Parkir di lingkungan perumahan, hargailah “aparat” setempat

Memarkir mobil di pinggir jalan/gang, terkadang membutuhkan kerjasama dari warga setempat.

Mobil itu terparkir di pinggir jalan sebuah kawasan padat hunian di Semper, Jakarta Utara. Jalan dimana mobil itu diparkir, cukuplah untuk lalu lalang dua mobil.  Alhasil, sebagian badan jalan termakan oleh beberapa mobil yang tengah parkir. Nah mobil tersebut berbeda dengan mobil lainnya alias sudah penuh modifikasi. Velg sudah berganti, begitu juga dengan cat dan knalpot. Tak lupa asesoris lain macam spoiler, spion dengan sein dan tentunya bagian interior yang ciamik. Dari penampilan tersebut, asumsi banyak orang, seperti halnya saya adalah yang empunya mobil cukup berada dan punya duit lebih dari cukup untuk membeli mobil (mungkin kredit) dan memodifikasinya.

Tak lama kemudian sang empunya mobil, beserta istri dan dua anaknya menghampiri mobil tersebut. Bunyi tanda alarm dinonaktifkan menarik perhatian petugas hansip yang tengah berjaga. Yah, siang itu, di panas yang terik, sang empunya mobil tengah menghadiri sebuah acara keluarga di daerah tersebut. Dengan sigap, sang Hansip, yang otomatis merangkap menjadi tukang parkir, mengarahkan mobil perlahan-lahan keluar dari “perangkap” parkir paralel. Mungkin, si petugas hansip mengharapkan imbalan seikhlasnya atas tugas menjaga mobil dan mengarahkannya keluar dari padatnya parkiran. Tetapi itu tidak terjadi. Baca lebih lanjut

Ketika Sepeda Motor Jadi Barang Langka

Singapura, dengan kemajuan teknologi dalam bidang transportasi massalnya, memang sudah tidak diragukan lagi. Dari mulai jaringan kereta bawah tanah MRT (Mass Rapid Transit), bis kota yang nyaman hingga taksi yang variatif dengan ketepatan waktu.  Nah, mungkin karena transportasi massalnya bisa diandalkan dan terjangkau, bis dan MRT jadi pilihan utama. Lalu bagaimana dengan sepeda motor? Baca lebih lanjut