Susahnya Memeroleh SIM

foto: apex motorcycle training, UK.

foto: apex motorcycle training, UK.

“Susah bang. Gue udah tiga kali nyoba, gagal mulu!” demikian jawaban seorang teman saat ditanya perihal proses mendapatkan surat izin mengemudi untuk sepeda motor, atau lebih dikenal dengan SIM C. Si kawan tersebut melanjutkan, “Tahu-tahu saya udah disuruh ujian aje. Mana kita tahu soalnya kan? Banyak banget pertanyaan-pertanyaan menjebak. Jadinya nilainya jeblok dah! Capek juga ngikutin prosedur yang gak jelas. Belum lagi waktu dan duit yang udah kepake.

Keluhan kawan tersebut tidak bisa dianggap mewakili apa yang terjadi di masyarakat saat ini. Tetapi adalah fakta bahwa sistem perolehan SIM di negara ini memang butuh perbaikan. Sebab, tidak jelas apa yang bakal diuji, siapa pengujinya dan bagaimana mekanisme penentuan lulus atau tidaknya. Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah mendapatkan pelatihan, tiba-tiba saja diuji tentang hal spesifik. Mengemudi motor memang terkesan mudah secara teknis, tetapi ketika bicara soal legalisasi, maka ada standar yang berlaku. Disinilah letak permasalahannya, apakah para pemohon SIM C yang mayoritas otodidak itu bisa memahami standar apa yang berlaku?

Di Indonesia sistemnya memang sudah “jelas”. Siapapun yang ingin memperoleh SIM harus datang ke kantor Polisi/Samsat (sistem administrasi satu atap) terdekat. Lalu mengisi formulir dan selanjutnya bersiap untuk mengikuti ujian. Baik melalui simulasi, maupun praktek. Loh, kok langsung ujian? Nah, memang sudah begitu kebiasannya.

Meminjam istilah Jaya Suprana, disinilah letak kelirumologi-nya. Bagaimana mungkin seseorang bisa lulus ujian tanpa persiapan? Kecuali mengandalkan sistem keberuntungan, dimana sayangnya tidak semua orang bisa beruntung? Bagi penulis sendiri, sistem perolehan SIM saat ini, analoginya sama seperti seorang anak yang baru saja memulai hari pertamanya di sekolah menengah pertama, langsung mengikuti ujian Fisika. Nah loh, belajar subyeknya saja belum, kok langsung disuruh ujian? Ajaib. Pantes susah.

Di Inggris, Justru Lebih Repot dan Rumit
Jika kita melakukan komparasi, di Negara United Kingdom (UK) alias Inggris, berdasarkan websitenya https://www.gov.uk/browse/driving/driving-licences , maka ada beberapa proses. Salah satunya adalah keharusan melakukan CBT (Compulsary Basic Training). CBT adalah sebuah pelatihan untuk melihat sejauh mana seorang calon pengendara motor bisa menyerap teori berkendara yang baik dan aman dalam lingkup praktek. Nah CBT ini dijalankan oleh ATB alias Approved Training Body, yaitu lembaga pelatihan yang sudah tersertifikasi dan berhak mengadakan CBT. Sederhananya, siapapun yang ingin mendapatkan SIM, wajib mengikuti pelatihan CBT terlebih dahulu. Setelah itu, diuji dan diberikan tahapan izin mengemudi sesuai dengan kapasitas motornya. Nah perbedaannya, di UK, setiap kapasitas mesin mempunyai SIM tersendiri. Jadi tidak seperti di Indonesia, dimana SIM C bisa untuk pengguna skutik 110cc sampai Moge 1200cc. Silahkan liat skema di bawah ini.

Proses Mendapatkan SIM untuk moped 50cc.

Proses Mendapatkan SIM untuk moped 50cc.

Eits, jangan terkecoh, itu untuk motor dengan kapasitas mesin 50cc atau dibawahnya. Nah kalau mau naik kelas ke 250cc dan sejenisnya, harus mengajukan SIM lagi. Dan bagi mereka yang berumur di bawah 21 tahun belum boleh pakai moge. Monggo dilihat lagi skemanya. 😀

DSA Level 125cc

Proses Untuk Mendapatkan SIM Motor 125cc (klik untuk memerbesar).

Jika dilihat dari skemanya, mungkin agak ribet. Jika tinggal di UK, dan mau mendapatkan sim untuk level motor dengan cc besar, yah bisa 2-3 kali “naik kelas” SIM. Jadi wajar kalau ada yang kena tilang, dan SIM-nya ditahan, bakal mumet. Susah coyyy dapetnya! Tetapi suka atau tidak, dimana kecelakaan sepeda motor cenderung fatal, maka pelatihan seperti ini wajib diikuti dan tidak mungkin dihindarkan. Jika sudah mengikut pelatihan masih gagal juga, besar kemungkinan belum siap untuk mengendarai motor tanpa membahayakan pengguna jalan lain.

Kesimpulannya, baik di UK ataupun di Indonesia membuat SIM sama-sama susah. Tapi di UK memang susah beneran untuk mendapatkan SIM. Namun dengan berbagai tahapan yang transparan dan rapi jali kalo kata orang Bekasi bilang. Semuanya jelas dan terstruktur. Nah pertanyaannya, mungkinkah diterapkan di Indonesia? :mrgreen:

6 comments on “Susahnya Memeroleh SIM

Tinggalkan Balasan & Jangan Tampilkan Link Lebih Dari 1.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s