RESISTANSI TERHADAP HELM SNI, PERLUKAH?

Penulis sengaja menampilkan judul tersebut, karena khawatir dengan perkembangan di kalangan biker menjelang terjadinya penerapan helm SNI per 1 April 2010 nanti. Wajar, dengan umur teknis tiga tahun, pastinya banyak helm yang masih bagus kondisinya, yang masih digunakan oleh para bikers, tapi belum mempunya logo SNI (yang diemboss).

Nah, masalahnya, selama ini lambang D.O.T selalu terpasang di bagian belakang helm yang kita beli. Tiga huruf yang merupakan singkatan dari Departement of Transportation dari Amerika Serikat ini merupakan standarisasi oleh lembaga tersebut untuk setiap perangkat/peralatan yang berhubungan dengan transportasi. Dari mulai helm, kaca spion hingga minyak rem, standarnya dibuat oleh badan tersebut. Celakanya, karena begitu lama “bersemayam” di benak para biker, maka DOT terkesan menjadi standar internasional. Dan lagi-lagi, ketika helm SNI menjadi wajib, sesuai yang diamanatkan UU lalulintas no.22 tahun 2009. Maka sontak para bikers menganggap hal ini lucu dan sedikit “kurang ajar”. Penulis pun awalnya berpikir demikian. Bagaimana tidak? Kok tiba-tiba saja standar kita mengalahkan negara Amerika yang secara ekonomi jauh lebih mapan.

Helm Full Face

Amerika punya DOT, Eropa punya ECE, Jepang punya JIST dan Inggris punya BS. Lalu mengapa setiap negara mempunyai badan standardisasi? Sebab, perputaran barang perdagangan harus dijaga mutunya. Negara-negara di atas tentu saja tidak mau ada perusahaan yang mengekspor barang, namun dalam keadaan kurang baik bahkan dibawah kualitas yang diharapkan. Itu sebabnya mereka membuat standar masing-masing. Agar, si konsumen dilindungi, produsen tertib dan muka mereka tidak tercoreng di perdagangan internasional. Nah perihal helm, karena pengaruh dunia barat dan Amerika paska perang dingin begitu kuat, maka simbol-simbol Amerika terkesan menjadi internasional. Padahal untuk dunia internasional ada yang namanya ISO (Internasional Standard Organisation). Lalu bagaimana dengan Indonesia? Disinilah SNI berperan.

Sepengetahuan penulis, SNI tidak serta-merta mengatakan bahwa DOT dan standar lainnya lebih rendah dibandingkan SNI. Itu anggapan yang keliru. SNI ada karena sebagai anggota WTO, maka Indonesia wajib mempunyai standar sendiri yang disesuaikan dengan kondisi, lingkungan dan iklim Indonesia. Sebagai informasi saja, jika produsen helm kita ingin mengekspor helm ke Amerika atau Eropa, mau tidak mau, mereka harus mengikuti standar DOT dan ECE. Jika sample helm yang akan diekspor tidak lulus uji, ribuan helm yang siap kirim akan menjadi sampah belaka! Inilah bukti betapa sebuah pemerintah, mau bersusah payah melindungi konsumennya. Nah, kalo helm mau dikirim ke Indonesia, standar apa yang akan digunakan? Tentu saja SNI.

Helm Open Face

Jangan lansung buru-buru mengatakan SNI itu standar tidak jelas. SNI 1811:2007, tentang helm diambil dari berbagai macam referensi standar negara yang sudah terbukti sukses dilaksanakan. Berikut adalah referensinya:

–  BS 6658: 1985 – “Protective Helmet for Motor Cyclists”, Specification”.

–  EN 960: 1994 – “Head forms for use in the testing of protective helmets”.

–  ISO 6487: 2000, “Road vehicles – Measurements techniques in impact tests – Instrumentation ”.

–  JIS T 8133 : 2000 – “Protective Helmet for drivers and passengers of motor cycle and mopeds”.

–  Rev. 1/add. 21/Rev.4 24 September 2002 dari E/ECE/324 dan E/ECE/TRANS/ 505 Regulation No.22, uniform provision concerning the approval of protective helmets and visors for drivers and passengers of motor cycles and mopeds.

Jadi, SNI 1811:2007 diambil dari standar Inggris, Internasional, Jepang dan Eropa. Dan SNI sudah diakui oleh 153 negara WTO (World Trade Organisation). Berarti, SNI bukan lagi standar “abal-abal” yang kerap kali dikhawatirkan.

Pengujian SNI terdiri dari:

  1. uji penyerapan kejut,
  2. uji penetrasi,
  3. uji efektifitas sistem penahan,
  4. uji kekuatan sistem penahan dengan tali pemegang,
  5. uji untuk pergeseran tali pemegang,
  6. uji ketahanan terhadap keausan dari tali pemegang,
  7. uji impak miring,
  8. uji pelindung dagu dan
  9. uji sifat mudah terbakar.

Penulis sendiri sudah pernah mengunjungi salah satu produsen helm yang memiliki alat penguji helm dengan standar SNI dan DOT. Silahkan lihat di sini.

Dan SNI tidak mengizinkan helm “Cetok” atau half-face. SNI hanya mengizinkan dua jenis helm. Yaitu helm Full Face dan Open Face.  Dan SNI yang sekarang sudah menggunakan sistem Emboss. Jadi bukan lagi stiker.

Lambang SNI Emboss di Helm Lokal

Nah, kita sudah lihat sejauh mana SNI. Referensinya adalah standar di negara-negara maju. Uji teknis dilakukan oleh lembaga profesional. Semakin hari, produsen yang memenuhi SNI makin bertambah. Dan yang lebih penting lagi, dengan adanya SNI 1811:2007, kita sebagai konsumen dilindungi haknya. Jadi, dengan berbagai macam fakta di atas, Masihkah kita menolak kehadian helm SNI? Mudah-mudahan tidak.(hnr)

Lampiran:
Daftar Merk Helm anggota AIHI (Asosiasi Industri Helm Indonesia) yang sudah tersertifikasi SNI per Februari 2010 adalah:

– INK
– KYT
– MDS
– BMC
– HIU
– CARGLOSS HELMET
– NHK
– GM
– VOG
– MAZ
– MIX
– JPN
– BESTI
– CROSX
– SMI
– OTOKOGI
– CABERG
– HBC

Sumber: Slide Presentasi dari Thomas Liem, staf ahli AIHI.

23 comments on “RESISTANSI TERHADAP HELM SNI, PERLUKAH?

    • HUEHEHEHE…. BISA AJE MAS TAUFIK….
      GAK MUNGKINLAH POLISI CELINGAK-CELINGUK LIHATIN HELM SATU PER SATU. YANG ADA TUH LEHER KESELEO.

    • ITU JUGA YANG JADI PERTANYAAN BRO…
      PIHAK KEPOLISIAN BELUM KASIH STATEMENT SOAL INI…
      MUDAH-MUDAHAN SIH TIDAK. CUKUP DIPERINGATI SAJA.

    • Produksi lama mungkin belum bro… Yah ini pertanyaan klasik yang harusnya dibenahi oleh BSN dan departemen terkait. Btw, ente kan punya akses ke birokrasi, coba di follow up bro… pertanyaan ini adalah yang sekarang menjadi keresahan dari masyarakat.

      smart bastard!

      https://bodats.wordpress.com

  1. yang penting pakek helm yang bener hehehe… biar aman kepalanya… sayang ini kepala cuman atu2nya… klo ilang motor bagus apapun gak bisa dinikmati… xixiixxiix…

    😀

  2. menurutku (mungkin) salah 1 maksud SNI ini semangatnya untuk membeli helm produksi dalam negeri, walaupun BELUM TENTU standarnya lebih baik dari helm terkenal buatan luar.

    • setuju mas….
      ane mah takut aja ditilang polici, makanya mo bli helm SNI…teman ada yg bilang 2 hari yg lalu ada razia helm di daerah pramuka, razianya pagi2…
      tp ternyata cuma teguran biasa, blom ditilang, tp tertanggal 1 april 2010 katanya bakal ditilang…

      wkwkwkwkwkw

  3. Masa validasi/berlakunya juga harus jelas. Aku tidak keberatan beli helm ber SNI, asal jangan ada kesan produk hukum (seperti labelisasi ini) buat mencari keuntungan yang bikin aturan baru. Jangan sampai beli sebulan sudah ada ketentuan baru sehingga helm tidak bisa dipakai lagi padahal baru beli.

  4. Ping-balik: Helm SNI Seperti Apa? « kilaubiru™

  5. Ping-balik: Nasib Sial Pengguna Helm Mahal | bodats the smartbastard

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s