobil, beserta istri dan dua anaknya menghampiri mobil tersebut. Bunyi tanda alarm dinonaktifkan menarik perhatian petugas hansip yang tengah berjaga. Yah, siang itu, di panas yang terik, sang empunya mobil tengah menghadiri sebuah acara keluarga di daerah tersebut. Dengan sigap, sang Hansip, yang otomatis merangkap menjadi tukang parkir, mengarahkan mobil perlahan-lahan keluar dari “perangkap” parkir paralel. Mungkin, si petugas hansip mengharapkan imbalan seikhlasnya atas tugas menjaga mobil dan mengarahkannya keluar dari padatnya parkiran. Tetapi itu tidak terjadi. Mobil tersebut, menutup rapat kacanya. Sang pengemudi bahkan tidak melihat atau membunyikan klakson kepada petugas hansip sebagai tanda terimakasih.

“Dikasih gak?” tanya saya kepada petugas hansip yang sudah berumur tersebut. “Gak ade bang. Sombong bener tuh orang. Paling gak, bilang makasih kek. Payah dah.” jawab petugas hansip tersebut sambil berjalan gontai ke arah kawan-kawannya yang tertawa kecut melihat kenyataan tersebut.

Realitas di atas saya ceritakan bukan untuk menghakimi si empunya mobil. Secara hukum, tidak ada kewajiban baginya untuk memberi uang atau bahkan tersenyum kepada si petugas hansip. Toh itu jalanan umum, bukan areal perparkiran. Tapi harap diingat, manusia itu hidup berdampingan, saling membutuhkan. Ada yang namanya etika dan bersosialisasi. Kadang, hubungan manusia harus lepas dari hukum positif seperti undang-undang atau peraturan pemerintah untuk memahami simbiosis tepo seliro tersebut. Coba saja jika tidak ada si petugas hansip yang berjaga, bisa saja spion mobil tersebut hilang. Atau body mobil sejuta umat itu lecet sehingga harus dicat ulang. Jika dipertimbangkan, duit seribu atau dua ribu rupiah tidak sebanding dengan resiko yang kita tanggung saat parkir di tempat yang tidak resmi. Toh di tempat resmi perparkiran saja, kadang apapun yang terjadi justru menjadi tanggung jawab kita, konsumen.

Nah, saat kondisi seperti di atas, sebagai pengguna kendaraan, motor ataupun mobil, kita wajib memberikan respon terhadap “pelayanan” petugas hansip. Bagi pemilik mobil, jika lahan parkirnya dijaga dengan baik, dan diarahkan dengan benar saat parkir, kiranya berbaik hati memberikan tips beberapa ribu rupiah. Masak sih, beli mobil ratusan juta sanggup, beli pertamax sanggup namun tidak mampu memberi tips sekedarnya kepada petugas sosial tersebut.

“Sebenarnya sih kita gak ngarepin banyak kok bang. Ini kan kita karena diminta sama bos (ketua RT/RW setempat) untuk bantu enih acara. Yah kerja siang bolong begini, lumayan kan kalo dapet ucapan terimakasih sama tips sekedarnya.” ujar si “babeh” saat saya ajak ngobrol sambil menikmati secangkir kopi tubruk racikan petugas warteg. Si Babeh lanjut mengatakan, “Kita satu orang cuma dapet 30ribu bang….” Belum sempat si babeh meneruskan kata-katanya, seorang kawannya menyeletuk, “Udah beh, namanya juga rejeki orang. Kadang dapat apel, kadang dapat apes.”  Perkataan itu disambut tawa beberapa warga yang ikut nimbrung. Si Babeh kembali berkata, “Yah rejeki saya syukurin dah. Cuma yah tambahin dikitlah. Pan kita jagain enih tempat, bukan leha-leha. saling pengertian aja dah.” Ujarnya sembari menyeruput kopi panas tersebut. “Lagian, gak dimakan sendirian bang. Kita kumpulin duit dari tipsnya. Nanti dibagi rata setelah disisain untuk kas warga.” lanjutnya lagi sembari menghela napas. Diskusi saya dengan babeh and the genk harus terhenti karena acara keluarga tersebut sudah selesai. Alhasil saya harus mengeluarkan mobil dari area parkir.

“Abang ambil kiri, abis itu, belok kanan, langsung tembus tol bang.” ujar si babeh saat saya  mengendarai mobil keluar dari lapangan warga yang mendadak jadi lahan parkir.  Tak lupa beberapa lembar pecahan dua ribu rupiah diberikan. “Makasih bang, panjang umur, banyak rejeki yak.” Ujarnya sembari tersenyum. Ah si babeh, di usianya yang sudah renta, masih saja harus berkutat. Tapi toh dia masih jujur dengan keadaannya, tidak seperti si empunya mobil bermodifikasi yang mungkin masih mencicipi bbm bersubsidi. (hnr)

Iklan

9 comments on “Parkir di lingkungan perumahan, hargailah “aparat” setempat

  1. realitas bahwa masyarakat kita memandang “miring” orang lain, anggapannya bisa jadi “kan entuh hansip udah punya jatah juga, emang entu tugas dia” dsb..dst..
    atau ada juga pengalaman lain barang kali, misal parkir di suatu wilayah, petugas parkir ga ngapa ngapain (cuek aja), tahu tahu minta uang parkir saat si empunya kendaraan mau jalan…
    itulah prasangka yg harus dirubah ya mulai dari diri sendiri kaya yg punya blog ini *ngalem kaypang traktiran

  2. mending kalo gitu, nah di sini tukang parkir banyak yg sialan, parkir gak ditata alias masuk parkir sendiri tanpa bimbingan naruh kendaraannya dimana, tapi begitu mau keluar si tukang parkir cuma narik uangnya aja, gitu juga gak dikasih aba-aba ato bantuin kendaraan yg mau keluar parkiran. apa gak gila tuh… yg ada cuma jongkok ama sesama tukang parkir

  3. nama nya juga hidup mas bro,tidak semua apa yang kita harapkan bisa terwujud,kita kan cuma menjalankan apa amanat dari orang,untuk kata2 kadang kita dapet apel kadang dapet apel saia suka itu,banyak2 bersyukur dan sabar dan lebih penting saling menghormati lah satu sama lain nya

  4. Itu kalo yang bener Bro, di jalan Tempat ane tinggal, jalan ada du lajur, buat keluar ama masuk dan cukup buat satu mobil, terus dipisahin ama got, klo ada acara kawinan yang pake acara Blokir jalan, karena berasa warga Senior, tuh serikity dan crewnya belaga bloon aja, gak pake bikin tanda ada acara, dan markirin mobil tamu juga seenak jidatnya. Nahhh yang begini kaga perlu di pandang. Jadi semua balik ke kondisi di lapangan lah, pinter pinter kita bawa diri dilingkungan manapun.

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s