Bro Yunus, Mengelilingi Nusantara Dengan Win100

Bagaimana rasanya mengelilingi Nusantara yang terdiri dari ribuan kepulauan dan puluhan ribu kilometer jalan yang tak kunjung habis dengan mengendarai motor lawas win100? Sungguh sebuah tantangan yang besar, mendokumentasikan perjalanan yang memakan waktu hampir setahun tersebut. Untuk itu, sebagai bagian dari semangat berbagi, OBI (Otobloggers Indonesia) dalam Kombi alias diskusi khas OBIwan kembali mengundang Muhammad Yunus yang terlibat dalam Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Bro Yunus pun menghasilkan sebuah buku berjudul “Meraba Indonesia”, sebuah catatan perjalanan selama mengitari nusantara tercinta ini. Jika yang lain menulis, maka izinkan penulis membaginya dalam sebuah rekaman video sederhana. Monggo disimak, dan bagi para penikmat touring, wajib berkomentar. :mrgreen:

Google Latitude, Berguna Untuk Touring

Tulisan berikut, bukan karena penulis mendapat order dari Larry Page, atau Sergei Brin sang empunya Google. 😀 Tapi murni karena keinginan berbagi informasi dan pengalaman. Nah kali ini sengaja membahas secara sederhana, sebuah aplikasi gratis yang sudah banyak digunakan oleh penikmat touring sepeda motor.

Latitude nama aplikasinya. Software ini dikeluarkan oleh Google sebagai turunan dari aplikasi Google Maps, sebuah peta online gratis yang memberikan kita akses ke setiap pojok geografis di dunia. Aplikasi ini diinstal di handphone anda. Tenang, rata-rata semua telepon selular bisa diinsintal. Gak percaya? Silahkan arahkan browser hape anda ke www.google.com/latitude dan ikuti perintah instalasinya. Mudah dan tidak bertele-tele layaknya perpanjangan KTP. 😀

Nah setelah berhasil diinstal, silahkan klik iconnya pada BB atau handphone anda. Lalu tekan menu BB atau pada hape lain, pilih options > Join Latitude. Silahkan login menggunakan akun gmail anda. Jika belum ada teman yang terkoneksi, silahkan pilih “add friends” dan masukkan email rekan/teman seperjalanan anda. Baca lebih lanjut

KETIKA ALAS ROBAN MENYAMBUT OBIWAN

*Tulisan ini merupakan rangkaian artikel touring OBI ke Semarang,  untuk menguji kekuatan sinyal XL sepanjang Pantura. Perjalanan ini dilakukan dari 23-24 Juli 2011*

Two is one, one is none”, adalah kutipan dari dialog film “GI JANE” yang dibintangi oleh Demi Moore. Film yang mengisahkan perjuangan seorang perwira wanita angkatan laut Amerika, untuk menjadi anggota kesatuan elit: NAVY SEAL. Kata-kata tersebut diucapkan oleh salah seorang instruktur SEAL. Maksud sang instruktur cukup jelas; siapkan segala perlengkapan dan peralatan kemanapun misinya. Mungkin, kata-kata tersebut yang cocok menggambarkan bagaimana persiapan obiwan merencanakan perjalanan jauh, disertai perlengkapan berkendara yang baik membuahkan hasil.

Jumat (22/07) malam, usai mampir ke “gubuk” bro Yudi (demikian bro Yudi menyebutnya), dan menikmati kopi (super mantab) serta beberapa porsi martabak telor, obiwan yang tersisa melanjutkan perjalanan. “Bro, nanti kalau ketemu truk dan bus yang sembrono dan nekat, ngalah saja yah. Itu memang daerah kekuasaannya. Yang penting tiba selamat di Semarang.” Ujar bro Yudi mengingatkan penulis dan obiwan lainnya. Dengan formasi Rial, Marlin, Adi, Edo dan penulis sebagai sweeper (nasib punya mesin 250cc :D), obiwan melanjutkan perjalanan. Tidak ada yang bakal mengira, bahwa Alas Roban punya kejutan untuk kami.

om Edo, bersiap menghadapi hujan di Alas Roban

Semua diawali ketika memasuki kawasan Alas Roban, group riding obiwan harus berjibaku dengan truk dan bus yang berlagak ala raja jalanan. Manuver-manuver “mahluk malam pantura” ini sungguh tidak bisa dipandang remeh. Dengan jalan raya minim penerangan, kontur pegunungan, kami pengendara roda dua bagaikan semut diapit gajah-gajah liar.

“Kayaknya cuma hujan gerimis deh.” ujar Rial saat obiwan berhenti sejenak menyikapi butir-butir air yang mulai jatuh membasahi bumi. Akhirnya disepakati untuk terus berjalan. Tetapi tidak sampai 3oo meter berkendara, Baca lebih lanjut

Tour de Semarang, makan siang @ Blanakan.

*Tulisan ini merupakan rangkaian artikel touring OBI ke Semarang,  untuk menguji kekuatan sinyal XL sepanjang Pantura.*

Kurang lebih 3 jam setelah melakukan perjalanan dari Jakarta, tim obiwan a.k.a otobloggers tiba di Blanakan, kawasan pantura. Tapi bukan tanpa cerita seru ala obiwan.

Setelah “dihajar” habis-habisan oleh kemacetan sepanjang Bekasi, rombongan yang terdiri dari 7 sepeda motor ini mulai menambah kecepatan. Bahkan saat melalui Karawang ring road, formasi langsung “bubar jalan” alias masing-masing mencoba top speed kendaraan mereka.

Formasi terus berubah hingga akhirnya berkonsolidasi di daerah blanakan, dimana penulis & bro Edo menikmati nasi uduk ala Ciasem. Sementara kawan-kawan yang lain menikmati soto ayam dan pecel. Selanjutnya, akan bertemu dengan bro Yudi di Batang. Maksi dulu bro… (Hnr) terkirim via jalur lintas barat sumatera tanpa menggunakan rem :p

Berkeliling Dunia ala Biker Canada

Di Kawasan Alpine. Foto: Dan

Iri. Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan teman-teman otoblogger Indonesia, yang Jumat (12/3) malam mengobrol banyak dengan Dan, biker asal Canada, di kantin MKT, Kuningan, Jakarta. Dan serta kekasihnya, Claire, tengah melakukan perjalanan keliling dunia menggunakan sepeda motor. Bagaimana tidak, sebagai biker, otobloggers pasti ingin sekali melakukan hal yang dilakukan pasangan kekasih tersebut. Berkendara selama 1,5 tahun, menjelajahi 30 negara, menempuh jarak 65000 km dan mendirikan tenda di tempat-tempat yang hanya bisa dilihat di kalender petualangan atau artikel media petualang. Mantab!

“We prepared for this trip for four years. Paperworks and everything.” ujar Dan saat ditanya soal persiapannya. Ketika Nadi bertanya soal pekerjaan, Dan menjawab, “Well, i leave my job for this trip. But, after this, i’ll back to work. Right now, i just want to enjoy this moment.Baca lebih lanjut

Enduro Trip II, Edan!

Edan! Itulah judul yang pas untuk perjalanan touring Jumat (28/05) lalu. Perjalanan yang biasa kami sebut weeked ride (karena dilakukan saat akhir pekan), sebenarnya dirancang sekaligus untuk memeringati ulang tahun bro Andry. Dan dalam benak para peserta rombongan, indahnya mencoba “rebah” saat melibas tikungan menuju Puncak Pass, seakan sudah diambang pintu.

Namun apa daya. Walaupun sudah berangkat dari SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) TMII (Taman Mini Indonesia Indah) pukul 06.30 bbwi, dan memilih jalan pintas melalui bukit pelangi, Sentul hingga tiba di daerah Gadog, kami mulai dihadang kemacetan. Sesuatu yang memang seharusnya kami duga karena adanya loong weekend (Jumat-Sabtu-Minggu). Alhasil perjalanan dialihkan ke jalur alternatif yaitu rute Tapos-Cisarua. Namun hasilnya sama saja. Justru di jalur yang sempit ini, banyak kendaraan roda empat. Alhasil, kami harus pasrah menerima kemacetan. Apalagi Jalur ini berujung di pasar Cisarua yang ramai dengan hilir mudik angkutan umum, sepeda motor dan masyarakat. Apa daya, motor sudah kinclong, perlengkapan sudah keren, eh, masuk pasar tradisional. 😀

Masuk Pasar!

Baca lebih lanjut