Jejaring Sosial, bumerang bagi korporasi otomotif?

Rabu (24/8) kemarin, ranah bloghespere diramaikan dengan mencuatnya pengalaman tidak mengenakkan yang dialami oleh Nadi, seorang blogger otomotif. Semuanya berawal ketika Nadi membalas status tweet akun twitter @welovehonda yang menyatakan “….ganti ban setiap 3-5ribu kilometer…” dan bro Nadi menjawabnya dengan, “boros ban!”. Untuk lebih detailnya, silakan lihat gambar di atas. Dan beberapa blogger ikut meramaikan dengan me-twit ulang, atau bahkan melakukan balasan atau reply. Saranto (@arantan) menjawab “…Setara 4 bln”. Lalu ada @mbelgedez menjawab “Geblek ini Honda.” :D. Dan tiba-tiba saja, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Nadi tidak bisa lagi mengikuti (follow) akun twitter @welovehonda. Analisanya, Nadi sengaja diblokir oleh admin akun tersebut. datanya bisa terlihat jelas dari gambar yang diambil oleh yang bersangkutan. Sementara, tidak bisa tinggal diam, bloggers turut serta mengkritik tindakan pemblokiran terhadap Nadi. Ada Benny, eyang Edo, Fajar, mas Tri dan juga Saranto. Serta beberapa blogger lainnya.

Hal ini pun mengundang reaksi dari kalangan blogger, khususnya yang tergabung di otoblogger Indonesia alias OBI. Pasalnya, ketidakjelasan alasan diblokirnya Nadi dari akun tersebut mengundang berbagai persepsi. Ranah dunia maya pun mulai memertanyakan. Ada apakah gerangan? Mengapa Nadi sampai diblokir? Apakah ini kebijakan resmi Honda (baca: AHM) dalam menyikapi kritik? Semuanya tidak jelas. Bahkan sampai Rabu malam, ketika Nadi kembali menjadi follower, juga tidak ada komunikasi dari admin akun tersebut. Ini bukan pertamakalinya korporasi besar tersandung kasus Twitter. Masih segar dalam ingatan penulis ketika akun @yamahaindonesia memberikan pernyataan, Ingat, ngebut boleh asal safety….“ Pesan tersebut langsung mendapat kecaman keras dari blogger dan biker penggiat road safety. Status tersebut akhirnya dihapus, dan diganti dengan status yang lebih lunak.

Nadi tidak bisa menjadi follower @welovehonda

Hal yang sama terjadi saat dicoba via pc

Kejadian-kejadian di atas, yang terakhir adalah AHM dengan @welovehonda-nya adalah bukti betapa korporasi masih menganggap remeh dampak jejaring sosial. Padahal, jika dihubungkan dengan konsep marketing 2.0, dimana medium penyampaian informasi dan pendekatan ke konsumen harus menggunakan segala macam sumber daya, internet adalah salah satunya. Jejaring sosial macam facebook, twitter hingga blog, justru merupakan ujung tombak menggapai konsumen potensial. Artinya, jejaring sosial korporasi adalah perwakilan dari brand itu sendiri dalam jagad maya. Nah, karena merupakan brand representation, maka siapapun yang memegang akun tersebut, haruslah punya basic skill yang mumpuni. Skill disini bukan bicara soal teknis bagaimana menggunakan twitter, facebook atau blog. Operator warnet manapun pasti akan sanggup melakukan ini. Tetapi sang pengelola akun harus mampu memahami esensi komunikasi massa, brand imaging hingga product knowledge yang mumpuni. Kenapa? Lihat kasus di atas. Itu akibatnya jika tugas ini diberikan kepada orang yang hanya ngerti ngutak-atik twitter.

Haruskah seserius itu? Mungkinkah sebuah korporasi digoyang oleh publik hanya karena status Twitter? Mengapa tidak? Lihat apa yang terjadi dengan akun Twitter @ChryslerAutos ketika (7/4) memunculkan status: “I find it ironic that Detroit is known as the #motorcity and yet no one here knows how to drive.” Detroit adalah kota otomotif, tempat dimana industri otomotif kebanggaan Amerika lahir. Chrysler adalah salah satunya. Sontak saja, warga Detroit tersinggung dengan status tersebut, dan kabar tersiar dengan cepat. Hasilnya, si pemegang akun tersebut, seorang staf New Media Agencies, sebuah perusahaan konsultan, dipecat. Status Tweet dihapus. Dan petinggi agensi tersebut meminta maaf. Apesnya, Chrysler tidak berniat melanjutkan kerjasama dengan agensi tersebut. There you go, another proof of how twitter backfires to corporate.

Tweets Kawasaki_ID, patut dicontoh oleh atpm lain.

Banyak yang mengatakan, si pemegang akun twitter @welovehonda adalah seorang pekerja outsource, mungkin tidak mengerti tentang produk AHM. Bagi penulis, ini masalah besar. Justru dia harus mengerti tentang AHM sebagai sebuah brand. Dan tentunya, ini yang penting, harus dibekali product knowledge yang mumpuni. Mengapa? Di internet, ketika tombol “send” ditekan, sudah tidak ada kesempatan mengulang. It’s there, spreading with a warp speed, like it or not. Dan perlu dipahami juga oleh si pemegang akun bahwa dia bukan lagi sebagai pribadi. Melainkan sebagai representasi korporasi di dunia maya. Itulah pentingnya dia mengetahui apa itu sosial media, komunikasi massa hingga isu-isu terkini. Mereka haruslah orang-orang yang well informed, open minded & solution oriented. Agar mampu menangani berbagai macam ulah, pertanyaan hingga ejekan dan kritikan keras yang ditujukan kepada brand/produk yang mereka wakilkan (harap dicatat, brand berbeda dengan produk).

Dalam konteks kasus Nadi, andai saja si admin paham betapa dahsyatnya efek amplify jejaring sosial, tidak mungkin terjadi pemblokiran sepihak tersebut. Dia bisa saja membalas Nadi dengan, “Ok mas, nanti kita coba minta pendapat tim teknis.” Atau “Terimakasih atas masukannya bro. Itu hanya acuan teknis saja.” Maka image yang didapat pun pasti berbeda. Jejaring sosial, jika digarap dengan baik dan profesional, akan memberikan benefit kepada korporasi. Entah itu berupa brand perception yang lebih mengena di benak konsumen, ataupun dalam bentuk penjualan yang meningkat. Jika tidak, maka bersiaplah melihat lagi bagaimana korporasi kelabakan menanggapi kritikan pedas seperti kasus @welovehonda. Toh jika hanya membutuhkan orang untuk mentweet dan memasang status Facebook tanpa isi kepala memadai, rasanya pekerjaan ini layak dilakukan oleh seorang 4L4y.(hnr)

8 comments on “Jejaring Sosial, bumerang bagi korporasi otomotif?

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s