Parkir di lingkungan perumahan, hargailah “aparat” setempat

Memarkir mobil di pinggir jalan/gang, terkadang membutuhkan kerjasama dari warga setempat.

Mobil itu terparkir di pinggir jalan sebuah kawasan padat hunian di Semper, Jakarta Utara. Jalan dimana mobil itu diparkir, cukuplah untuk lalu lalang dua mobil.  Alhasil, sebagian badan jalan termakan oleh beberapa mobil yang tengah parkir. Nah mobil tersebut berbeda dengan mobil lainnya alias sudah penuh modifikasi. Velg sudah berganti, begitu juga dengan cat dan knalpot. Tak lupa asesoris lain macam spoiler, spion dengan sein dan tentunya bagian interior yang ciamik. Dari penampilan tersebut, asumsi banyak orang, seperti halnya saya adalah yang empunya mobil cukup berada dan punya duit lebih dari cukup untuk membeli mobil (mungkin kredit) dan memodifikasinya.

Tak lama kemudian sang empunya mobil, beserta istri dan dua anaknya menghampiri mobil tersebut. Bunyi tanda alarm dinonaktifkan menarik perhatian petugas hansip yang tengah berjaga. Yah, siang itu, di panas yang terik, sang empunya mobil tengah menghadiri sebuah acara keluarga di daerah tersebut. Dengan sigap, sang Hansip, yang otomatis merangkap menjadi tukang parkir, mengarahkan mobil perlahan-lahan keluar dari “perangkap” parkir paralel. Mungkin, si petugas hansip mengharapkan imbalan seikhlasnya atas tugas menjaga mobil dan mengarahkannya keluar dari padatnya parkiran. Tetapi itu tidak terjadi. Baca lebih lanjut

Trotoar untuk pejalan kaki bung!

“Sebenarnya sederhana. Sebisa mungkin, jika memang tidak mendesak, jalan kaki saja. Ndak usah pakai mobil kemana-mana. Apalagi kalo masih di satu ruas jalan.” ujar Glenn, penikmat jalan kaki yang mengelola akun twitter @jalankaki. Obrolan ini terjadi di sela-sela diskusi Kombi 5 di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Hari ini (12/5), Oto  Blogger Indonesia (OBI) mengajak Glenn untuk membicarakan tujuan dan misi sosial @jalankaki. Akun twitter ini terkenal selalu menyuarakan kepentingan para pejalan kaki. Diskusi ini sengaja diadakan di sebuah kawasan komersial di kuningan. “Di sini memang ideal. Trotoar disediakan dengan lebar yang mumpuni. Cukup lega kok. Cuma lucunya, Baca lebih lanjut

Kata Santri Muda Soal Internet

Om Edo membuka diskusi

“Kak, apa yang harus kita lakukan untuk mencegah dampak negatif dari Internet?” Coba tebak, siapa yang bertanya hal itu? Penulis yakin banyak pembaca yang mengira pertanyaan itu diajukan oleh siswa sekolah yang sudah mengerti internet. Maaf, anda salah. Yang bertanya adalah seorang anak Pesantren, yang justru belum mendapatkan pelatihan komputer, bahkan Internet sekalipun.

Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang santri (penulis lupa namanya) saat bro Nadi tengah menyampaikan materi pengenalan Komputer, Internet dan Multimedia di Pesantren Ulul Ilmi, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (3/3) kemarin. Diskusi ini diadakan sebagai bagian dari perayaan hari jadi OBI yang pertama. Setelah sebelumnya om Edo Baca lebih lanjut

Google Hentikan Layanan Gmail Untuk Blackberry?

“Mulai 22 Nov 2011, Google akan menghentikan aplikasi surat elektronik di perangkat Blackberry.” Begitulah kira-kira berita yang penulis lihat di sebuah televisi swasta nasional. Wah, ada apa ini? Apa benar, bahwa sejak tanggal tersebut pengguna Blackberry tidak bisa lagi menggunakan Gmail di perangkatnya? Dan apa sebabnya Google berlaku semena-mena terhadap Blackberry?

Sebagai salah satu pengguna Gmail dan (terpaksa) menggunakan Blackberry, penulis merasa ini adalah sebuah berita yang mesti disikapi secara serius oleh pengguna Blackberry. Pasalnya, Blackberry menjadi salah satu perangkat favorit dalam mengecek email, yang tentu saja Gmail adalah salah satu penyedia layanan email yang banyak digunakan. Bayangkan, jika akun tersebut sudah biasa menjadi bagian dari korespondensi dengan rekan kerja, kolega bahkan teman dan keluarga. Bagi yang mengikuti mailing list, tentunya harus berpikir dua kali untuk mengganti email. Baca lebih lanjut

Blackberry OS6 = reset mania

Well, sudah beberapa bulan ini penulis menggunakan sebuag gadget yang dielu-elukan oleh banyak orang di negeri ini. Bahkan sudah sering penulis dibilang gak gaul, karena gak punya gadget yang satu ini. Yup, apalagi kalau bukan blackberry? Sejak awal gadget ini muncul, penulis berusaha obyektif. Sebenarnya apa sih kebutuhannya? Setahu penulis, awalnya BB banyak digunakan oleh pebisnis demi kemudahan berkomunikasi untuk urusan bisnis. Misalnya menerima dan membalas email dimanapun, tanpa perlu membuka laptop, harus mencari koneksi Internet. Cukup menggunakan layanan push email, si pengguna bisa melakukannya dimanapun. Lalu ada lagi layanan primadonanya yaitu Blackberry Messanger. Fitur ini memungkinkan antar pengguna BB saling mengirim pesan, entah itu teks sederhana atau format multimedia. Kelebihannya? Gratis! Selain itu, ada juga layanan jejaring sosial macam facebook, twitter, chatting hingga web browsing. Siapa yang tidak tergoda? Menggunakan blackberry sepertinya gmana gituh…

Penulis yang mencoba bertahan dengan prinsip “Gadget not needed unless provoked :D* pun akhirnya harus menyerah. Demi kepentingan komunikasi, terutama di pekerjaan dan lelah melihat si boss cembetut akibat anak buahnya bandel, apa boleh buat (Padahal sih, kalo Cuma push email, pake smartphone biasa juga bisa). Dipinanglah sebuah BB tipe curve 3G. Versi murah & meriah. Kenapa harus 3G? Yah pentinglah untuk ngeblog. 😀 Baca lebih lanjut