Ternyata, masih ada angkutan umum yang tertib

angkot1

ilustrasi angkutan umum

“Bang, berhenti bang.” Ujar seorang ibu yang membawa belanjaan.

“Ya bu, sabar yah. Sudah ijo nih lampunya. Nanti di depan dikit yah.” Jawab sang supir angkot.

“Ya ampun si abang, saya jauh kalo di sana (seberang persimpangan).”

“Yah, jangan di sini bu. Sudah ijo tuh.”

“Sudah! Di sini ajalah bang. Biasa juga turun di sini kok.”

Dialog ini terjadi di depan saya saat menumpang angkot (Mikrolet) jurusan Kampung Melayu-Bekasi beberapa hari lalu. Saat itu, sore hari, lampu pengatur lalu lintas menunjukkan warna hijau. Artinya, giliran Mikrolet yang saya tumpangi untuk berjalan. Tetapi sang ibu, yang membawa belanjaan itu tampak tidak sabar, dan tidak peduli apa yang dikatakan oleh pak supir. Dan akhirnya karena si ibu sudah di pintu, si supir mengalah sedikit dengan meminggirkan kendaraannya. Sang ibu, dengan santai, turun, dan nyaris ditabrak pesepeda motor dari sisi kiri. Mereka adu pandangan. Si pengendara motor langsung berlalu sambil mengumpat. Sementara si ibu menurunkan belanjaannya, lalu meraih dompetnya. Dan mulailah bunyi klakson dari kendaraan di belakang Mikrolet memekakkan telinga. Si ibu itu berkutat mengeluarkan uang dari dompetnya. Seorang penumpang, mahasiswi sepertinya, menghela napas melihat kelakuan si ibu. Temannya hanya menggelengkan kepala. Setelah memberikan beberapa lembar uang kepada si supir, si ibu berjalan meninggalkan Mikrolet. Apes, saat hendak berjalan, lampu pengatur lalu lintas berwana merah. Giliran kami berhenti. Lagi, klakson panjang dari mobil pribadi di belakang kami menjadi penanda kekesalan.

“Santai pak. Sabar aja.” Ujar saya kepada si supir. Kebetulan saya duduk di bangku panjang, persis di belakang supir.

“Yah begitulah bang. Saya takut nanti ditilang polisi kalo turunin penumpang kayak gitu. Nanti kalo sudah ditilang, kita yang repot. Penumpang mana mau tahu? Apalagi polisi, mereka mah main tilang aja.”

“Keki banget yah, kalo sampe ditilang?” tanya saya.

“Wah, bisa kesel bang. Yah walaupun masih bisa damai, duit kita pan ngilang juga gituh. Jujur aja, saya berusaha kok untuk tertib, Cuma yah itu. Kadang penumpangnya gak ngerti. Turun pas lagi antri lampu merah, pas lampu lagi ijo minta turun, bukan dari tadi. Emosi mah kalo mau diturutin dah sampe leher bang. Cuma yah kita butuh dia juga,” ujarnya lalu menambahkan, “duitnya, maksudnya bang. Kita butuh duitnya.” Sambungnya sembari tertawa. Saya ikut tertawa kecil.

“Sering kayak begitu pak?”

“Wah bisa dibilang bang lumayan sering sih. Habis gimana coba? Sekarang mobil (armada) dah kelewat banyak. Tapi sewanya (penumpang) malah kurang. Nih, pada pake ini semua.” ujarnya sembari menunjuk para pengendara sepeda motor yang memotong jalur kami.

Pak supir melanjutkan, “Kalo saya tertib bang, justru agak ribet dapat sewa. Lah dia berhentiin di Letter S, kita yang berabe bang. Tapi kalo gak diambil, sayang itu sewa.       Pegimane jadinya bang? Ribet pan kalo dah gituh?”

Sepanjang perjalanan menuju Bekasi, saya perhatikan si bapak yang sepertinya sudah berumur cukup tua, sepertinya 50an, berusaha untuk sesabar mungkin mencari dan menurunkan penumpang secara tertib.

“Tuh bang liat bang,” ujarnya sembari menepikan kendaraanya ke pinggir untuk mengangkut 4 orang penumpang yang berdiri jauh dari halte bus.

“Bener kan bang, tuh liat, haltenya malah sepi bang.”

Mata tua yang keriput itu kembali tajam menyisir pinggiran jalan raya yang menjadi urat nadi bagi ribuan pengendara motor saban hari itu.

Cukup sering si bapak berusaha menurunkan penumpangnya di halte, tidak di perempatan atau ketika tengah berhenti di lampu lalu lintas. Dan tak terhitung pula sang penumpang dengan muka cemberut, kadang sedikit marah serta kesal permintaannya tidak dipenuhi yaitu berhenti di tempat yang tidak semestinya.

Well, ternyata masih ada supir angkot yang berusaha untuk tertib. Justru penumpangnya yang sembrono 😀 (hnr)

Bekasi,  27/1/2014

Iklan

6 comments on “Ternyata, masih ada angkutan umum yang tertib

  1. Emang bener sih… Salah sopir angkot tuh cuma 1, kalo pas lagi ngetem… Sisanya karena penumpang sendiri, yang mau naik atau turun seenaknya (bukan pada tempatnya)…

    Makanya tiap saya naik angkot selalu bilang mau berhenti misal di depan gang atau apa, udah bilang sejak 100 – 200 meter sebelumnya. Jadi si sopir bisa ancang2 dan dan gak berhenti dadakan yang akhirnya bikin kesel pengguna jalan lain…

  2. Tapi kl semua supir angkutan kompak pasti mau gak mau penumpang nurut seperti yg dilakukan supir bus di malaysia. Pernah di depan saya penumpang ngomel2x krn tdk diangkut sebelum halte, mereka cuek aja tetap mengangkut penumpang di halte, dan penumpang pun sambil bersungut2x jalan ke arah halte.

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s