Pelajaran Berharga Saat Memaketkan Motor

Lima motor sesaat sebelum dipaketkan di JNE Semarang

Sesuai dengan janji penulis di artikel sebelumnya, bahwa akan menyampaikan kronologis mengenai baretnya si redbastard. Berikut penulis turunkan artikel yang mudah-mudahan bisa menjadi pencerahan bagi kita semua.

 “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Walupun rasanya pahit, pengalaman itu harus ditelan. Paling tidak itulah yang dapat dipetik oleh penulis dari peristiwa baretnya si redbastard. Berikut adalah kronologisnya:

 Minggu(24/07)
Lima motor OBIwan (anggota otobloggers Indonesia) merapat di kantor JNE perwakilan Semarang, di Jl. Raden Saleh. Alasan mengirimkan motor via paket adalah keterbatasan waktu OBIwan, mengingat hari Senin (25/7) harus mulai beraktifitas kembali di Jakarta. Motor yang dipaketkan adalah 2 Ninja250R milik penulis dan Benny, dua Byson (Edo & Rio) dan satu Vixion milik Nadi. Sementara motor dipaketkan, Lima OBIwan tersebut menuju Jakarta dengan menggunakan kereta api.

Di JNE tersebut, kami dijanjikan bahwa motor akan diangkut menggunakan truk besar. Walaupun saat itu kami tidak melihat truknya, tetapi mau tidak mau harus yakin bahwa JNE secara profesional siap menangani motor kami. Tak lupa kami membayar premi asuransi. Sementara, foto-foto kami ambil supaya memudahkan klaim asuransi jika terjadi kerusakan.

Selasa (26/7)
Bro Saranto, mulai mencari informasi perihal posisi paket motor kami. Setelah menelpon ke customer care di (021)29278888, ditemukan bahwa JNE masih menggunakan sistem manual. Artinya, kita tidak bisa melakukan pengecekan perihal motor/paket kita. L

Penulis pun melakukan hal yang sama. Dan benar saja, setelah dialihkan ke bagian lainnya, penulis mendapatkan informasi bahwa pengecekan tidak bisa dilakukan terhadap paket motor. Yang membuat penulis terkejut, bahkan ketika diminta untuk mencari tahu, apakah motor kita sudah berangkat dari Semarang, atau belum, staff JNE mengatakan tidak bisa melakukan itu, karena sistemnya belum memungkinkan. *demi topan dan badai*

Akhirnya penulis berinisiatif menelpon nomor JNE Semarang. Dan dijawab oleh pak Ari melalui telepon selularnya, bahwa motor berangkat dari Semarang Senin Dinihari, dan akan tiba di Jakarta Siang atau sore. Tetapi ada kejutan lagi. Motor tidak bisa diantar langsung hari itu juga. Melainkan harus dikirim ke gudang terlebih dahulu. Setelah itu baru diantarkan ke lokasi pengiriman. Lagi, terjadi inkonsistensi. Pasalnya, saat di Semarang, kami dijanjikan bahwa motor akan langsung diantarkan ke lokasi.

Milis otobloggers pun mulai ramai dengan kekesalan dan kekhawatiran, dilihat dari sistem informasi yang tidak akurat dan ketinggalan zaman dari JNE ini. Tapi kami semua pasrah menerima nasib, bahwa kelima motor tersebut akan diantar hari Rabu (27/7). Ini sesuai janji petugas JNE.

Rabu (27/7)
Siang hari, Saranto mengabarkan bahwa motor sudah tiba di Grha XL, tujuan lokasi pengiriman. Tapi ada yang aneh. Jika sebelumnya motor dijanjikan akan diantar ke lokasi pengiriman menggunakan truk besar, justru sebuah semi truck yang mengantarkan. Dan, yang diantar hanya 3 motor saja: Ninja 250 hitam Doff milik Benny, dan dua Byson yang digunakan oleh Edo dan Rio. Petugas yang mengantakan barang mengatakan kepada Saranto bahwa sisa motor akan diantar 1-2 jam lagi.

“Bro, gue ada berita kurang mengenakkan nih. Motor lu diantarnya besok siang. Barusan gue telpon orang JNE.” Telepon dari Saranto diterima penulis ketika menumpang angkot dalam perjalanan menuju Grha XL di mega Kuningan. Kesal, marah dan kecewa berbaur menjadi satu. Bayangan bahwa kami berlima akan bersantai di kantin XL, sambil mengenang perjalanan Pantura, bubar sudah. Kini hanya tinggal emosi saja. Dan ketidaksabaran untuk menjemput redbastard.

Setibanya di Grha XL, kami sepakat untuk menjemput sisa paket motor di gudang JNE, di Daan Mogot, Jakarta Barat. Tapi itu pun belum semua. Benny tiba-tiba mendapati sesuatu yang aneh di motornya. “Fairing gue baret nih. Kampret!” ujar pria bertubuh tambun itu sambil mengamati body fairing ninja250 warna hitam doff miliknya. “Nah loh, kok jarak odometer gue nambah 3 kilometer?” tanyanya lagi. Sontak kami semua kaget. Benny pun menunjukkan bukti, perbandingan foto odometernya sesaat sebelum dipaketkan, dengan yang tiba di lokasi. Ada selisih sekitar 3 km. “Ah gak bener nih JNE! Masak motor konsumen dipakai?! Berarti motor lu juga dipakai tuh dat!” ujar member Pulsarian ini. Penulis hanya bisa menahan emosi, dan mulai berpikir taktis. Penulis langsung menghubungi pak Ari dari JNE Semarang. Dan tak butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi, bagaimana bisa odometer berjarak 3 kilometer.

“Begini pak, waktu motor ninja250 itu mau dinaikkan ke mobil, kru saya tidak berani. Takut lecet, karena itu motor besar sekali. Akhirnya, kami putuskan untuk dikendarai saja ke cabang Sultan Agung. Di sana baru kami naikkan ke truk.” Ujarnya tanpa perasaan bersalah. Saya pun langsung mengkritik cara kerjanya yang tidak profesional. “Bapak ini sudah ngaco! Itu kan kendaraan milik konsumen. Dikabari dulu dong ke kami. Masak main pakai saja. Nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Situ mau yang repot ngurusin?” Lawan bicara diujung sana, hanya bisa terdiam dan meminta maaf. Karena emosi, telepon saya tutup begitu saja. Kini fokus saya beralih kepada redbastard, bagaimana nasibnya?

Masalah belum selesai sampai di situ. Sesaat kami ingin meninggalkan Grha XL, Benny menemukan bahwa lampu depannya mati. Yaitu bagian lampu pendek. Sementara lampu jauhnya berfungsi. “Kamprett!!!” umpat pria yang belum sempat berisitirahat dari aktivitas kantornya tersebut.

 Akhirnya, dengan tetap semangat, kami berlima (Rio, Nadi, Saranto, Benny dan penulis) berangkat menuju gudang Daan Mogot. Untungnya, kemacetan lalu lintas masih dalam tarif normal. Dan menemukan gudang itu pun tidak terlalu susah.

Sesampainya di Gudang, kami pun langsung meminta kepada kepala Gudang untuk membongkar motor kami. Dari sisi packaging, sebenarnya terlihat profesional. Jalinannya tebal, dan ada semacam lapisan kertas berkantung udara/bubble. Saya awalnya yakin bahwa tidak terjadi apa-apa dengan redbastard. Tapi kenyataan berkata lain.

Penjemputan motor ke Gudang JNE, Daan Mogot

Baru saja motor dibuka, terlihat plat nomor belakang bengkok. Lalu sesaat setelah semua bungkusan dibuka, saya teliti dengan seksama. Dan, argghh…. Terlihatlah lecet di bagian fairing kiri belakang!

“Pak, tolong dilihat, ini lecet pada motor saya.” Ujar saya kepada kepala Gudang, bapak Ade (kalau tidak salah).

“Silahkan bapak foto sebagai bukti. Dan tolong siapkan berita acara klaim asuransi dan serah terima.” Tukas saya kemudian. Sementara itu, OBIwan yang hadir langsung memotret bukti tersebut dengan blackberry dan juga kamera poket.

Lecet yang ditemukan setelah packaging dilepas.

Melihat itu, Nadi pun melakukan pengecekan terhadap kondisi motornya, dan akhirnya menemukan adanya bagian yang hilang, yaitu komponen bernama mud guard, sebuah pelindung shockbreaker. Sementara Benny mengecek kembali kondisi motornya. Walaupun dalam kondisi yang sangat emosional, kami paham, bahwa orang-orang Gudang tersebut mempunyai faktor keterlibatan yang sangat minim. Toh tugas mereka hanya mengantarkan barang saja. Sementara, jajaran manajemen tidak ada yang hadir pada saat itu.

Dengan inisiatif kami pula, dibuat berita acara klaim kerusakan. Dan alangkah terkejutnya kami ketika mengetahui tidak ada blanko/formulir resmi klaim asuransi paket sepeda motor. “Kok paket motor, yang harganya lebih mahal terkesan asal-asalan ya?” ujar Saranto kebingungan. “Padahal, kantor gue kalo ngirim dokumen, sering juga pake JNE lho.” Sambung pria penunggang Piaggio MP3 ini.

Akhirnya Benny ditugaskan untuk menulis draft Berita Acara Klaim Kerusakan tersebut. semuanya ditulis tangan. Apa boleh buat, daripada tidak ada bukti sama sekali. Setelah selesai, kepala Gudang, yaitu napak Ade menjanjikan akan melaporkan kejadian ini ke atasannya. “Besok, secepatnya bapak akan kami hubungi untuk koordinasi soal klaim asuransi ini.” Demikian janjinya. Entah kenapa, saya merasa tidak yakin dengan janji ini.

Benny menulis BAP Klaim Kerusakan, disaksikan Saranto dan staf gudang JNE.

Setelah hampir 2 jam berada di gudang JNE di Daan Mogot, sekitar pukul 23.00 kami berlima membubarkan diri. Rio ke arah Bintaro. Sementara Nadi dan Saranto belakangan diketahui mampir makan malam dahulu. Sementara, saya dan Benny, karena masih dalam situasi emosional dan juga lapar, diputuskan untuk mampir ke warung tegal 24 jam langganan Benny. Disitulah kami cooling down dan mencoba merefleksikan diri hikmah dari kejadian ini. Benar-benar hari yang melelahkan.

Kamis (28/7)
“Sudah ditelpon to?” demikian pesan BBM saya kepada Saranto menjelang waktu makan siang. Saranto menjawab, “Belum. Tapi gue dah minta orang kantor untuk contact mereka.” Akhirnya, karena tidak ingin bertele-tele. Saya kembali menelpon pihak JNE.

Dari hotline saya diberikan nomor: 99660652, 6333238, 41878445 dan  70702820. Dan tidak ada satupun yang diangkat. Sampai saya lupa, nomor berapa yang berhasil dihubungi ketika berbicara dengan Agus, dari bagian trucking dan packaging. Dengan petugas ini saya jelaskan secara gamblang apa yang sebenarnya terjadi. Dan semakin terkejutlah saya, bahwa ternyata Agus belum mendapatkan informasi adanya pengiriman motor yang mengalami kerusakan. Dan dia juga mengaku belum menerima berita acara yang kami buat. *speachless*

Tapi karena mempunya niat baik ingin memberikan masukan kepada JNE, dan juga sebagai langkah konkret OBIwan melakukan kontrol sosial, maka diputuskan untuk melakukan pertemuan agar masalahnya bisa diselesaikan secara proporsional. OBIwan pun memutuskan untuk siap bertemu. Sementara pihak JNE juga menyambut baik maksud dan  tujuan pertemuan. Disepakatilah pertemuan diadakan di kantin Grha XL untuk klarifikasi masalah tersebut.

Jumat (29/7)
Menjelang sore, terjadilah pertemuan yang sudah direncanakan itu. Dari XL, selaku klien JNE, hadir Saranto. Sementara dari pemilik sepeda motor, hadir saya dan juga Nadi. Sementara Benny tidak bisa datang tepat waktu karena masih terbentur kerjaan. Dari EO Pegasus, selaku yang mengorder kiriman paket juga hadir. Dari JNE sendiri, hadir Agus Salim (Adm Support Trucking) dan juga Bapin Supriyadi (Manager Trucking).

Diskusi dibuka dengan Saranto menjelaskan kronologis dari awal mengenai mengapa kami menggunakan layanan JNE. Lalu disertai juga penjelasan perihal janji-janji dari JNE yang tidak bisa ditepati (seperti sudah disampaikan di atas). Lalu juga saya menambahkan kekecewaan dari teman-teman OBIwan selaku pengguna jasa JNE. Nadi juga menyampaikan kritik betapa tidak ada koordinasi antar departemen di JNE. Bapin Supriyadi juga terkaget begitu mengetahui bahwa dua motor Ninja250 dikendarai dari satu cabang, ke cabang lainnya di Semarang.

Pertemuan antara OBI, XL, Pegasus & JNE di Grha XL

“Sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih atas masukan dan kritikan rekan-rekan semua. Jujur, kami masih harus berbenah diri. Kalau tidak ada peristiwa ini, mungkin kami tidak tahu dimana kekurangan pelayanan kami. Saat ini kami tengah berusaha meningkatkan pelayanan. Kami tidak ingin mengecewakan pelanggan, seperti halnya yang dialami oleh rekan-rekan blogger. Sekali lagi saya meminta maaf. Masukan dan kritikan ini akan saya sampaikan kepada jajaran manajemen, agar menjadi masukan yang positif bagi kami. Secepat mungkin, kami akan berusaha untuk memerbaiki pelayanan, khususnya dalam hal paket sepeda motor. Dan saya juga akan berkoordinasi dengan cabang Semarang, mengenai hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan.” Ujar Bapin Supriyadi kepada OBIwan.

Selanjutnya dibicarakan juga soal penggantian sparepart yang rusak/hilang. JNE sendiri, melalui Bapin menjamin bahwa mereka akan bertanggungjawab. “Kita akan tetap bertanggungjawab, khususnya untuk barang hilang dan rusak. Tapi mohon kesabarannya, seperti yang diketahui, urusan asuransi tidak bisa sebentar. Kami akan kooperatif.” Ujarnya lagi.

Baik OBIwan, JNE, XL maupun Pegasus sama-sama memahami pentingnya pertemuan ini agar di masa yang akan datang terjalin kerjasama yang lebih baik lagi. Sementara dari sudut pandang OBI sendiri, ini adalah langkah penting, agar perusahaan sekaliber JNE sensitif terhadap kebutuhan pelanggan dan konsumen setianya. Sebagai catatan, OBIwan, baik secara pribadi, maupun bagian dari korporasi, sudah cukup sering menggunakan layanan paket dokumen melalui JNE, dan hasilnya selalu memuaskan. Mungkin dalam bagian ini (paket sepeda motor), JNE perlu melakukan perbaikan di beberapa lini. Semoga masukan ini tidak hanya dipandang sebelah mata, dan bisa menjadi bekal agar JNE mampu memerbaiki kinerjanya.

Selasa (2/8)
Hari ini, penggantian telah dilakukan terhadap sayap belakang kiri redbastard atau motor ninja250 milik penulis. Karena warna merah termasuk “pasaran”, maka tidak diperlukan waktu lama untuk menyediakannya bagi dealer. Penggantian sparepart ini sudah diganti di bengkel resmi Kawasaki, di daerah Bekasi. Disaksikan oleh Agus Salim secara langsung. Sementara itu, body ninja Hitam Doff milik bro Benny, dikarenakan harganya yang diatas 1 juta, Agus mengaku perlu meminta izin dari atasannya untuk menambahkan anggaran penggantian. ”Tetapi kami akan berusaha secepatnya, agar kebutuhan pak Benny diproses.” Ujarnya sebelum pamit pergi. Lalu bagaimana dengan Nadi? Dari milis OBI, diketahui yang bersangkutan sudah berinisiatif sendiri mengganti sparepartnya, walaupun tetap mengharapkan penggantian dari pihak JNE.

Fresh from the oven. 😀

Mekanik Kawasaki Tengah Mengganti Sparepart

Redbastard pun tersenyum. 😀

Well, semua kejadian ada hikmahnya. OBIwan telah belajar, dengan pengalaman yang cukup pahit, bahwa ketika memaketkan motor, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Semoga hal-hal dibawah ini bisa menjadi perhatian bagi para pemaket motor:

  1. Jika bisa, kendarai sendiri motor anda. Jika tidak bisa/lelah, silahkan memaketkan motor kepada agen yang terpercaya.
  2. Cari tahu informasi dari rekan kerja, teman, anggota komunitas motor yang pernah menggunakan jasa pengiriman.
  3. Tanyakan secara detail prosedur pengiriman, pengambilan barang, lama waktu pengiriman dan jenis kendaraan yang digunakan sebelum memaketkan motor.
  4. Pastikan, apakah harga paket termasuk asuransi. Jika tidak, asuransikan kendaraan anda. Anggaplah sebuah investasi. Pelajari lebih lanjut klausul asuransi. Mulai dari kerusakan, hingga kehilangan.
  5. Pastikan hak dan kewajiban agen pengiriman, dan juga kita sebagai konsumen.
  6. Dokumentasikan dengan foto kondisi motor anda, sebelum dipaketkan. Hal ini penting untuk menjamin, bagian mana saja yang mengalami perubahan sebelum dan sesudah dipaketkan.
  7. Ketika motor sudah dipaketkan, dan belum tiba sesuai janji perusahaan paket, jangan segan untuk menanyakan keberadaan paket. Ingat, adalah hak kita sebagai konsumen untuk mengetahui keberadaan barang, dan juga memertanyakan layanan yang diberikan oleh produsen jasa/barang.
  8. Saat menerima motor, bongkarlah motor di depan petugas pengantar. Dan amati secara seksama bagian-bagian yang mengalami perubahan seperti lecet, gores atau bahkan hilang. Buatlah berita acara soal kerugian tersebut.
  9. Jika terjadi apa yang dialami oleh Penulis dan OBIwan, jangan segan untuk menuntut kerugian sesuai dengan asuransi/jaminan yang berlaku. Ingat, ini hak kita sebagai konsumen.
  10. Jika barang diterima tanpa cacat dan tepat waktu, ucapkan terimakasih kepada petugas paket. Hal sederhana seperti ini saja, bisa membuat mereka merasa dihargai.

 Semoga artikel ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Monggo berbagi pendapat jika ada. (hnr)

16 comments on “Pelajaran Berharga Saat Memaketkan Motor

  1. TFS dats …
    btw rekan Aqiel (KHCC) gawe di Pahala Express yg konon bisa paket motor juga ..
    ane mo coba layanan doi September nanti dan tips ente ane catet ..

    once again TFS … keep riding …

  2. ni atas ane bisa aja ya ngomongnya…. :mrgreen: ,makamen dulu selesai kul di smg, mtr bawa dewek ke jakarta, gak percaya ama paket2an gitu, selama mereka2 berpikiran “halah cuman kaya gitu’ dan bukan customer oriented, malas ane……

  3. Untungnya kita bisa petik pengalaman dr bloger lgsg(msh ada untungnya ya :p) mksd sy mgkn klo konsumnen biasa pihak jne ga segini pedulinya n sy yakin sebelumnya jg ada konsumen yg mengalami hal serupa dan tdk dipublikasikan. Mo menambahkan aja, sebelum pengiriman coba cabut cob busi aja supaya ga ada tangan2 iseng yg coba test ride kendaraan.

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s