Nongkrong, tidak selamanya negatif

Nongkrong, ada yang tahu darimana asal muasal kata ini? Berdasarkan diskusi penulis dengan seorang editor buku, Nongkrong merupakan gabungan dari kata ‘ngongkong’ dan ‘nangkring’. Bedanya, kalau ‘nangkring’ itu biasanya berdiri dengan satu kaki menjejak ke tanah. Sementara ‘ngongkong’, biasanya posisi duduknya terbuka, dan bagian bawah terekspos. 😀 Mungkin, itulah yang menginspirasikan kata ‘nongkrong’ terbentuk dan digunakan. Belum jelas juga, kapan tepatnya istilah ini digunakan. Entah kenapa, sepertinya istilah ini mengingatkan saya akan era 80an, dimana film Catatan Si Boy menjadi fenomena di kalangan anak muda. Mungkin juga, istilah ini digunakan pertamakali oleh para penyiar radio untuk menggambarkan anak gaul (monggo jika ada koreksi).

Sayangnya, nongkrong mendapat konotasi negatif. Biasanya, istilah ini kerap melekat pada sekumpulan orang yang berkumpul, tanpa melakukan sesuatu yang produktif. Misalnya ngobrol yang tidak jelas arahnya sambil minum-minuman keras. Atau bernyanyi tak jelas nadanya, bikin sakit kepala yang mendengar. Istilah ini juga kerap diarahkan ke pemuda pengangguran yang saban malam kumpul di pojokan gang, sambil bercanda tak keruan. *pengalaman jadi pengangguran* Baca lebih lanjut